JAKARTA, KalibrasiNews.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat komitmennya dalam mengoptimalkan potensi komoditas perikanan nasional melalui pengembangan sektor budi daya yang modern, produktif, dan berdaya saing, termasuk menghadirkan Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi, disebutkan bahwa salah satu langkah strategis yang menjadi prioritas adalah pengembangan Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah, sebagai model percontohan budi daya udang modern terbesar di Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ayu Rahmawati, menyampaikan bahwa BUBK Kebumen merupakan program unggulan KKP yang dirancang untuk meningkatkan produksi udang nasional secara signifikan dan berkelanjutan.
“Indonesia memiliki tambak udang terbesar yang berlokasi di Kebumen. BUBK Kebumen ini menjadi salah satu program unggulan KKP untuk mendorong produksi udang nasional, mengingat udang merupakan salah satu komoditas ekspor perikanan terbesar dan andalan Indonesia di pasar global,” ujar Ayu Rahmawati.
Lahan yang digunakan untuk BUBK Kebumen sebelumnya merupakan area tambak yang sudah tidak produktif.
KKP kemudian melakukan pengembangan dengan membangun kawasan budi daya modern di atas lahan seluas 100 hektare.
Saat ini, BUBK Kebumen telah mengoperasikan 24 hektare kolam efektif yang terdiri dari 139 petak produksi.
Pengelolaan kawasan tambak tersebut dilakukan dengan menerapkan sistem budidaya yang terintegrasi sehingga setiap tahapan produksi dapat dipantau secara optimal.
Penerapan teknologi dan pengawasan kualitas air menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas tambak sekaligus menekan risiko serangan penyakit pada udang.
Melalui sistem yang lebih modern, hasil produksi diharapkan memiliki kualitas yang mampu memenuhi standar pasar ekspor.
Model pengelolaan seperti ini juga diproyeksikan menjadi acuan dalam pengembangan kawasan budidaya udang di berbagai daerah lainnya.
Dengan demikian, produktivitas dan daya saing sektor perikanan nasional dapat terus meningkat secara berkelanjutan.
Pengembangan tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara produsen udang dunia.
Panen Berlanjut, Siklus Ke-9 Dimulai
Pada panen kedua siklus ke-8, pemanenan dilakukan di 37 petak dengan total produksi sekitar 75 ton.
Selanjutnya, panen tahap akhir berlangsung pada akhir Juli 2026.
Sebanyak 70 petak dipanen dengan estimasi produksi mencapai 90 ton.
Dengan demikian, total produksi udang pada siklus ke-8 diperkirakan mencapai sekitar 254,5 ton.
Capaian produksi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan budidaya berbasis klaster mampu memberikan hasil yang menjanjikan dalam mendukung target peningkatan produksi nasional.
Evaluasi terhadap setiap siklus panen juga menjadi dasar bagi pengelola untuk terus menyempurnakan pola budidaya agar produktivitas tetap terjaga.
Selain mengejar peningkatan kuantitas, kualitas hasil panen juga menjadi perhatian utama agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Keberhasilan setiap siklus produksi menjadi modal penting dalam memperluas pengembangan kawasan serupa di masa mendatang.
Dengan begitu, kontribusi sektor budidaya terhadap perekonomian nasional akan semakin besar.
Selain berkontribusi terhadap peningkatan produksi udang nasional, BUBK Kebumen telah menyerap 645 tenaga kerja lokal dari desa-desa sekitar.
Jumlah tersebut terdiri atas 145 tenaga kerja tetap dan 500 tenaga kerja harian lepas.
Operasional kawasan tambak juga memberikan dampak ekonomi berganda bagi masyarakat, antara lain melalui tumbuhnya warung makan, toko kebutuhan sehari-hari, usaha penyedia sarana produksi tambak, jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar kawasan.
Operasional kawasan tambak juga memberikan dampak ekonomi berganda bagi masyarakat, antara lain melalui tumbuhnya warung makan, toko kebutuhan sehari-hari, usaha penyedia sarana produksi tambak, jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar kawasan.
Kehadiran kawasan budi daya ini turut membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM serta meningkatkan aktivitas perekonomian di desa-desa sekitar.
Ke depan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berharap pengembangan BUBK Kebumen tidak hanya mampu meningkatkan produksi udang nasional, tetapi juga menjadi model budi daya modern yang dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, kawasan ini diharapkan terus berkembang sebagai pusat produksi udang berkualitas ekspor yang berdaya saing tinggi.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, BUBK Kebumen diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas, memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mendukung pertumbuhan sektor perikanan nasional dalam jangka panjang.
(/kalibrasinews.com)



