JAKARTA, KalibrasiNews.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani direncanakan menghadiri upacara pemakaman pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang diterima redaksi bahwa rencana kedatangan ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga hubungan baik dengan Republik Islam Iran.
Sugiono mengatakan hingga kini pemerintah masih menunggu konfirmasi dari otoritas Iran terkait waktu dan lokasi yang dapat dihadiri oleh delegasi Indonesia.
“Kita berencana hadir. Kami masih menunggu jawaban, waktu, dan tempat di mana kita bisa menghadiri upacara pemakaman Ayatollah Khamenei. Seperti yang kita ketahui juga ada prosesi yang dilakukan terkait dengan rangkaian acara dari pemakaman,” ujar Sugiono di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, komunikasi antara pemerintah Indonesia dan Iran terus berlangsung.
Kementerian Luar Negeri terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak guna memastikan seluruh agenda diplomatik dapat berjalan sesuai rencana.
Selain memperhatikan aspek protokoler, pemerintah juga mempertimbangkan faktor keamanan serta kelancaran pelaksanaan kunjungan delegasi Indonesia.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat prosesi pemakaman diperkirakan akan dihadiri oleh banyak tamu negara dan ribuan pelayat.
Dengan persiapan yang matang, kehadiran delegasi Indonesia diharapkan dapat berlangsung secara tertib.
Komunikasi diplomatik juga terus dijaga agar seluruh proses berjalan sesuai mekanisme yang disepakati kedua negara.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan bilateral yang telah terjalin selama ini.
Besarnya penghormatan masyarakat Iran terhadap Ayatollah Khamenei membuat pihak penyelenggara masih mengatur lokasi yang memungkinkan untuk menerima kunjungan para delegasi asing.
“Dari komunikasi yang terus kita lakukan, karena penghormatan terhadap beliau sangat besar, kemudian massa juga sangat besar di sana, pihak Iran masih mencoba untuk mencari titik atau spot menerima kunjungan ini,” katanya.
Sugiono menjelaskan, pemerintah Indonesia sebelumnya telah menerima undangan untuk menghadiri rangkaian acara tersebut.
Pada tahap awal, Indonesia menyampaikan bahwa Duta Besar RI untuk Iran akan mewakili pemerintah dalam prosesi tersebut.
“Kita menerima pemberitahuan atau undangan mengenai acara tersebut dan pada saat itu kita juga sudah mengatakan bahwa yang mewakili pemerintah Indonesia adalah Dubes Indonesia yang ada di Iran,” ujarnya.
Ia menuturkan, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan sejumlah aspek teknis, termasuk padatnya agenda kenegaraan di dalam negeri yang melibatkan sejumlah pejabat kunci.
Namun, situasi berubah setelah pemerintah Indonesia menerima konfirmasi dari pihak Iran bahwa akses ke salah satu agenda hanya diberikan kepada pejabat dengan level di atas duta besar.
“Kemudian kita mendapatkan konfirmasi bahwa pihak Iran hanya akan memberi akses kepada pejabat di atas dubes,” kata Sugiono.
Perubahan mekanisme tersebut membuat pemerintah Indonesia perlu menyesuaikan komposisi delegasi yang akan diberangkatkan.
Menlu Sugiono menjelaskan penyesuaian dilakukan agar kehadiran perwakilan Indonesia tetap memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah Iran.
Di sisi lain, pemerintah juga memastikan agenda kenegaraan di dalam negeri tidak terganggu dengan keberangkatan para pejabat yang ditunjuk.
Koordinasi lintas kementerian terus dilakukan untuk menyelaraskan seluruh persiapan administrasi maupun protokoler.
Langkah tersebut mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam mengambil setiap keputusan diplomatik.
Dengan demikian, partisipasi Indonesia tetap dapat terlaksana secara optimal.
Karena keterbatasan waktu dan mekanisme yang berlaku, pemerintah tidak memungkinkan untuk mengirimkan pengganti pada agenda tersebut.
Setelah berkoordinasi lebih lanjut, Sugiono mengatakan Indonesia kemudian merencanakan kehadiran delegasi tingkat tinggi pada prosesi pemakaman yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026.
Kehadiran delegasi Indonesia pada prosesi tersebut diharapkan menjadi bentuk penghormatan terhadap hubungan baik yang selama ini terjalin dengan Republik Islam Iran.
Selain memiliki makna diplomatik, kunjungan itu juga mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjaga komunikasi dengan negara-negara sahabat di berbagai situasi.
Pemerintah menegaskan bahwa hubungan bilateral akan terus dibangun melalui dialog, saling menghormati, serta kerja sama yang saling menguntungkan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari politik luar negeri Indonesia yang aktif dan bebas dalam menjalin hubungan dengan berbagai negara.
Diharapkan, komunikasi yang telah terbangun dapat terus berkembang secara positif pada masa mendatang.
Hal itu sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam membangun hubungan internasional yang konstruktif.
(/rel)



