PADANG, KalibrasiNews.com – Memasuki sepuluh bulan pascabencana, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh memulihkan tiga jembatan yang terdampak bencana.
Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi disebutkan bahwa tiga jembatan tersebut berada di jalur strategis Lintas Timur Aceh.
Ketiganya yakni Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya, Jembatan Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen, dan Jembatan Ulee Langa di Kabupaten Aceh Utara.
Pemulihan ketiga jembatan menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kembali konektivitas pada Koridor Lintas Timur Aceh yang berada di ruas jalan nasional Banda Aceh-Medan.
Jalur tersebut memiliki peran penting bagi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi yang menghubungkan sejumlah wilayah di Aceh.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan percepatan penanganan jalan dan jembatan menjadi perhatian karena infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.
Pemerintah berupaya memastikan akses yang terdampak bencana dapat kembali digunakan sehingga pergerakan warga dan distribusi kebutuhan tidak terus mengalami hambatan.
“Kementerian PU terus berusaha agar akses jalan dan jembatan ditangani secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat hingga distribusi logistik,” kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangannya, Rabu (16/9).
Sebelum pembangunan permanen diselesaikan, pemerintah lebih dahulu melakukan penanganan darurat dengan menyediakan jembatan sementara atau bailey.
Langkah tersebut dilakukan agar akses masyarakat tetap tersedia sambil pekerjaan konstruksi jembatan permanen berjalan.
Dengan cara ini, kebutuhan mobilitas dan distribusi logistik dapat tetap dilayani selama proses rekonstruksi berlangsung.
Dody menjelaskan, keberadaan infrastruktur jembatan sangat penting bagi wilayah yang mengalami dampak bencana.
Akses yang terbuka kembali dibutuhkan untuk mendukung aktivitas perekonomian masyarakat, memperlancar distribusi logistik, serta membantu proses pemulihan pascabencana.
Karena itu, penyelesaian pembangunan menjadi bagian penting dari penanganan setelah tahap darurat.
Tiga Jembatan Masuk Tahap Pemulihan
Berdasarkan data BPJN Aceh per 14 September 2026, Jembatan Krueng Meureudu dengan panjang 61,8 meter telah selesai sepenuhnya dan sudah fungsional.
Jembatan tersebut berada pada ruas Batas Kota Sigli-Kota Bireuen dan menjadi salah satu akses penting pada jalur nasional yang menghubungkan wilayah Lintas Timur Aceh.
Jembatan Ulee Langa juga telah rampung dan dapat digunakan kembali.
Jembatan dengan panjang 16,6 meter tersebut berada pada ruas Batas Kota Lhokseumawe/Aceh Utara-Peureulak.
Kembalinya fungsi kedua jembatan tersebut membuat akses pada ruas terdampak dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, pengerjaan Jembatan Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen masih berada pada tahap akhir.
Jembatan dengan panjang 149 meter tersebut telah mencapai progres 99,14 persen berdasarkan data BPJN Aceh.
Pekerjaan yang masih tersisa meliputi pemasangan andesit untuk pejalan kaki, pengaspalan, dan marka jalan.
Pemerintah menargetkan Jembatan Krueng Tingkeum dapat sepenuhnya berfungsi pada 20 September 2026.
Penyelesaian pekerjaan tersebut akan melengkapi pemulihan tiga jembatan yang menjadi bagian dari konektivitas pada Koridor Lintas Timur Aceh.
Pemulihan infrastruktur ini tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian konstruksi, tetapi juga memastikan masyarakat kembali memperoleh akses yang dapat digunakan secara normal.
Bagi wilayah yang terdampak bencana, keberadaan jalan dan jembatan memiliki kaitan langsung dengan kelancaran aktivitas sehari-hari, pengiriman kebutuhan, dan pergerakan orang maupun barang.
Pemulihan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian penanganan pascabencana yang dilakukan pemerintah setelah sebelumnya akses harus ditangani melalui langkah darurat.
Penggunaan jembatan sementara menjadi solusi agar konektivitas tidak sepenuhnya terputus, sementara pembangunan permanen dilakukan secara bertahap.
Setelah konstruksi selesai, jembatan permanen diharapkan dapat memberikan akses yang lebih stabil bagi masyarakat dan pengguna jalan nasional.
Proses pengerjaan tetap memperhatikan penyelesaian bagian-bagian yang diperlukan sebelum infrastruktur dinyatakan dapat digunakan sepenuhnya.
Hal ini terutama berlaku bagi Jembatan Krueng Tingkeum yang masih menyisakan sejumlah pekerjaan akhir sebelum mencapai target operasional.
Pemerintah melalui Kementerian PU memastikan proses pemulihan terus dikawal hingga seluruh pekerjaan selesai sesuai target pemerintah.
Kementerian PU menyatakan komitmennya untuk memulihkan infrastruktur vital yang terdampak bencana hingga kembali berfungsi dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Penanganan tersebut menjadi bagian dari percepatan pemulihan pascabencana di Aceh, terutama pada jalur yang memiliki fungsi penting bagi konektivitas antardaerah.
Dengan pulihnya Jembatan Krueng Meureudu dan Ulee Langa serta hampir selesainya Jembatan Krueng Tingkeum, pemerintah terus melanjutkan proses rekonstruksi untuk mengembalikan kondisi infrastruktur yang terdampak.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kembali akses masyarakat sekaligus menjaga kelancaran distribusi logistik di sepanjang Lintas Timur Aceh.
(rel/KalibrasiNews)



