JAKARTA, KalibrasiNews.com — Tokoh muslim Jusuf Hamka atau Baba Alun mendukung keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Menurutnya, langkah Presiden RI Prabowo Subianto itu sebagai bentuk dukungan kuat Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.
Selain dukungan moral, Jusuf Hamka menilai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace juga membuka ruang diplomasi yang lebih luas bagi pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan Palestina secara langsung di forum internasional.
Ia menyebut, kehadiran Indonesia dalam dewan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi sarana strategis untuk menyampaikan aspirasi dunia Islam, khususnya terkait penghentian konflik berkepanjangan dan percepatan bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak.
Keputusan Indonesia masuk BoP, lanjut dia, merupakan penegasan jika perdamaian harus di atas segalanya. Menurut dia, bergabungnya Indonesia di sana merupakan buah dari kecerdasan Presiden RI Prabowo Subianto dalam berdiplomasi.
Menurut Hamka, langkah diplomasi yang diambil Presiden Prabowo juga menunjukkan perubahan pendekatan Indonesia dari sekadar pernyataan politik menjadi keterlibatan aktif dalam mekanisme penyelesaian konflik global.
Dengan duduk langsung dalam Dewan Perdamaian, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk ikut mempengaruhi arah kebijakan, sekaligus memastikan bahwa proses perdamaian tetap berpijak pada prinsip keadilan dan perlindungan terhadap warga sipil.
“Beliau ini ahli strategi. Bekas Danjen Kopassus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus), bekas Pangkostrad (Panglima Komando Strategis Angkatan Darat),” kata Hamka, seusai agenda pertemuan Prabowo dengan para tokoh ormas Islam di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2).
Ia menambahkan, pengalaman panjang Prabowo di bidang pertahanan dan keamanan membuatnya memahami bahwa konflik tidak bisa diselesaikan hanya dengan tekanan sepihak.
Diperlukan perhitungan matang, komunikasi lintas negara, serta keberanian mengambil posisi strategis agar Indonesia tetap dipercaya oleh berbagai pihak.
Dalam konteks inilah, Hamka menilai Prabowo mampu membaca peta geopolitik secara komprehensif, sekaligus menjaga martabat Indonesia di mata dunia.
Prabowo menjelaskan secara gamblang kepada para tokoh Islam mengenai alasan bergabungnya Indonesia di BoP. Dari penjelasan itu, para tokoh Islam mengerti keputusan yang diambil Indonesia.
Salah satu contoh konkret dari keputusan Indonesia ini, kata Hamka, kini bahan makanan yang diangkut 4.500 truk sudah bisa masuk ke Palestina. Menurutnya, mengusahakan perdamaian juga butuh strategi, tidak bisa hitam putih.
Hamka menegaskan, keberhasilan masuknya bantuan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan diplomasi yang ditempuh pemerintah mulai menunjukkan hasil konkret.
Ia berharap upaya serupa dapat terus diperluas, baik dalam bentuk pengiriman bantuan pangan, obat-obatan, hingga dukungan rekonstruksi infrastruktur sipil di Gaza.
Menurutnya, masyarakat Indonesia juga perlu terus memberikan dukungan moral agar pemerintah memiliki kekuatan politik yang cukup dalam memperjuangkan isu Palestina di tingkat global.
“Kan damai itu nggak bisa yang satu diinjak, yang satu diangkat. Dua-duanya harus dihormati. Nah, dalam hal ini ya, menurut saya, kita harus husnuzan (berprasangka baik), jangan suuzan sama pemerintah. Biarkan pemerintah menjalankan strateginya, karena di situ (BoP) juga banyak, ada beberapa negara Islam kan,” kata dia.
Keanggotaan di Dewan Perdamaian ini, lanjut dia, membuat Indonesia bisa sejajar di dunia internasional. Status keanggotaan ini juga memungkinkan Indonesia untuk bisa berperan aktif mengawasi proses perdamaian.
“Ya, ibarat kalau saya nggak kenal atau saya jauh, mau ngomong apa-apa nggak enak. Kalau kalian di sebelah saya, kiri kanan, kalau ada perbuatan nggak enak, kan saya tinggal sikut saja,” katanya memberi amsal.
Terkait iuran, kata Hamka, Prabowo juga menjelaskan bahwa uang yang dikeluarkan tidak lain untuk kebutuhan Palestina. Uang itu untuk pembangunan. Artinya, Indonesia tidak sekadar berkoar Palestina harus merdeka, tapi melakukan langkah konkret.
Lebih jauh, Hamka mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi negatif yang berkembang di ruang publik.
Ia menilai kritik tentu diperlukan dalam negara demokrasi, namun harus disertai pemahaman utuh terhadap konteks kebijakan luar negeri yang kompleks.
Baginya, perjuangan kemerdekaan Palestina memerlukan kesabaran, persatuan, serta kepercayaan terhadap langkah-langkah strategis yang sedang dijalankan pemerintah.
Dari penjelasan ini, kata dia, para tokoh Islam memahaminya. Bahkan, beberapa tokoh langsung mengucapkan takbir, “Allahu akbar,” tiru Hamka.(/rel)



