PADANG, KalibrasiNews.com – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., hadir sebagai pemateri dalam kuliah umum di Aula Gedung J, Kampus III Sungai Bangek, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) Padang, Sumatera Barat, Kamis (3/9/2026).
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Nalar Kritis dan Kesadaran Geokultural untuk Merawat Politik Kebangsaan”.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB itu diikuti mahasiswa yang memenuhi ruangan aula.
Agenda tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UIN Imam Bonjol Padang dan Lemhannas RI.
Dalam pemaparannya, Ace Hasan Syadzily membahas perubahan kehidupan masyarakat yang berlangsung cepat di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan terhadap kemampuan manusia dalam berpikir secara kritis.
Rektor UIN IB Tekankan Kesadaran Geokultural

Kedatangan Gubernur Lemhannas RI, Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd.
Sebelum materi utama disampaikan Gubernur Lemhannas RI, Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kesadaran geokultural dalam menjaga kehidupan kebangsaan.
Martin menyebut kesadaran geokultural sebagai penawar bagi dua persoalan yang dinilai dapat mengancam politik kebangsaan Indonesia, yakni ekstremisme yang memisahkan agama dari akar budaya serta pragmatisme yang menjauhkan kebijakan dari realitas sosial.
“Kebangsaan yang tidak berakar pada budaya akan berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, budaya yang tidak dirawat oleh nalar kritis akan berhenti sebagai museum,” kata Martin.
Ia menilai tema kuliah umum tersebut sangat relevan untuk membaca perubahan zaman.
Pilihan kata “merawat” dalam tema kegiatan juga mendapat apresiasi karena menurutnya, menjaga politik kebangsaan membutuhkan proses yang panjang, konsisten dan tidak sekadar dilakukan dalam kegiatan seremonial.
“Kami mencatat pilihan diksi dalam tema ini dengan penuh apresiasi, bukan membangun, bukan mempertahankan, tetapi merawat. Merawat adalah pekerjaan yang tekun, sabar, tidak seremonial, dan tidak pernah selesai,” tambahnya.
Menurut Martin, persoalan dalam kehidupan kebangsaan dapat muncul secara perlahan ketika kepercayaan publik semakin berkurang.
Perbedaan pilihan politik dapat berubah menjadi permusuhan, sementara identitas keagamaan berisiko dijadikan alat kepentingan politik.
Kondisi tersebut diperparah apabila ruang publik kehilangan budaya untuk mendengar dan menghargai perbedaan.
Karena itu, ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas kehidupan kebangsaan.
Kampus UIN Imam Bonjol Padang diharapkan menjadi tempat tumbuhnya pemikiran yang bertanggung jawab, menjaga bahasa publik tetap beradab, sekaligus memberikan perspektif ilmiah yang dapat membantu pengambil kebijakan.
Gubernur Lemhannas Soroti Ancaman Ketergantungan Digital

Foto bersama setelah kuliah umum.
Ace Hasan Syadzily kemudian menyoroti perubahan pola berpikir generasi muda di tengah perkembangan teknologi informasi.
Ia mengatakan kemudahan yang diberikan teknologi digital berpotensi membuat manusia terlalu bergantung pada perangkat dan informasi yang tersedia secara cepat.
“Hampir sebagian besar manusia sekarang, menjadi sangat tergantung terhadap teknologi digital yang memang sangat memudahkan dengan kemajuan teknologi informasi. Namun demikian di situ ada ancaman yang serius terhadap pembentukan karakter kebangsaan kita yaitu bahwa kita menjadi tergantung terhadap teknologi,” katanya.
Menurut Ace, ketergantungan tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam melakukan analisis secara mandiri.
Informasi yang tersedia dengan cepat tidak selalu disertai proses pemeriksaan yang memadai sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menilai sumber dan kebenaran informasi sebelum mempercayainya.
Ia menekankan pentingnya rujukan akademik yang bersumber dari penelitian dan proses intelektual.
Kemampuan berpikir kritis, menurutnya, perlu terus dilatih agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan.
“Rujukan akademik didasarkan kepada referensi ilmiah yang berbasis pada penjelajahan intelektual akademik, berdasarkan pada penelitian yang bisa membangun karakter kepemimpinan. Nah tadi saya sampaikan, bahwa kita penting untuk terus membangun nalar kritis. Salah satu caranya, dengan menguji secara terus-menerus fakta, dari semua informasi yang didapat,” ujarnya.
Ace juga mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di ruang digital membuat kemampuan verifikasi semakin penting.
Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, terutama apabila informasi tersebut berkaitan dengan kepentingan publik dan kehidupan kebangsaan.
Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan mengenai nalar kritis yang disampaikan Rektor UIN Imam Bonjol Padang.
Tradisi keilmuan Islam, menurut Martin, memiliki warisan metodologis yang menempatkan proses verifikasi dan kehati-hatian sebagai bagian penting dalam mencari kebenaran.
“Tradisi ijtihad, disiplin, tabayyun, kecermatan jarh wa ta’dil dalam ilmu hadis, hingga maqashid asy-syari’ah sebagai kerangka penalaran hukum, semuanya adalah bangunan metodologis yang menempatkan verifikasi di atas prasangka. Hari ini, warisan itu sedang diuji dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya.
Melalui kuliah umum tersebut, UIN Imam Bonjol Padang dan Lemhannas RI menekankan pentingnya membangun generasi yang mampu menggunakan teknologi secara bijak sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir mandiri.
Nalar kritis diharapkan tidak hanya menjadi kemampuan akademik, tetapi juga menjadi bekal mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi dan dinamika kehidupan kebangsaan. (*)



