Oleh: Drs.H.M Khudri M Pd. *)
PADANG, KalibrasiNews.com – Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal tidak semestinya hanya menjadi agenda tahunan.
Momentum tersebut membawa pesan tentang perubahan besar yang dibangun melalui keteladanan, ilmu, kepedulian, dan akhlak.
Nilai-nilai yang diwariskan Nabi Muhammad SAW masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat.
Kehadiran Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat Arab yang kala itu dipenuhi berbagai persoalan membawa perubahan melalui keteladanan akhlak.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup disampaikan lewat nasihat dan hafalan.
Nilai yang diajarkan Nabi justru akan lebih kuat ketika terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Alqur’an menyebut Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik.
Sebelum mengajarkan kejujuran kepada umatnya, Nabi Muhammad SAW telah dikenal sebagai Al-Amin.
Ketika mengajarkan kesabaran, Nabi sendiri menghadapi cemoohan, penolakan, dan berbagai ujian.
Dari sana terlihat bahwa pendidikan yang kuat selalu dimulai dari contoh nyata.
Keteladanan dan Pemberdayaan dalam Pendidikan
Salah satu nilai penting yang diwariskan Nabi Muhammad SAW adalah bagaimana memperlakukan manusia secara bermartabat.
Setiap orang diberikan kesempatan untuk mengambil peran sesuai kemampuan dan potensinya.
Pedagang, petani, perempuan, anak-anak hingga orang yang sebelumnya berstatus sebagai budak mendapatkan ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Prinsip tersebut juga relevan diterapkan dalam dunia pendidikan Sumatera Barat.
Sekolah tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan kepala sekolah atau guru.
Tenaga administrasi, pustakawan, laboran, penjaga sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang baik.
Dalam konteks itu, Dewan Pendidikan Sumbar memiliki posisi strategis sebagai penghubung berbagai unsur pendidikan.
Lembaga tersebut dapat menjadi jembatan antara pemerintah, sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, ninik mamak, alim ulama hingga dunia usaha.
Namun, jembatan tersebut hanya akan kuat apabila dibangun dengan kepercayaan dan akhlak, sebagaimana nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam membangun kehidupan masyarakat.
Anggota Dewan Pendidikan juga perlu menunjukkan keteladanan dalam menjalankan perannya.
Ketika pengawasan terhadap pengelolaan dana pendidikan dilakukan secara transparan, praktik pungutan liar ditolak, dan kepentingan kesejahteraan guru diperjuangkan, nilai akhlak tidak lagi berhenti sebagai teori.
Sekolah akan lebih mudah membangun budaya kejujuran ketika para pengawas dan pemangku kepentingannya terlebih dahulu memberikan contoh.
Pemberdayaan juga perlu diperluas kepada seluruh unsur pendidikan.
Tenaga administrasi, pustakawan, laboran, penjaga sekolah, dan berbagai tenaga pendukung lainnya merupakan bagian penting dari pelayanan pendidikan.
Mereka perlu mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan, meningkatkan kemampuan, serta memperoleh penghargaan atas kontribusinya.
Masyarakat juga dapat dilibatkan lebih jauh. Nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah dapat menjadi bagian dari penguatan karakter peserta didik.
Bundo Kanduang dapat mengambil peran dalam pendidikan karakter, pemuda dapat menjadi penggerak literasi digital, sementara pelaku UMKM dapat dilibatkan dalam pembelajaran kewirausahaan.
Semangat pemberdayaan seperti itu sejalan dengan cara Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dengan melibatkan berbagai kelompok dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkontribusi.
Menghidupkan Iqra dan Musyawarah
Pesan mengenai pentingnya ilmu juga sangat kuat dalam sejarah Nabi Muhammad SAW. Wahyu pertama yang diterima beliau diawali dengan perintah Iqra’ atau membaca.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari budaya membaca, belajar, dan mencari pengetahuan.
Dunia pendidikan Sumbar dapat menerjemahkan semangat tersebut melalui berbagai gerakan literasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Rumah baca di surau, pojok literasi di ruang publik, hingga forum diskusi pendidikan di tingkat nagari dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan bertukar gagasan.
Nabi Muhammad SAW juga memberikan contoh pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan.
Pendapat para sahabat dan masyarakat didengarkan sebelum sebuah keputusan ditetapkan.
Semangat dialog tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan pendidikan agar kebijakan tidak hanya lahir dari satu pihak.
Dewan Pendidikan dapat mengambil peran sebagai ruang untuk mendengar berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan.
Keluhan guru honorer, keresahan orang tua, hingga aspirasi siswa perlu mendapatkan tempat dalam pembahasan.
Dengan komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan pendidikan dapat dicari jalan keluarnya secara bersama.
Peringatan Maulid pada akhirnya tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial.
Ceramah dan berbagai kegiatan peringatan memang penting, tetapi nilai yang terkandung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Jika momentum tersebut mampu melahirkan gerakan penguatan karakter, literasi, dan pemberdayaan pendidikan, maka pesan Maulid akan memberikan dampak yang lebih panjang.
Misalnya, setiap sekolah dapat memiliki program penguatan karakter berbasis sirah Nabi Muhammad SAW.
Setiap nagari dapat mengembangkan rumah baca, sementara tenaga kependidikan memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan kepemimpinan dan peningkatan kapasitas.
Gerakan semacam itu dapat menjadi bentuk nyata bagaimana nilai keteladanan Nabi diterapkan dalam kehidupan pendidikan Sumatera Barat.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas atau tingginya capaian akademik.
Kekuatan akhlak tetap menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Nilai tersebut perlu dihidupkan bersama, mulai dari ruang kebijakan hingga ruang kelas di berbagai daerah Sumbar.
Warisan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kisah yang dikenang setiap Maulid. Ia merupakan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana pendidikan dikelola dan bagaimana generasi muda dibentuk.
Karena itu, energi kelahiran Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi penggerak untuk menghadirkan pendidikan Sumbar yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak.
*) Anggota Dewan Pendidikan Sumbar



