Layanan Kesehatan 3T Diperkuat, 25 Prodi Dokter Spesialis Dibuka

PADANG, KalibrasiNews.com – Pemerintah Republik Indonesia terus mendorong pemerataan pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah keterbatasan jumlah dokter spesialis yang belum tersebar secara merata di berbagai wilayah.

Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) disebutkan bahwa pemerintah memperluas akses pendidikan dokter spesialis melalui pembukaan 25 program studi (prodi) baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit atau hospital-based.

Pemerintah telah menerbitkan izin operasional bagi 25 prodi baru PPDS berbasis Rumah Sakit Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU).

Program kesehatan tersebut menjadi salah satu langkah afirmasi bagi dokter, termasuk putra-putri daerah, agar dapat meningkatkan kompetensi sekaligus memenuhi kebutuhan dokter spesialis di wilayah prioritas.

Penyelenggaraan PPDS RSPPU diarahkan untuk membantu mengurangi kesenjangan kebutuhan dokter spesialis yang saat ini masih mencapai sekitar 65.000 orang di Indonesia.

Selain menambah jumlah tenaga spesialis, program tersebut juga ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialistik hingga wilayah pelosok.

25 Prodi Baru PPDS RSPPU

PPDS RSPPU merupakan pendidikan dokter spesialis yang diselenggarakan langsung di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama antara rumah sakit pendidikan dengan perguruan tinggi sehingga standar pendidikan serta kompetensi lulusan tetap dapat dijaga.

Program tersebut telah berjalan sejak 2024 dan sebelumnya diselenggarakan di enam rumah sakit.

Dengan penambahan 25 prodi baru pada tahap pertama 2026, total PPDS RSPPU kini menjadi 31 program studi.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pembukaan program studi baru tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah.

Pada tahap pertama 2026, terdapat 25 prodi yang mendapatkan izin penyelenggaraan.

Jumlah tersebut terdiri dari 11 prodi spesialis dasar serta 14 prodi dalam rumpun Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi (KJSU).

Perluasan pendidikan tersebut tidak berhenti pada tahap pertama. Pemerintah juga mendorong penambahan program studi pada tahap berikutnya hingga akhir 2026.

“Pada tahap kedua tahun 2026, sebanyak 30 program studi spesialis juga akan didorong memperoleh izin penyelenggaraan pada Oktober 2026, terdiri atas 13 Prodi Spesialis Dasar dan 17 Prodi Spesialis KJSU,” kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, ditulis Selasa (1/9/2026) pekan kemarin.

Pemerintah juga menyiapkan skema pembiayaan yang lebih terjangkau agar kesempatan mengikuti pendidikan dokter spesialis dapat semakin terbuka.

Kontribusi biaya penyelenggaraan PPDS, baik untuk program yang telah berjalan maupun yang baru dibuka, diterapkan secara resiprokal antara rumah sakit pendidikan dan perguruan tinggi.

Baca Juga  Kemenkes Perluas Layanan Tes HIV, Dorong Deteksi Dini dan Pengobatan Cepat

Daftar Rumah Sakit dan Program Studi

Sebanyak 25 prodi baru PPDS RSPPU tersebut bermitra dengan sembilan perguruan tinggi negeri, yaitu:

  1. Universitas Airlangga (UNAIR)
  2. Universitas Padjadjaran (UNPAD)
  3. Universitas Sebelas Maret (UNS
  4. Universitas Diponegoro (UNDIP)
  5. Universitas Hasanuddin (UNHAS)
  6. Universitas Sumatera Utara (USU)
  7. Universitas Udayana (UNUD)
  8. Universitas Brawijaya (UB)
  9. Universitas Indonesia (UI)

Untuk kelompok spesialis dasar, Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif dibuka di RSUP Fatmawati, RS Ortopedi Prof. dr. Soeharso Surakarta, serta RSU Hermina Depok.

Program Studi Obstetri dan Ginekologi tersedia di RSAB Harapan Kita dan RSIA Bunda Jakarta.

Program Studi Radiologi juga dibuka di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado, RSUP Persahabatan, serta RSUP Dr. M. Djamil.

Sementara Program Studi Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Kesehatan Anak diselenggarakan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.

Adapun Program Studi Ilmu Bedah dibuka di RSUD dr. Iskak Tulungagung.

Pembukaan berbagai program tersebut menjadi bagian dari penguatan kapasitas pendidikan spesialis di rumah sakit yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Untuk rumpun KJSU dan spesialis unggulan, Program Studi Bedah Saraf tersedia di RS Pusat Otak Nasional dan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo.

Program Studi Bedah Thorax Kardiovaskuler dibuka di RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Saiful Anwar.

Program Studi Urologi diselenggarakan di RSUD Dr. Moewardi serta RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah.

Sementara Program Studi Jantung dan Pembuluh Darah tersedia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin, RSU Murni Teguh, dan RSUD dr. Soedarso.

Ekspansi juga mencakup Program Studi Kedokteran Nuklir di RSUP Dr. Kariadi.

Program Studi Spesialis Kesehatan Mata dibuka di Jakarta Eye Centre (JEC) Kedoya dan RSU Murni Teguh Memorial Hospital.

Selanjutnya, Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi dibuka di RSD dr. Soebandi, RSPAD Gatot Soebroto, serta RS Islam Jakarta Cempaka Putih.

Perluasan PPDS RSPPU diharapkan dapat membuka jalur pendidikan spesialis yang lebih luas sekaligus memperkuat ketersediaan dokter spesialis di berbagai daerah.

Pemerintah juga menempatkan keberpihakan terhadap putra-putri daerah sebagai bagian penting dari skema tersebut, termasuk melalui perencanaan penempatan kerja setelah pendidikan selesai.

Dengan pola tersebut, lulusan diharapkan dapat mengisi kebutuhan tenaga dokter spesialis di wilayah prioritas sesuai perencanaan nasional.

Seleksi peserta didik untuk 25 program studi baru PPDS RSPPU dijadwalkan diluncurkan pada Kamis, 3 September 2026.

(rel/KalibrasiNews.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini