Oleh Dr. Dede Pramayoza *)
PADANG PANJANG, KalibrasiNews.com – Tatang R. Macan (Tatang Rusmana) dalam tahun ini, kembali membawakan karya bertumbuh “Nata Sukma Complex#” yang ia arahkan secara langsung dengan deretan Tim Kerja Artistik; Yuniarni, Husin, M. Andreanda, Dwi Setiawan, Ananda Rahmat, Sharief Jalaludin Alkhindi, Alya, Jersie Liyoni (Aktor); Ari Wirya Saputra (Penata Cahaya); Asripal Fahmi (Penata Musik); Desra Imelda (Penata Kostum & Rias); Renaldis (Videografi).
Pertunjukan “Nata Sukma Complex#” Karya & Sutradara; Tatang R. Macan ini akan ditampilkan pada tanggal 23-24 Juli 2026, Pukul 20.30 (Waktu Malaysia), di area BitaraSiswa FMSP UPSI Malaysia.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami datang dari Padangpanjang, Sumatera Barat, Indonesia, dari sebuah kampus kecil di kaki Bukit Barisan yang bernama ISI Padangpanjang.
Bukan untuk membawa kebanggaan berlebihan, tapi untuk berbagi cerita yang sebenarnya bukan milik kami seorang.
Cerita ini milik banyak orang: milik para petani yang tanahnya terus dirampas, milik buruh yang keringatnya tak pernah dihargai dengan layak, serta milik mereka yang suaranya selalu menjadi latar bagi sejarah besar yang ditulis orang lain.
Pementasan yang akan ditampilkan dan yang akan disaksikan kali ini berjudul Nata Sukma Complex#.
Karya ini adalah hasil kerja dari Studio Teater di Program Studi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang.
Studio Teater kami maksudkan sebagai sebuah ruang laboratorium tempat para dosen dan mahasiswa bereksperimen, membaca teks, berdiskusi, dan menciptakan karya yang tidak hanya indah secara dramaturgis, tetapi juga kaya akan pemikiran kritis.
Pementasan Nata Sukma Complex# merupakan pengembangan dari karya yang sebelumnya telah beberapa kali dipentaskan, dan kali ini diproduksi oleh Studio Teater sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus ekspresi artistik.
Karena itu, perkenankan saya, selaku Ketua Program Studi Seni Teater, FSP ISI Padangpanjang, menyampaikan rasa bangga yang mendalam.
Pementasan ini adalah buah karya sivitas akademika kami. Naskah lakon dan seluruh proses pementasan digarap oleh dosen kami, Tatang R. Macan (Tatang Rusmana), seorang akademisi dan praktisi teater yang telah berkecimpung dalam dunia teater sejak 1989.
Beliau adalah lulusan ASTI Bandung, STSI Bandung, dan Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan pernah menempuh studi doktoral 2013-2019 di Pascasarjana ISI Yogyakarta (meskipun belum diselesaikan).
Namun beliau ini adalah akademisi dan praktisi yang tidak pernah surut melakukan jelajah daya artistik.
Karya-karyanya, Hai Nurani (1999), Sirkus Topeng Waska (2003), Kidung Jakabandung (2008), hingga Nata Sukma (2024), telah dikenal luas di kalangan teater Indonesia.
Kami bangga, karena pementasan ini membawa nama Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang dalam kancah seni pertunjukan internasional.
Kebanggaan kami semakin bertambah karena seluruh pemain adalah mahasiswa dan alumni Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang.
Mereka adalah generasi muda yang telah berlatih dengan disiplin, mencurahkan waktu dan tenaga untuk menghadirkan karya ini ke hadapan publik Malaysia.
Mereka tidak sekadar berakting; mereka menghidupkan kembali sejarah dan menyuarakan mereka yang pernah dibungkam.
Karya Nata Sukma Complex# ini terinspirasi dari naskah kuno berjudul “Wawacan Nata Sukma,” yang ditulis secara anonim pada tahun 1833 di Pangalengan, Kabupaten Bandung, dalam aksara Pegon berbahasa Sunda.
Naskah ini lahir pada masa tanam paksa kopi (preanger stelsel) di bawah kolonialisme Belanda.
Kisahnya sederhana: kehidupan seorang petani miskin bernama Nata Sukma yang tumbuh dalam tekanan kolonial.
Tak ada pahlawan besar atau bangsawan di dalamnya, hanya tanah, padi, dan orang-orang yang menggenggam cangkul karena tak punya pilihan lain.
Pada 1983, Drs. Pepen MEZ menyalin naskah ini dari aksara Arab ke aksara Latin.
Berdasarkan itu, Tatang R. Macan menjadikan teks ini bahan penelitian, seminar, dan simposium nasional maupun internasional, termasuk Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa Indonesia) di FIB UI, FIB UGM, dan BRIN pada 2022, 2023, dan 2025.
Tatang R. Macan menghabiskan waktu bertahun-tahun menelusuri naskah ini.
Bukan karena ia pencinta barang antik, tetapi karena ia melihat sesuatu yang masih hidup di dalamnya: peristiwa yang belum selesai.
Tatang R. Macan kemudian mengadaptasinya menjadi naskah drama kontemporer, berjudul Nata Sukma (2024–2025), yang kemudian kini berkembang menjadi Nata Sukma Complex# (2026).
Karya ini tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga mengkritisi kondisi modern: kontaminasi industri, ketidakadilan sosial, dan perjuangan rakyat kecil di era sekarang.
Karya ini adalah “wujud peristiwa perjuangan anak manusia yang berusaha merebut hak hidup merdeka, hak hidup harmonis dari tekanan kolonialisme dari zaman ke zaman.”
Sebagai pengarang teks lakon ini, Tatang R. Macan dengan tegas mengingatkan: “Kolonialisme sesungguhnya tidak pernah berhenti.”
Ia hanya berubah bentuk, menjelma menjadi kapitalisme, imperialisme ekonomi, dan penindasan struktural yang terus membelenggu rakyat kecil.
Di atas panggung Nata Sukma Complex#, masa lalu dan masa kini akan bertemu tanpa permisi.
Multatuli, abdi kolonial Belanda abad ke-19 yang pernah menjadi saksi kekejaman di Lebak, Banten, berdiri di hadapan Nata Sukma, anak petani yang lahir dari tekanan yang sama, hanya dengan wajah zaman yang berbeda.
Di antara mereka, para Marhaen: tubuh-tubuh yang lelah, yang tak pernah selesai menjadi korban, juga tak pernah selesai menjadi saksi.
Mereka berbicara tentang tanah, tentang kerja paksa, tentang janji kemerdekaan yang terasa belum selesai.
Mereka saling bertanya, saling curiga, saling menguji: suara siapa yang benar? Kesaksian siapa yang sah? Dan apakah orang yang hanya “melihat” penderitaan, seperti Multatuli, berhak berbicara atas nama mereka yang mengalaminya?
Ada satu dialog yang terus terngiang: “Melihat,” kata Nata Sukma kepada Multatuli, “adalah kata yang selalu aman.
Tidak pernah mengubah apa pun.” Di sinilah letak keberanian drama ini.
Ia tidak ingin memberi jawaban tapi justru mempertanyakan segala hal yang kita anggap pasti.
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk dijawab, melainkan untuk terus dibawa pulang.
Kami, Studio Teater Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang, membawa pementasan Nata Sukma Complex# ini ke UPSI karena cerita tentang tanah, kerja paksa, dan ketimpangan tidak mengenal batas negara dan batas masa.
Penderitaan petani di Priangan abad ke-19 memiliki gema yang sama dengan penderitaan nelayan di perairan Selat Malaka atau buruh perkebunan di Sabah.
Jeritan yang sama juga terdengar kini di perkebunan sawit Kalimantan, di tambang emas tanpa izin di Sumatra, dan di pabrik-pabrik tekstil yang buruhnya bekerja tanpa jaminan.
Sejarah kolonial mungkin telah usai secara formal, tetapi strukturnya tetap hidup: berganti nama, berganti wajah, berganti bahasa, namun tetap memakan mereka yang tak punya kuasa.
Namun, kami tidak datang untuk menggurui, tetapi untuk berbagi kegelisahan yang sama.
Kami percaya teater adalah ruang untuk mengingatkan bahwa kesamaan nasib ini bukan kebetulan, melainkan pola yang berulang.
Kami datang bukan sebagai utusan kebudayaan yang membawa misi diplomatik, melainkan sebagai sekumpulan orang yang percaya bahwa panggung teater bisa menjadi tempat bertemu dan membangun ikatan.
Kami berharap pertemuan di ruang pertunjukan ini menjadi titik awal percakapan yang lebih panjang tentang apa artinya menjadi manusia di tengah kekuasaan yang tak pernah berhenti mencari bentuk baru penindasannya.
Pementasan teater Nata Sukma Complex# Karya & Sutradara; Tatang R. Macan ini bukanlah drama yang nyaman.
Ia memang tidak dirancang untuk menghibur, ada adegan yang membuat kita terdiam, dialog yang menusuk, saat-saat di mana yang bicara bukanlah tokoh di atas panggung melainkan sejarah itu sendiri.
Tapi saya menyarankan hadirin: Biarkanlah ketidaknyamanan itu masuk.
Karena di sanalah, mungkin kita mulai mengerti akan meninggalkan ruang pertunjukan malam ini dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Mungkin itu yang diinginkan oleh pengarang dan sutradaranya karena pertanyaan, seperti tanah, tak pernah selesai digarap.
Sebagai penutup dari uraian atas pementasan yang akan ditampilkan nanti.
Semoga kolaborasi budaya seni persembahan antara Prodi Seni Teater FSP ISI Padangpanjang dan Fakulti Muzik dan Seni Persembahan UPSI Malaysia, dapat terus terjalin erat dan melahirkan karya-karya besar di antara akademisi dan mahasiswa kedua belah pihak perguruan tinggi di masa depan.
Selamat menyaksikan Nata Sukma Complex#, Semoga pementasan ini memberikan pengalaman dan makna yang mendalam bagi kita semua.
*) Ketua Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang



