Oleh Rafky Fitrah Ramadhan
PADANG, KalibrasiNews.com – Sejauh ini ramai menjadi pusat perhatian satu objek yang menjadi daya tarik masyarakat berdatangan ke pesisir utara Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat atau Sumbar yang lokasi bernama Pantai Parkit tepatnya kawasan Air Tawar.
Hamparan Pantai Parkit yang belakangan ramai dikunjungi warga, terutama saat sore hari menjelang matahari tenggelam atau sunset.
Tampak jelas hamparan pasir, debur ombak yang tidak terlalu keras, serta pepohonan di beberapa sudut membuat kawasan Pantai Parkit terasa sebagai ruang tenang dari ramainya kehidupan kota.
Keberadaan kawasan pesisir seperti Pantai Parkit sebenarnya memiliki potensi besar sebagai ruang wisata berbasis alam bagi masyarakat Kota Padang.
Dengan pengelolaan yang tepat, area Pantai Parkit dapat berkembang menjadi destinasi rekreasi ramah lingkungan yang tidak hanya menghadirkan keindahan panorama laut, tetapi juga edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Namun, pesona itu tidak selalu hadir dalam kondisi sempurna. Beberapa waktu terakhir, bibir pantai kerap dipenuhi potongan kayu dan ranting dalam jumlah yang tidak sedikit.
Material tersebut bukan datang dari aktivitas di sekitar pantai, melainkan terbawa arus sungai dari wilayah hulu.
Puncak peristiwa saat bencana banjir atau galodo pada akhir November 2025 lalu yang melanda kawasan perbukitan dan daerah aliran sungai di Kota Padang.
Akibatnya, sisa-sisa batang pohon hanyut dan bermuara di kawasan pesisir hingga kawasan Pantai Parkit tersebut.
Kala itu, tumpukan kayu yang menghitam karena bercampur lumpur dan sampah rumah tangga menandakan adanya permasalahan lingkungan jangka panjang.
Mulai dari hulu, kondisi ini bisa berkaitan dengan pembukaan lahan, longsor kecil, atau meningkatnya debit air yang menyeret apa saja yang dilaluinya. Di hilir, Pantai Parkit menjadi tempat terakhir dari perjalanan pohon-pohon yang ditebang.

Hamparan Pantai Parkit yang belakangan ramai dikunjungi warga
Nikmati Tiupan Angin Laut
Warga yang datang untuk menikmati angin laut harus mencari sudut yang lebih bersih untuk dapat duduk dan melihat pemandangan yang tidak biasanya dilihat.
Adapun beberapa pengunjung justru menjadikan potongan kayu besar sebagai tempat bersandar, menciptakan pemandangan yang sangat unik dari keindahan laut berhadapan dengan kiriman pesan penting dari daratan.
Nelayan yang ingin pergi melaut untuk menangkap ikan menjadi sulit untuk berlayar dengan kapalnya. Hal ini menjadi pesan dan pengingat bagi kita sebagai manusia yang telah merusak alam.
Sebagian warga berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak untuk membantu penanganan material kayu yang terus berdatangan.
Selain mengganggu aktivitas nelayan, kondisi ini juga berpotensi mengubah garis pantai apabila dibiarkan menumpuk dalam waktu lama tanpa penanganan yang terencana.
Kendati demikian, Pantai Parkit belum kehilangan daya tariknya. Anak-anak masih bermain bola di pantai dan menggunakan kayu-kayu yang terdampar sebagai gawangnya, remaja yang masih suka mengabadikan momentum suasana senja dan matahari tenggelam atau sunset lewat handphone serta smartphone mereka.
Aktivitas ini menunjukkan bahwa ruang publik tersebut tetap hidup dan memiliki arti bagi masyarakat sekitar.
Kondisi pantai yang tercemar kiriman kayu dari hulu menjadi pengingat bahwa kawasan pesisir dan daerah pegunungan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Apa yang terjadi di bagian atas aliran sungai akan selalu bermuara di laut.
Pantai Parkit seakan menjadi halaman depan yang memperlihatkan bagaimana lingkungan di wilayah lain sedang bekerja atau sedang bermasalah.
Dalam situasi sulit seperti itu, harapan tetap ada. Beberapa warga mulai melakukan pembersihan sederhana namun tidak tahu kemana kayu-kayu ini dibuang, bahkan warga dan nelayan memanfaatkan kayu yang terdampar ini dijadikan sebagai pondok-pondok kecil dan membuat perahu baru.
Pantai Parkit menjadi pelajaran bagaimana tanggung jawab kita bersama dalam menjaga lingkungan.
Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir tersebut.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan komunitas lingkungan diperlukan agar upaya pembersihan tidak hanya bersifat sementara, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu mencegah masalah serupa terulang di masa mendatang.
Artinya, masyarakat harus sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup agar tidak menimbulkan kerusakan yang dapat merugikan umat manusia kemudian hari.
*) Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand



