Anak-anak Masuk Sekolah Pascabencana dan Bersih dari Lumpur

Aceh Tamiang, KalibrasiNews.com – Pascabencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, anggota TNI bersama masyarakat setempat terus bergotong royong membersihkan sejumlah sekolah di Kecamatan Bendahara sebagai bagian dari pemulihan pascabencana.

Upaya pascabencana ini dilakukan untuk memastikan lingkungan sekolah kembali bersih, aman, dan nyaman sehingga anak-anak dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Rilis Badan Komunikasi Pemerintahan Republik Indonesia atau Bakom RI menyebutkan kondisi di SD Negeri Raja, Desa Raja, Kecamatan Bendahara, Minggu (25/1/2026), anggota TNI dan warga bahu-membahu membersihkan lumpur tebal yang sebelumnya menutupi halaman dan area sekolah dalam suasana pascabencana.

Dengan menggunakan alat sederhana seperti cangkul dan sekop, lumpur yang mulai mengeras dikeruk dan dipindahkan ke luar area sekolah sebagai bagian dari upaya pascabencana.

Kini, halaman sekolah yang sebelumnya tertutup endapan lumpur telah bersih dan kembali dapat dimanfaatkan para siswa untuk beraktivitas dan belajar dengan nyaman.

Sementara itu, di SMA Negeri 1 Bendahara, Desa Seuneubok, Kecamatan Bendahara, endapan lumpur padat dengan ketebalan sekitar 50 sentimeter hingga satu meter sempat menutupi halaman sekolah. Anggota TNI bersama para guru dan masyarakat setempat mengeruk lumpur menggunakan cangkul dan sekop.

Selain tenaga manual, satu unit alat berat turut dikerahkan untuk mempercepat proses pembersihan. Lumpur kemudian diangkut menggunakan truk dan dibuang ke luar area sekolah hingga halaman kembali bersih.

Kegiatan serupa juga dilakukan di TPA Nurul Iman, Desa Lubuk Batil, Kecamatan Bendahara. Masyarakat yang dibantu anggota TNI membersihkan lumpur di dalam dan sekitar lingkungan sekolah. Lumpur yang mulai mengering dikeruk dengan sekop dan dipindahkan menggunakan gerobak.

Selain itu, TNI juga membersihkan debu tebal yang menempel di sekitar lingkungan sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan nyaman.

Upaya pembersihan sekolah ini menjadi bagian penting dari proses pemulihan pendidikan di wilayah terdampak. Para guru turut aktif mendampingi siswa yang mulai kembali masuk kelas, sekaligus membantu menata ulang ruang belajar yang sebelumnya dipenuhi lumpur dan debu. Meja, kursi, serta papan tulis dibersihkan agar kegiatan belajar mengajar bisa segera berlangsung secara normal.

Pemerintah daerah bersama dinas pendidikan setempat juga melakukan pendataan terhadap kerusakan fasilitas sekolah. Hasil pendataan tersebut digunakan sebagai dasar perencanaan rehabilitasi lanjutan, termasuk perbaikan ruang kelas, pengadaan perlengkapan belajar, serta pemulihan sarana pendukung lainnya. Langkah ini dilakukan agar seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan kondisi yang lebih layak.

Di sisi lain, pendampingan psikososial turut diberikan kepada anak-anak untuk membantu mereka beradaptasi kembali dengan suasana sekolah pascabencana. Guru dan relawan mengajak siswa melakukan aktivitas ringan dan edukatif agar semangat belajar kembali tumbuh setelah mengalami masa sulit akibat banjir.

Warga sekitar sekolah juga ikut berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan. Mereka secara bergantian membantu membersihkan sisa lumpur di selokan serta area sekitar bangunan, sehingga risiko genangan ulang dapat diminimalkan. Keterlibatan masyarakat ini menjadi bukti kuatnya solidaritas dalam menghadapi dampak bencana.

Selain fokus pada kebersihan, TNI bersama pemerintah setempat terus memantau kondisi bangunan sekolah untuk memastikan keamanan sebelum digunakan secara penuh. Jika ditemukan kerusakan struktural, perbaikan segera dilakukan agar tidak membahayakan siswa dan tenaga pendidik.

Pemerintah juga mulai menyiapkan program pemulihan jangka menengah pascabencana untuk sektor pendidikan di Aceh Tamiang. Tidak hanya perbaikan fisik bangunan, perhatian juga diarahkan pada kesiapan tenaga pengajar serta kebutuhan belajar siswa. Bantuan alat tulis, buku, hingga seragam sekolah secara bertahap disalurkan kepada keluarga yang terdampak.

Para kepala sekolah diminta aktif melaporkan perkembangan kondisi masing-masing satuan pendidikan agar intervensi dapat dilakukan tepat waktu. Koordinasi lintas instansi terus diperkuat supaya proses rehabilitasi berjalan selaras dengan kalender pendidikan yang telah disesuaikan.

Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan aktivitas belajar dapat kembali berlangsung stabil. Sekolah menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk memulihkan rutinitas sekaligus membangun kembali semangat setelah melewati masa sulit akibat bencana.

Melalui kerja sama dan semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat, sekolah-sekolah yang terdampak banjir di Aceh Tamiang kini berangsur pulih. Anak-anak pun dapat kembali bersekolah di lingkungan yang lebih bersih, aman, dan layak untuk belajar.(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini