Woking, KalibrasiNews.com – Andrea Stella menyaksikan McLaren menutup musim dengan gemilang setelah berhasil mengamankan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor. Keberhasilan tersebut diraih di tengah tekanan besar dari Max Verstappen, yang terus memberikan perlawanan sengit hingga lap terakhir balapan.
Andrea Stella menilai jalannya musim menunjukkan perbedaan pendekatan yang cukup kontras antara McLaren dan Red Bull. Saat rivalnya memilih fokus besar pada pengembangan mobil musim 2025, McLaren justru lebih cepat mengalihkan perhatian ke persiapan menghadapi regulasi baru Formula 1 yang akan diberlakukan pada 2026.
Andrea Stella kemudian menyoroti keputusan Red Bull yang relatif terlambat beralih ke proyek generasi mobil berikutnya. Menurutnya, strategi tersebut berpotensi menjadi risiko tersendiri dan dapat membuat Red Bull menghadapi tantangan signifikan ketika era regulasi baru resmi dimulai.

McLaren dan Red Bull Ambil Prioritas Berbeda Jelang Regulasi Baru
McLaren dan Red Bull memilih pendekatan yang berbeda dalam menentukan fokus pengembangan tim mereka menuju era regulasi Formula 1 2026.
Red Bull dikenal sebagai tim yang tak ragu mengerahkan seluruh sumber daya demi mengamankan gelar juara dunia. Hal itu pernah mereka tunjukkan pada musim 2021, ketika tim asal Austria tersebut masih membawa pembaruan mobil hingga seri terakhir demi memastikan titel juara.
Saat itu, banyak pihak menilai Red Bull akan tertinggal dalam persiapan regulasi 2022. Namun anggapan tersebut terbukti keliru ketika sesi pramusim dimulai. Departemen teknis yang dipimpin Adrian Newey berhasil menemukan konsep mobil yang memberi keunggulan fundamental, meski pengembangannya dimulai relatif lebih lambat dibanding rival.
Menatap musim depan, tantangan serupa kembali menanti Red Bull. Kali ini, beban mereka bahkan lebih besar karena harus mengembangkan power unit pertama dalam sejarah tim, di tengah persiapan menyongsong regulasi baru.
Sementara itu, McLaren yang akan tetap menggunakan mesin Mercedes pada era 2026 memilih mengambil langkah berbeda. Tim asal Woking itu memutuskan menghentikan pengembangan MCL39 lebih awal demi memaksimalkan persiapan jangka panjang. Keputusan tersebut terbukti membuahkan hasil setelah Lando Norris sukses mengamankan gelar juara dunia pembalap.
Meski perebutan gelar belum sepenuhnya berakhir saat itu, Team Principal McLaren Andrea Stella sudah lebih dulu membela strategi timnya. Ia menegaskan bahwa fokus terlalu lama pada mobil saat ini bisa mengorbankan proyek masa depan.
Stella menilai setiap tim memiliki pertimbangan masing-masing. Menurutnya, Red Bull mungkin masih memiliki ruang untuk mengembangkan mobil 2025 secara agresif, terlebih setelah menghadapi sejumlah kendala di awal musim. Ia juga menilai Red Bull bisa saja rela mengorbankan sebagian persiapan 2026 demi memaksimalkan peluang juara dalam jangka pendek.
Namun bagi McLaren, kata Andrea Stella, kunci untuk terus meraih gelar di masa depan adalah memastikan kesiapan penuh menghadapi regulasi baru. Karena itu, ia menegaskan timnya telah sangat berhati-hati dalam menentukan waktu yang tepat untuk mengalihkan seluruh sumber daya ke proyek mobil 2026.

Tantangan McLaren Mempertahankan Dominasi
Tidak banyak tim yang mampu bertahan di puncak performa ketika Formula 1 memasuki era regulasi baru. Dengan kompleksitas mobil 2026 yang semakin tinggi, McLaren menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan dominasinya.
Salah satu keterbatasan utama McLaren terletak pada alokasi waktu terowongan angin. Sebagai juara dunia konstruktor, tim berjuluk papaya itu akan menerima jatah wind tunnel paling sedikit dibandingkan tim lain.
Aturan ini merupakan bagian dari sistem sliding scale Formula 1, di mana tim teratas mendapat waktu pengujian aerodinamika paling minim, sementara tim yang finis di posisi terbawah justru memperoleh jatah terbesar. Regulasi tersebut dirancang untuk memperkecil jarak performa antar tim.
Kondisi ini membuat McLaren berada dalam posisi yang tidak mudah saat menentukan pembagian sumber daya, terutama di tengah transisi menuju regulasi baru.
Meski demikian, McLaren belum pantas dikesampingkan. Pernyataan Andrea Stella menunjukkan bahwa tim berbasis di Woking itu bertekad menjaga momentum dan menegaskan posisi mereka di barisan terdepan.
Faktor lain yang bisa menjadi penentu adalah performa mesin Mercedes. Jika pabrikan Jerman tersebut mampu menghadirkan power unit kompetitif, McLaren akan mendapatkan elemen penting dalam upaya mempertahankan daya saing. Selain itu, kemampuan tim untuk berkembang pesat dalam waktu singkat juga patut diperhitungkan.
Sebagai contoh, McLaren sempat berada di papan bawah pada awal musim 2023, sebelum bertransformasi menjadi tim dengan mobil tercepat hanya dalam rentang satu tahun.
Didukung struktur departemen teknis yang unik serta pendekatan kerja yang detail, sang juara bertahan optimistis mampu kembali menaikkan standar dan tetap bersaing di level tertinggi Formula 1.(net)



