JAKARTA, Kalibrasinews.com – Pemerintah menyiapkan langkah baru untuk menyelamatkan populasi gajah Sumatera dan gajah Borneo di Indonesia yang kian terdesak.
Siaran pers (Press Release) Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) menyebutkan langkah konkret adalah keputusan Presiden Prabowo yang akan menerbitkan Instuksi Presiden (Inpres) khusus untuk menyelamatkan gajah Sumatera dan gajah Borneo.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan, kebijakan tersebut muncul setelah pemerintah melihat penurunan drastis wilayah habitat alami gajah Sumatera di Indonesia.
“Secara saintifik dulu ada 42 kantong gajah Sumatera di Indonesia. Ketika pertama kali Pak Presiden Prabowo Subianto memberikan amanah kepada saya sebagai Menteri Kehutanan, saya cek kembali, kantong gajah yang dahulu jumlahnya 42, sekarang tinggal 21 saja,” kata Raja Juli Antoni di Istana Kepresidenan, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan, penyusutan kantong habitat tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah. Tanpa intervensi yang kuat, kerusakan habitat diperkirakan akan terus berlanjut dan berpotensi mendorong kepunahan satwa yang menjadi salah satu spesies ikonik Indonesia itu.
“Kalau tidak ada intervensi serius oleh pemerintah, maka kerusakan kantong-kantong gajah ini adalah sebuah keniscayaan. Karena itu populasi gajah Sumatera dan Borneo sebagai satwa dilindungi tidak menutup kemungkinan bisa punah,” ujarnya.
Sebagai bagian dari langkah penyelamatan itu, Presiden Prabowo juga telah menyerahkan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang dimilikinya untuk dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi gajah Sumatra. Luas kawasan tersebut bahkan terus bertambah hingga mencapai 90.000 hektare.
Raja Juli Antoni mengatakan, keputusan itu sebelumnya telah diumumkan di Aceh. Bahkan komitmen tersebut kembali ditegaskan Prabowo saat bertemu dengan Raja Inggris, Charles III, di London.
“Awalnya King Charles meminta 10.000 hektare. Pak Presiden menyerahkan 20.000 hektare, bahkan sekarang menjadi 90.000 hektare. Semuanya diperuntukkan untuk menjaga habitat gajah di Sumatera,” kata dia.
Menurut Raja Juli Antoni, langkah tersebut menunjukkan komitmen nyata Presiden terhadap konservasi satwa. Ia menyebut banyak aktivis lingkungan menilai kebijakan itu sebagai bukti kepedulian Prabowo terhadap kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Peduli Konservasi Gajah
Sejauh ini, rencana Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) khusus untuk menyelamatkan gajah Sumatera dan gajah Borneo mendapat perhatian dari kalangan aktivis konservasi internasional.
Sejumlah pegiat lingkungan menilai langkah ini sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah Indonesia mulai memberi prioritas lebih serius pada perlindungan satwa liar dan kawasan konservasi.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan rencana presiden respons dari komunitas konservasi internasional cukup positif. Ia menyebut banyak aktivis yang menyampaikan apresiasi setelah mengetahui rencana kebijakan tersebut.
“Saya banyak bertemu dengan aktivis konservasi internasional maupun Indonesia, dan mereka sangat mengapresiasi. Mereka mengatakan bahwa Pak Presiden Prabowo Subianto adalah presiden yang paling peduli terhadap konservasi satwa dan taman nasional Indonesia,” ujar Raja Juli di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (12/3).
Kekhawatiran terhadap masa depan gajah Sumatera dan Borneo di Indonesia memang bukan tanpa alasan. Data ilmiah yang dihimpun Kementerian Kehutanan menunjukkan penurunan signifikan pada wilayah habitat gajah. Jika sebelumnya tercatat ada 42 kantong habitat gajah di berbagai wilayah, kini jumlahnya tinggal sekitar 21 saja.
Penurunan ini menunjukkan tekanan besar terhadap habitat alami gajah, terutama akibat kerusakan hutan, fragmentasi kawasan, serta konflik antara manusia dan satwa liar.
Raja Juli menjelaskan bahwa tanpa langkah intervensi yang kuat dari pemerintah, kerusakan kantong-kantong habitat gajah berpotensi terus berlanjut.
Kondisi tersebut akhirnya dapat mengancam kelangsungan populasi gajah yang merupakan salah satu satwa dilindungi dan spesies ikonik Indonesia.
Karena itu, Inpres yang sedang disiapkan akan memerintahkan berbagai kementerian dan lembaga terkait untuk bekerja bersama Kementerian Kehutanan dalam upaya penyelamatan populasi gajah dan pemulihan habitatnya.
“Kalau tidak ada intervensi yang serius oleh pemerintah, maka kerusakan kantong-kantong gajah ini adalah sebuah keniscayaan,” kata Raja Juli.
Ia juga menambahkan bahwa Presiden Prabowo secara pribadi memiliki perhatian terhadap satwa tersebut. Namun menurutnya, kebijakan ini tidak sekadar didorong oleh faktor personal, melainkan oleh kesadaran bahwa perlindungan gajah merupakan bagian penting dari upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Dengan adanya langkah tersebut, pemerintah berharap upaya perlindungan gajah Sumatra dan gajah Borneo dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Kebijakan ini juga diharapkan mampu memperkuat komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian satwa liar sekaligus memastikan ekosistem hutan tetap terjaga bagi generasi mendatang.
(/rel)



