77 Tahun Berlalu Chatib Sulaiman Gugur Layak Jadi Pahlawan Nasional

Padang, KalibrasiNews.com – Insiden gugurnya para pejuang Indonesia yang peristiwa pada Kamis 15 Januari 1949, hingga kini diperingati warga Situjuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat atau Sumbar.

Peristiwa bersejarah itu dikenang sebagai momentum perjuangan rakyat melawan penjajahan, di mana gugurnya para pejuang Indonesia menjadi simbol pengorbanan besar demi mempertahankan kedaulatan bangsa dan keutuhan wilayah Republik Indonesia.

Tragedi tersebut meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, karena gugurnya para pejuang Indonesia tidak hanya menandai perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga menjadi simbol pengorbanan yang diwariskan lintas generasi.

Sebagaimana diketahui peringatan hari bersejarah itu ditandai upacara di lapangan Nagari Situjuh yang secara rutin setiap tahun pada 15 Januari tersebut. Utamanya, bagi masyarakat Situjuh Limo Nagari bahwa Peristiwa Situjuah, senantiasa diperingati secara khidmat dalam spirit menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berdasar catatan Sejarah Peristiwa Situjuh diketahui serangan pasukan Belanda terhadap para-pejuang  kamardekaan Indonesia di Situjuh Batua tepatnya pada 15 Januari 1949. Pada saat itu, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) menyusul pemimpin pemerintah pusat bahkan Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta ditangkap lalu diasingkan ke Pulau Bangka.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumbar, Prof Dr Sudarman mengulas dalam kajadian 15 Januari 1949 itu, “para pejuang yang dipimpin dek Chatib Soelaiman sadang mengadakan rapat”. Menurutnya, rapat tersebut untuk menyusun strategi guna menghadapi Belanda. Secara mendadak para pejuang kemudian diserang oleh Belanda.

Sebelum insiden imbuhnya rapat yang semula digelar secara rahasia namun tercium oleh Belanda karena diperkirakan ada pengkhianat di antara sesama pribumi sehingga ada yang membocorkan ka pihak Belanda.

Berselang kemudian, serangan kilat mendadak mengakibatkan gugurnya para pejuang Indonesia, termasuk Chatib Sulaiman serta Bupati Arisun Sutan Alamsyah, Letkol Munir Latief, Kapten Tantawi.

(Foto : Wikipedia)
Makam Pahlawan PDRI

Peristiwa tersebut menjadi catatan kelam dalam sejarah perjuangan di daerah itu, karena gugurnya para tokoh penting tidak hanya melemahkan struktur kepemimpinan perlawanan, tetapi juga meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat yang menyaksikan langsung pengorbanan para pejuang bangsa.

Dari penuturan masyarakat yang lolos dari gempuran Belanda dan mereka yang selamat bahwa para pemimpin dan pejuang itu disergap oleh pasukan Belanda. Catatan peristiwa itu juga diperkuat oleh narasi dari beberapa buku-buku sejarah.

Karenanya, Akademisi Sejarawan Unand Wannofri Samry berpendapat bahwa almarhum Chatib Sulaiman layak menjadi sebagai Pahlawan Nasional.

“MSI Cabang Sumbar sendiri telah mendorong pemerintah pusat untuk menetapkan Chatib Sulaiman sabagai Pahlawan Nasional,” kata mantan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumbar kepada KalibrasiNews.com di Padang baru-baru ini.

Sejauh ini lanjut, Wannofri Samry bahwa nama Chatib Sulaiman menjadi ikonik untuk dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional. Utamanya, nama Chatib Sulaiman lah diabadikan manjadi nama jalan di beberapa kota, serta lapangan di Padang Panjang tamasuk nam lapangan di Jorong Tangah Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota juga dinamai Chatib Sulaiman sekaligus wujud penghormatan atas pengorbanannya yang gugur sebagai pejuang.

Dilansir dari media Gonjong.id ungkapan terimakasiharimokasih masyarakat Situjuh datang dari putra almarhum yakni Sudarman Chatib, yang berasal dari Nagari Sumpun Tanah Datar serta menetap di Padang Panjang.

Pada momentum upacara peringatan kemarin, Pemprov Sumbar diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Sosial Ahmad Zakri, Bupati Lima Puluh Kota Safni Sikumbang, Wakil Bupati Limapuluh Kota Ahlul Badrito Resha, Forkompimda, Wakil Walikota Payakumbuah dan perwakilan dari babagai Kabupaten/Kota se Sumatera Barat. Tampak hadir juga para pengurus Dewan Harian Angkatan 45 dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Tampil sebagai Inspektur Upacara (Irup) untuk upacara Peringatan Peristiwa Situjuh ke-77, Bupati Lima Puluh Kota Safni Sikumbang yang mengingatkan kembali akan perlu mandalami makna sejarah atas peristiwa tersebut. Yakni dalam usaha mampertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dalam gempuran agresi militer Belanda.

Bupati Safni, menambahkan Peristiwa Situjuah yang telah 77 tahun berlalu hendaknya bukan sekadar diperingati sebagai bagian dari sejarah lokal. Tetapi jadi momentum penting atas peristiwa dari mata rantai sejahar kemerdekaan Indonesia.(/emil)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini