PADANG, KalibrasiNews.com – Universitas Andalas (Unand) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui keberhasilan tiga akademisinya memperoleh pendanaan Program Hilirisasi – Skema Tim Pakar/Pengkaji Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu gambaran semakin kuatnya kapasitas kepakaran Unand dalam mendukung agenda nasional hilirisasi hasil riset, yaitu mendorong hasil penelitian perguruan tinggi agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat berkembang menjadi teknologi, produk, atau solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional.
Program Kemdiktisaintek tersebut memiliki posisi strategis dalam mempersempit jarak antara hasil penelitian dan pemanfaatannya di dunia nyata.
Dalam panduan Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–Dorongan Teknologi Tahun 2026, Tim Pakar/Pengkaji bertugas melakukan kajian pra-studi kelayakan dan memberikan rekomendasi mengenai kelayakan produk atau teknologi untuk dikembangkan menuju tahap hilirisasi.
Tiga Kepakaran Unand untuk Tiga Persoalan Strategis
Ketiga pakar Unand tersebut akan terlibat dalam tema yang berbeda sesuai dengan kompetensi dan bidang kepakarannya.
Prof. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T., Dr.-Ing. dari Fakultas Teknik akan berkiprah melalui kajian HIREIS (Hybrid Renewable Energy Irrigation System).
Teknologi ini mengangkat pendekatan energi terbarukan untuk sistem irigasi yang memiliki relevansi dengan kebutuhan efisiensi energi dan pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan.
Dr. Prima Fithri, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik akan terlibat dalam kajian bertajuk “Teknologi pengendalian kapang dan risiko mikotoksin berbasis ragi sebagai agen bioprotektif pascapanen rempah prioritas Indonesia.”
Tema tersebut menyentuh persoalan penting dalam rantai pascapanen komoditas rempah.
Pengendalian kapang dan risiko mikotoksin bukan hanya berkaitan dengan kualitas produk pertanian, tetapi juga dengan keamanan pangan, umur simpan, nilai ekonomi, serta peluang peningkatan daya saing komoditas Indonesia.
Prof. Dr. Ir. Novri Nelly, M.P., menjadi satu-satunya penerima dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas di antara tiga nama yang lolos dalam program tersebut.
Prof. Novri Nelly akan terlibat dalam kajian “Hilirisasi paket teknologi umpan dan formula cair nanoenkapsulasi CNSL-Maja berbasis matriks Dioscorea untuk pengendalian OPT kakao.”
Riset tersebut berkaitan dengan pengembangan teknologi pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) kakao dengan pendekatan formulasi dan nanoenkapsulasi.
Jika dikembangkan lebih lanjut, teknologi semacam ini berpotensi mendukung pengendalian hama tanaman yang lebih efektif sekaligus membuka peluang hilirisasi produk pengendali OPT berbasis hasil riset perguruan tinggi.
Dilaksanakan dalam Dua Batch
Berdasarkan informasi yang ada, kegiatan tersebut akan dilaksanakan dalam dua tahapan pendanaan.
Batch 1 dilaksanakan pada 2026, dengan Dr. Prima Fithri sebagai salah satu penerima pendanaan.
Batch 2 dilaksanakan pada 2027, yang mencakup Prof. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata dan Prof. Dr. Ir. Novri Nelly.
Kiprah tiga akademisi Unand tersebut tidak hanya mencerminkan keberhasilan memperoleh pendanaan, tetapi juga menunjukkan keterlibatan Unand dalam ekosistem nasional yang menghubungkan riset, kepakaran, teknologi, industri, dan kebutuhan masyarakat.
Hilirisasi menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan ekosistem riset Indonesia.
Banyak hasil penelitian perguruan tinggi memiliki nilai ilmiah, tetapi membutuhkan tahapan tambahan agar dapat digunakan oleh masyarakat atau diadopsi oleh dunia usaha dan industri.
Kemdiktisaintek melalui program hilirisasi berupaya mempercepat proses tersebut.
Program Hilirisasi Riset 2026 diarahkan untuk mempertemukan hasil inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Pemerintah juga menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari upaya agar produk riset nasional dapat berkembang dari tahap penelitian menuju pemanfaatan dan komersialisasi.
Dalam konteks hilirisasi hasil penelitian, Tim Pakar/Pengkaji memiliki posisi penting.
Mereka bukan sekadar memberikan penilaian terhadap sebuah hasil penelitian, tetapi juga membantu menilai apakah sebuah teknologi sudah siap dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Panduan Kemdiktisaintek 2026 menyebutkan bahwa Tim Pakar harus memiliki struktur multidisiplin dan mampu menganalisis berbagai aspek, mulai dari aspek teknis dan kesiapan teknologi hingga pasar, model bisnis, keuangan, risiko, serta regulasi.
Artinya, keterlibatan dosen Unand dalam skema ini sekaligus memperlihatkan bahwa kepakaran akademisi Unand telah ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu membantu menentukan arah pengembangan inovasi agar dapat memberikan dampak nyata.
Memperkuat Reputasi Universitas Andalas
Keberhasilan tiga akademisi tersebut juga memiliki arti penting bagi Universitas Andalas.
Keterlibatan dosen dari Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian menunjukkan bahwa kekuatan riset Unand tidak berdiri pada satu disiplin ilmu saja.
Teknologi energi terbarukan untuk irigasi, teknologi keamanan pascapanen rempah, serta teknologi pengendalian OPT kakao memperlihatkan spektrum kepakaran yang beragam, tetapi memiliki satu benang merah: bagaimana ilmu pengetahuan dan hasil penelitian dapat ditransformasikan menjadi solusi yang bermanfaat.
Bagi perguruan tinggi, capaian seperti ini bukan hanya persoalan memperoleh pendanaan.
Lebih jauh, keberhasilan tersebut memperkuat posisi Unand sebagai bagian dari ekosistem inovasi nasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi lain, pemerintah, dunia usaha, industri, serta berbagai pemangku kepentingan.
Bagi Unand, keterlibatan Prof. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, Dr. Prima Fithri, dan Prof. Novri Nelly dalam Program Hilirisasi Kemdiktisaintek menjadi bukti bahwa kepakaran dosen dapat berkontribusi tidak hanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam menjawab persoalan nyata bangsa.
Pada akhirnya, hilirisasi riset bukan sekadar memindahkan hasil penelitian dari laboratorium ke industri.
Hilirisasi adalah proses memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi benar-benar menemukan jalan menuju pemanfaatan, nilai tambah, dan dampak bagi masyarakat.(*)



