IKAPI Awards 2026 Beri Penghargaan Khusus untuk Buku Mitigasi Kultural Asal Sumbar

PADANG, Kalibrasinews.com — Perhelatan IKAPI Awards 2026 memberikan penghargaan khusus bagi buku yang mengangkat kekayaan pengetahuan daerah.

Kategori Local Content of the Year dihadirkan untuk memperluas apresiasi terhadap karya tradisi Nusantara.

Siaran pers yang diterima redaksi, Kamis (1/10/2026) menyebutkan kategori ini membuka ruang karya lokal. IKAPI Awards 2026 memberikan perhatian besar pada buku yang merekam pengetahuan masyarakat merespons bencana.

Buku Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat terpilih sebagai penerima penghargaan tunggal.

Karya karangan Yose Hendra ini sukses memenangkan kategori anyar dalam ajang IKAPI Awards 2026.

Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Rumahkayu Pustaka Utama yang berbasis di Kota Padang.

Karya ini merupakan hasil riset program DanaIndonesiana 2024 yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan.

Penyerahan piala IKAPI Awards 2026 dilaksanakan bertepatan dengan pembukaan Indonesia International Book Fair 2026.

Acara berlangsung khidmat di Jakarta International Convention Center pada Rabu (30/9/2026).

Ketua Umum IKAPI Arys Hilman Nugraha menjelaskan kriteria penilaian karya dalam penganugerahan tersebut. Ia menegaskan panitia IKAPI Awards 2026 tidak menilai karya berdasarkan tema lokal semata.

Penilaian IKAPI Awards 2026 juga mempertimbangkan kualitas karya serta asas kebermanfaatannya bagi pembaca luas.

Keberadaan penerbit daerah sangat penting karena memiliki kedekatan sejarah dengan isu lokal.

“Yang kami inginkan adalah penerbitnya penerbit setempat,” kata Arys saat memberikan keterangan resmi. Ia berharap penerbit asal Sumatera Barat mengusulkan karya yang diterbitkan oleh penerbit setempat.

Arys menambahkan literasi kebencanaan berbasis pengetahuan lokal memiliki arti strategis bagi masyarakat. Rekaman pengalaman komunitas yang diangkat pemenang IKAPI Awards 2026 ini berguna bagi daerah lain.

“Bahkan bukan hanya di daerah setempat, tetapi juga di daerah-daerah lain,” ujar Arys memberikan penjelasan.

Pengalaman daerah rawan bencana menjadi pelajaran berharga membangun sistem mitigasi kultural.

Perspektif tersebut sangat krusial mengingat Indonesia berada pada wilayah dengan risiko bencana tinggi. Mitigasi tidak boleh hanya bergantung pada infrastruktur fisik dan teknologi peringatan dini semata.

Masyarakat perlu memiliki kemampuan mengenali lingkungan serta mengambil keputusan berdasarkan pengalaman leluhur.

Pengetahuan tersimpan rapat dalam cerita rakyat, petatah-petitih, tambo, syair, hingga pola permukiman.

Dokumentasi Mitigasi Kultural dan Penguatan Literasi Nasional

(Foto: Istimewa)
Acara berlangsung khidmat di Jakarta International Convention Center pada Rabu (30/9/2026).

Buku pemenang IKAPI Awards 2026 ini merangkum penelitian di pelbagai wilayah Sumatera Barat.

Pembahasan di dalamnya mencakup petatah-petitih, tambo, ritual, arsitektur Rumah Gadang, hingga struktur Uma Mentawai.

Seluruh elemen kebudayaan tersebut menjadi rekam pengetahuan masyarakat dalam merespons ancaman bencana alam.

Baca Juga  Hadapi Ancaman Judi Online, Kementerian PPPA Perkuat Perlindungan Anak

Penulis buku Yose Hendra menegaskan dokumentasi pengetahuan lokal sangat krusial bagi keselamatan manusia.

“Bencana boleh datang sebagai peristiwa alam, tetapi keselamatan ditentukan oleh pengetahuan manusia,” kata Yose. Ia mengingatkan pentingnya membaca tanda alam dan membagikannya kepada generasi penerus.

Yose menekankan pengetahuan lokal harus diposisikan sebagai sumber ilmu untuk dipelajari bersama sains modern.

“Yang kita perlukan adalah mempertemukan keduanya untuk menyelamatkan manusia,” tegas Yose dalam wawancara resmi.

Capaian manis dalam ajang IKAPI Awards 2026 ini disambut bangga jajaran penerbit daerah.

Direktur Rumahkayu Pustaka Utama Alizar Tanjung menilai penghargaan ini membuktikan potensi besar penerbitan lokal.

“Ini menunjukkan bahwa penerbit lokal dapat mengangkat isu daerah melalui riset yang serius,” ujar Alizar.

Penerbit daerah terbukti mampu menghasilkan karya berkualitas yang berbicara di tingkat nasional.

Alizar menyebutkan Sumatera Barat memiliki tradisi perbukuan yang sangat panjang.

Tantangan utama saat ini adalah menjaga tradisi tersebut tetap hidup sekaligus memperluas jangkauan karya.

Ajang IIBF 2026 yang menjadi wadah penyerahan IKAPI Awards 2026 menghadirkan perhelatan semarak.

Pameran internasional tersebut menghadirkan lokakarya, diskusi, serta perjumpaan penulis dengan komunitas literasi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran buku internasional tersebut.

Pemerintah memberikan dukungan penuh demi memperkuat ekosistem literasi dan industri kreatif nasional.

“Kita menyambut baik penyelenggaraan IIBF 2026 ini,” kata Fadli Zon saat membuka acara. Ia menegaskan perhelatan ini diposisikan sebagai festival buku sekaligus hub industri kreatif berbasis konten.

Fadli menjelaskan IIBF diarahkan pada tiga fungsi utama demi mendorong keterlibatan publik.

Fungsi tersebut meliputi literasi publik, pengembangan industri penerbitan, serta kolaborasi hak cipta industri kreatif.

Menteri Kebudayaan mendorong para penulis untuk memperbanyak karya tentang peradaban Nusantara. “Masih terlalu banyak yang belum ditulis tentang perjalanan peradaban di Nusantara ini,” ungkap Fadli.

Fadli mendorong agar karya Indonesia diterjemahkan ke bahasa asing untuk diplomasi budaya.

Pemerintah bekerja sama dengan IKAPI membawa karya nasional ke festival buku internasional.

Apresiasi buku bermuatan lokal ini membuka ruang pendokumentasian kearifan tradisi secara berkelanjutan.

Pengetahuan dalam masyarakat dapat terus didokumentasikan, dibaca, dan disebarluaskan secara bertahap.

Bagi manajemen bencana, hal ini penting karena masyarakat bukan sekadar objek penerima informasi.

Masyarakat memiliki ingatan kolektif dan pengalaman lingkungan untuk membangun kesiapsiagaan mandiri.

(rel/KalibrasiNews)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini