PADANG PARIAMAN, Kalibrasinews.com – Hamparan sawah di Korong Balah Aia, Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, menjadi tempat berlangsungnya panen perdana padi agroekologi yang dikembangkan petani Basis Serikat Petani Indonesia (SPI) Sakayan Jauah, Minggu (16/8/2026).
Panen tersebut menjadi bagian dari upaya petani setempat mengembangkan pola pertanian yang lebih mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia pabrikan.
Padi yang dipanen sebelumnya ditanam pada 30 April 2026, bertepatan dengan deklarasi Kawasan Daulat Pangan (KDP).
Rilis yang diterima redaksi KalibrasiNews.com pada Senin (17/8/2026) menyebutkan, proses budidaya dilakukan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Petani menggunakan pupuk organik yang dibuat secara mandiri, seperti bokashi dan pupuk organik cair (POC).
Dari hasil pengamatan sejumlah sampel tanaman, pertumbuhan padi menunjukkan perkembangan cukup menjanjikan.
Rata-rata setiap rumpun menghasilkan 33 batang padi, dengan jumlah terendah 17 batang dan tertinggi mencapai 45 batang dalam satu rumpun.
Agroekologi Jadi Pilihan Petani
Ketua DPW SPI Sumatera Barat Rustam Effendy mengatakan penerapan sistem agroekologi menjadi salah satu langkah petani untuk membangun kemandirian dalam mengelola pertanian.
“Implementasi agroekologi adalah salah satu wujud kemerdekaan petani dari ketergantungan terhadap sistem agribisnis yang menghisap dan memperbodoh kaum tani. Tujuannya adalah menjadikan petani lebih berdaulat dan mewujudkan pertanian yang rahmatan lil alamin,” kata Rustam.
Menurutnya, pembangunan Kawasan Daulat Pangan tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi.
Gerakan tersebut juga diarahkan untuk mengembalikan kemampuan petani dalam menguasai berbagai aspek penting dalam kegiatan pertanian.
Melalui sistem agroekologi, petani didorong memahami kembali pengelolaan tanah, produksi benih, hingga pembuatan pupuk.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat dikembangkan bersama sehingga ketergantungan terhadap input dari luar dapat dikurangi secara bertahap.
Dukungan terhadap langkah tersebut juga datang dari unsur pemerintahan Nagari Anduriang.
Anggota Bamus Nagari Anduriang, Atmadelis, menilai pola agroekologi memiliki peluang dikembangkan lebih luas karena berkaitan dengan lingkungan sekaligus dapat membantu menekan biaya produksi.
“Kami sangat mendukung penerapan agroekologi melalui penggunaan pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Ini memang masih tahap awal sehingga membutuhkan proses penyesuaian dengan kondisi tanah. Namun, jika terus dilanjutkan, hasilnya diyakini akan semakin baik,” ujarnya.
Atmadelis menyebut penerapan sistem tersebut masih membutuhkan waktu untuk mendapatkan hasil maksimal.
Kondisi tanah dan tanaman perlu terus diamati agar petani dapat menemukan pola yang paling sesuai dengan kondisi lahan setempat.
“Ini bisa menjadi kebijakan yang didorong di tingkat nagari. Selain mampu mengurangi biaya pertanian, sistem ini juga sejalan dengan kesadaran masyarakat dan nilai-nilai adat yang berkembang di tengah masyarakat,” katanya.
Hasil Panen Jadi Bahan Evaluasi
Atmadelis juga menyampaikan adanya perubahan pada kondisi lahan setelah petani menggunakan bahan-bahan organik.
Salah satu perubahan yang dirasakan adalah berkurangnya tingkat keasaman tanah.
Menurutnya, peralihan dari pola pertanian konvensional menuju agroekologi tidak bisa dilakukan secara instan.
Petani perlu melewati tahapan penyesuaian sambil melihat perkembangan tanah dan tanaman dari waktu ke waktu.
“Peralihan ini memang membutuhkan proses. Hasil panen hari ini menjadi bahan pembelajaran sekaligus materi sosialisasi bagi masyarakat,” tambahnya.
Ketua Basis SPI Sakayan Jauah, Agusnaini, mengakui hasil panen perdana tersebut belum menunjukkan perbedaan terlalu jauh dibandingkan pertanian konvensional.
“Untuk hasil panen saat ini tidak jauh berbeda dengan metode konvensional. Namun, kami optimistis produksi ke depan akan lebih baik karena saat ini kami masih berada pada fase transisi menuju pertanian agroekologi yang bebas dari input kimia pabrikan,” ujarnya.
Basis SPI Sakayan Jauah berencana memperluas penerapan pertanian agroekologi secara bertahap.
Potensi lahan sawah yang dapat dikembangkan diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.
Panen perdana ini menjadi salah satu tahapan menuju panen raya Kawasan Daulat Pangan di Nagari Anduriang.
Gerakan tersebut diharapkan tidak sekadar menghasilkan produksi padi, tetapi juga mendorong lahirnya pola pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Bagi petani Sakayan Jauah, proses tersebut masih panjang.
Namun, langkah awal sudah dimulai melalui pengelolaan lahan, penggunaan pupuk organik, serta upaya membangun kembali pengetahuan pertanian di tingkat petani.
Jika pengembangan agroekologi dilakukan secara konsisten, kawasan tersebut berpeluang menjadi contoh bagaimana masyarakat nagari mengembangkan pertanian dengan memanfaatkan potensi lokal.
Pada akhirnya, kemandirian petani diharapkan ikut memperkuat ketahanan pangan masyarakat di Nagari Anduriang.
(/kalibrasinews.com)



