BALI, KalibrasiNews.com – Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dr. Ir. Novri Nelly, M.P., kembali membawa hasil risetnya ke forum internasional melalui partisipasinya sebagai presenter pada The 7th International Conference on Environmental Engineering (ICOEE) 2026 di Bali.
Dalam siaran pers Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik UNAND yang diterima Redaksi KalibrasiNews.com pada Rabu (5/8/2026) bahwa partisipasi Prof. Novri dalam ICOEE 2026 menjadi wujud komitmen Universitas Andalas atau UNAND.
Utamanya, dalam memperkuat reputasi akademik di tingkat internasional melalui riset yang relevan dengan tantangan global.
Pada kesempatan sama Ia mempresentasikan hasil penelitian berjudul Managing Insecticide Resistance in Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda) to Reduce Environmental Pollution and Enhance Sustainable Maize Production.
Penelitian tersebut mengangkat isu meningkatnya resistensi ulat grayak jagung (Fall Armyworm/FAW) terhadap insektisida, yang kini menjadi tantangan serius dalam mewujudkan sistem produksi jagung yang berkelanjutan.
Menurut Prof. Novri, pengendalian hama pada sektor pertanian saat ini tidak lagi cukup mengandalkan penggunaan insektisida secara terus-menerus.
Diperlukan strategi yang lebih terukur agar efektivitas pengendalian tetap terjaga tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Pendekatan berbasis riset menjadi salah satu kunci dalam menyusun rekomendasi pengendalian yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Dengan demikian, petani dapat menerapkan metode yang lebih efisien sekaligus menjaga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan sistem budidaya jagung yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, temuan ini juga membuka peluang lahirnya inovasi baru dalam pengelolaan hama di masa mendatang.
Melalui paparannya, ia menjelaskan resistensi insektisida tidak lagi sekadar menjadi persoalan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Fenomena tersebut telah berkembang menjadi isu lingkungan karena mendorong peningkatan frekuensi penggunaan insektisida di lapangan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pencemaran lingkungan, mengganggu keseimbangan agroekosistem, serta menurunkan efektivitas pengendalian hama dalam jangka panjang
Penelitian yang dipresentasikan merupakan hasil kajian terhadap populasi Spodoptera frugiperda yang dikoleksi dari tiga sentra produksi jagung di Provinsi Sumatera Barat.
Selain mengukur tingkat resistensi melalui metode laboratory bioassay, tim peneliti juga melakukan survei mengenai pola penggunaan insektisida oleh petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa emamektin benzoat, klorfenapir, dan spinetoram merupakan bahan aktif yang paling banyak digunakan untuk mengendalikan FAW di lapangan.
Penggunaan berulang terhadap bahan aktif yang sama berpotensi meningkatkan tekanan seleksi sehingga mempercepat terbentuknya resistensi pada populasi hama.
Sebagai solusi, Prof. Novri menawarkan pendekatan Insecticide Resistance Management (IRM) yang mengintegrasikan pemantauan resistensi secara berkala, rotasi insektisida berdasarkan mode of action, pemanfaatan musuh alami, pengendalian hayati, serta penerapan Integrated Pest Management (IPM).
Pendekatan tersebut dinilai mampu mempertahankan efektivitas pengendalian FAW sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap insektisida kimia sehingga risiko pencemaran lingkungan dapat ditekan.
Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas jagung secara berkelanjutan, SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan mengurangi risiko paparan pestisida, SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui pengurangan potensi pencemaran sumber daya air, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penggunaan insektisida yang lebih bijaksana, SDG 13 (Climate Action) dengan memperkuat ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan lingkungan, serta SDG 15 (Life on Land) melalui perlindungan keanekaragaman hayati dan konservasi musuh alami.
Partisipasi Prof. Novri dalam ICOEE 2026 menjadi wujud komitmen UNAND dalam memperkuat reputasi akademik di tingkat internasional melalui riset yang relevan dengan tantangan global.
Keikutsertaan Prof. Novri Nelly pada forum ilmiah internasional tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Universitas Andalas dalam menghasilkan riset yang mampu menjawab berbagai tantangan global di sektor pertanian.
Terpisah Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D melalui Kepala Humas Dr Harry Effendi melalui rilisnya, menyebutkan keikutsertaan tersebut sekaligus memperluas jejaring kolaborasi penelitian dengan berbagai institusi dunia serta menegaskan peran UNAND sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan.
Kolaborasi UNAND dengan berbagai institusi internasional pun diharapkan terus berkembang sehingga melahirkan penelitian yang semakin berdampak bagi masyarakat.
(/kalibrasinews.com)



