JAKARTA, Kalibrasinews.com – Harga BBM di berbagai negara melonjak tajam akibat penutupan Selat Hormuz menyusul konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya pasar energi global terhadap gejolak geopolitik yang berdampak langsung pada Harga BBM. Ketika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz terganggu, maka pasokan minyak dunia ikut terdampak secara signifikan.
Hal ini secara langsung mendorong kenaikan harga BBM di berbagai negara, terutama yang sangat bergantung pada impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Di Vietnam misalnya, harga BBM telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 26 Februari 2026. Demikian juga di Singapura, kenaikan ini memicu tekanan ekonomi bagi masyarakat dan sektor transportasi di negara tersebut.
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga merambat ke berbagai sektor lain seperti logistik, pangan, hingga industri.
Efek berantai tersebut membuat daya beli masyarakat tertekan dan berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi, khususnya di negara-negara dengan ketergantungan energi yang besar.
Di Malaysia, harga BBM nonsubsidi telah naik beruntun dalam dua pekan terakhir. Sementara di Indonesia, hingga saat ini harga subsidi maupun nonsubsidi masih belum mengalami perubahan.
Stabilitas harga BBM di Indonesia menjadi perhatian tersendiri di tengah kondisi global yang tidak menentu. Kebijakan pemerintah dalam menjaga harga dinilai sebagai langkah strategis untuk mempertahankan daya beli masyarakat, terutama menjelang momen penting seperti Ramadan dan Idulfitri yang identik dengan peningkatan konsumsi.
Siaran Pers (press release) Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI menyebutkan seorang pengguna Threads, Aldilo Vieriansyahela (@bodrexinn), memuji kebijakan pemerintah menjaga stabilitas harga BBM sehingga masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan tenang dan nyaman.
Selain itu, kestabilan harga energi juga memberikan dampak positif terhadap sektor usaha kecil dan menengah. Dengan biaya operasional yang relatif terkendali, para pelaku usaha tetap dapat menjalankan aktivitasnya tanpa harus menaikkan harga secara signifikan kepada konsumen.
“Hebat ya Bahlil (Menteri ESDM), harga BBM enggak naik,” ujarnya, dikutip pada Kamis (25/3).
Warganet lain, getirrr (@gett.irr7), juga memberikan apresiasi. Tak hanya harga BBM, pemerintah juga menjaga stabilitas harga pangan.
“Iya, patut diapresiasi bukan cuma Bahlil. Tapi pemerintahan bisa mengendalikan harga BBM dan bahan pangan yang biasanya setiap Ramadan maupun Idulfitri harga bahan pokok cenderung naik,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan harga BBM tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ketika harga energi terkendali, maka tekanan terhadap harga bahan pokok juga dapat diminimalkan, sehingga masyarakat tidak merasakan lonjakan pengeluaran secara bersamaan.
Julia Fantoni (@julia_fantoni), menuturkan bahwa dirinya tengah berada di Tailan. Di sana, harga BBM telah bergejolak, berbeda dengan di Indonesia.
Perbandingan kondisi ini semakin memperjelas posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Di saat negara lain harus menyesuaikan harga mengikuti pasar global, Indonesia masih mampu menahan laju kenaikan tersebut. Hal ini tentu tidak lepas dari berbagai kebijakan fiskal dan subsidi yang diterapkan pemerintah.
“Aku lagi di Tailan dan di sini harga bensin naik gila. Dan stok sudah mulai kosong kata guide-ku,” ucapnya.
rroonnaay (@rroonnaay) turut menanggapi. Menurutnya, pemerintah memahami bahwa dalam situasi Lebaran seperti ini, kenaikan harga BBM bakal menimbulkan efek besar.
“Hal ini memang patut diapresiasi, artinya Bahlil atau pemerintah secara keseluruhan punya rasa empati yang besar,” katanya.
Meski demikian, sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa kebijakan menahan harga BBM memiliki konsekuensi terhadap anggaran negara.
Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara memberikan perlindungan kepada masyarakat dan memastikan keberlanjutan fiskal tetap terjaga dalam jangka panjang.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami situasi sulit saat ini. Pemerintah tentu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
Menghadapi situasi yang tidak ideal, kadang pemerintah harus mengambil keputusan yang terbaik di antara pilihan-pilihan yang buruk.
“Nanti setelah momen Lebaran selesai, jangan hujat Bahlil ataupun pemerintah ya kalau harga BBM naik. Negara se-Asia Tenggara itu sudah naikin harga BBM-nya, Indonesia belum. Dengan kondisi politik dunia yang lagi begini dan harga minyak dunia yang enggak karuan, menaikan harga BBM itu suatu kebijakan yang sangat logis, realistis, demi menjaga kestabilan APBN juga. Mode hemat ya, kurangi konsumsi BBM (dampaknya impor BBM bisa ditekan), jangan panic buying,” tutupnya.
Ke depan, dinamika harga energi global masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan kestabilan pasokan minyak dunia.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam menggunakan energi serta mendukung upaya efisiensi yang dilakukan pemerintah, guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
(rel)



