Hadapi El Nino, Badan Pangan Nasional Pastikan Stok & Cadangan Beras

JAKARTA, KalibrasiNews.com – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan komitmennya dalam menjaga ketahanan dan stabilitas pangan nasional di tengah ancaman fenomena iklim El Nino.

Dalam siaran pers Badan Pangan Nasional & Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI yang diterima redaksi KalibrasiNews.com menyebutkan prediksi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa pemerintah telah bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah antisipatif yang komprehensif dari sektor hulu hingga hilir.

Langkah ini diambil guna memastikan produktivitas pertanian tetap terjaga serta menjamin kelancaran distribusi agar masyarakat tetap dapat mengakses komoditas pangan pokok dengan harga yang terjangkau.

Selain menjaga ketersediaan stok, Badan Pangan Nasional juga terus memperkuat koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan pelaku usaha pangan dalam menghadapi potensi dampak El Nino.

Langkah tersebut dilakukan agar distribusi komoditas strategis tetap berjalan lancar hingga ke berbagai daerah.

(Foto: Bakom RI)
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, menyampaikan bahwa salah satu bukti nyata dari kesiapsiagaan pemerintah saat ini adalah posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di BULOG yang telah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Cadangan pangan yang kokoh ini bukan sekadar angka, melainkan berfungsi sebagai bantalan strategis yang memberikan ruang intervensi bagi pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus meredam gejolak harga di pasar apabila terjadi gangguan produksi maupun distribusi akibat dampak musim kemarau.

“Salah satu bukti nyata kesiapsiagaan tersebut adalah Indonesia mempunyai cadangan beras pemerintah yang ada di Bulog saat ini mencapai 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Kemudian cadangan ini bukan sekedar angka, tetapi merupakan bantalan strategis yang memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus meredam gejolak harga ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi akibat musim kemarau,” ujar Sarwo Edhy dalam keterangan resminya.

Untuk memastikan manfaat dari cadangan pangan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, pemerintah gencar melakukan intervensi stabilisasi di berbagai wilayah.

Hingga awal Juni 2026, Badan Pangan Nasional bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan telah sukses melaksanakan lebih dari 5.573 Gerakan Pangan Murah (GPM) yang tersebar di 37 provinsi dan lebih dari 378 kabupaten/kota.

(Foto: Bakom RI)
Penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan.

Selain itu, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus digenjot hingga mencapai realisasi 463.000 ton demi menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.

Pemerintah juga menyalurkan stimulus ekonomi berupa bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta KPM di seluruh Indonesia untuk alokasi Februari dan Maret yang realisasinya sudah mencapai 99,7 persen.

Bantuan pangan beras akan dialokasikan kembali untuk bulan Juli, Agustus, dan September mendatang.

Program stabilisasi yang dijalankan Badan Pangan Nasional juga diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi tekanan akibat musim kemarau.

Berbagai intervensi akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah agar penanganannya lebih efektif.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menekan potensi kenaikan harga komoditas pangan pokok. Dengan langkah yang terukur, stabilitas pasokan diharapkan tetap terjaga sepanjang periode El Nino.

Kuatnya stok pangan nasional ini tidak terlepas dari keberhasilan penguatan produksi di sektor hulu melalui pendampingan intensif kepada para petani, optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, penguatan irigasi, hingga masifnya program pompanisasi.

Kerja keras ini membuahkan hasil positif di mana Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras tahun 2025 meningkat signifikan sebesar 13,29% dibanding tahun sebelumnya, yang sekaligus mengantarkan Indonesia pada pencapaian swasembada beras nasional.

Capaian impresif ini bahkan diakui di tingkat global, di mana laporan FAO Food Outlook edisi Juni 2026 menobatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia.

“FAO Food Outlook edisi Juni 2026 menuliskan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia. Ini merupakan hal yang perlu kita banggakan dan menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan Indonesia bukan sekedar klaim pemerintah, tetapi diakui oleh lembaga pangan internasional,” tegas Sarwo Edhy.

Di akhir keterangannya, Sarwo Edhy mengimbau semua pihak untuk tetap waspada menghadapi El Nino.

Namun, pemerintah optimistis bahwa dengan kolaborasi, distribusi yang kuat, serta cadangan pangan yang kokoh, kebutuhan pangan pokok masyarakat akan selalu terpenuhi dan stabilitas pangan nasional akan tetap terjaga dengan baik.

(/kalibrasinews.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini