Oleh Rahmat Nona *)
Ka Bukik Tinggi mancari padi,
Singgah sabanta di Parik Antang.
Lamo indak basuo hati baseri,
Alhamdulillah Sanak alumni kini alah batamu
Tambua badantiang Talempong babunyi,
Marawa tabang di ateh awan.
Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh,
Silaturahmi kito moga salalu dipatahankan.
BUKITTINGGI, KalibrasiNews.com – Reuni Akbar Lintas Angkatan SMPN 8 (lamo) yang kini bernama SMPN 7 Bukittinggi kembali pecah setelah sekian lama hanya hidup dalam ingatan.
Ada air mata haru yang tak mampu disembunyikan ketika kaki kembali menapaki halaman sekolah yang dahulu menjadi saksi tumbuhnya mimpi.
Sebuah perhelatan yang tidak hanya mempertemukan alumni berbagai generasi, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persaudaraan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Sejak pagi, para alumni memadati titik kumpul dengan mengenakan atribut angkatan.
Wajah-wajah yang dahulu dipenuhi semangat remaja kini berubah menjadi para Profesional, Pengusaha, ASN, Akademisi, hingga Tokoh Masyarakat. Namun ketika bertemu, semua jabatan dan status luruh.
Yang tersisa hanyalah satu identitas : Alumni SMPN 8 (Lamo) SMPN 7 (Kini).
Kemegahan reuni diawali dengan arakan pawai yang berlangsung meriah.
Iring-iringan alumni semakin semarak oleh dentuman Tambua dan alunan Talempong dari sanggar seni adik-adik kelas.
Di sepanjang perjalanan berkibar Marawa berdampingan dengan Merah Putih, menghadirkan perpaduan indah antara kecintaan terhadap budaya Kurai Minangkabau dan semangat kebangsaan.
Masyarakat yang menyaksikan di sepanjang rute pawai memberikan tepuk tangan dan senyum bangga.
Bagi mereka, reuni ini bukan sekadar temu kangen, tetapi bukti bahwa ikatan alumni mampu menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan berbagai generasi.
Sesampainya di halaman sekolah, seluruh rombongan disambut dengan Tari Pasambahan.
Suasana menjadi semakin khidmat ketika para alumni memasuki lingkungan sekolah yang pernah menjadi tempat mereka belajar, bercanda, bahkan menerima teguran dari guru-guru tercinta.
Penyambutan tersebut disaksikan langsung oleh Kepala Sekolah, Bapak Alexandra M., S.Pd.
Kehadiran beliau menjadi simbol eratnya hubungan antara sekolah dengan alumni yang intens memberikan perhatian terhadap perkembangan almamater.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), Hendra Eka Putra, Lurah Parit Antang, Wisnaldi, serta Direktur Utama RSAM, drg. Busril, alumni angkatan 1989 yang turut berkontribusi terhadap suksesnya penyelenggaraan Reuni Akbar Perdana ini.
Selain nostalgia, nilai kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan.
Bekerja sama dengan Tim Medis RSAM, panitia menyelenggarakan Pemeriksaan Kesehatan Gratis serta Donor Darah yang mendapat sambutan masyarakat.
Kegiatan ini membuktikan bahwa reuni bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama.
Suasana semakin hidup ketika setiap angkatan diberi kesempatan menampilkan kreativitas mereka.
Beragam pertunjukan seni, musik, hiburan, hingga penampilan budaya memenuhi panggung reuni.
Di antara seluruh penampilan, Angkatan 1992 menyita perhatian dengan menghadirkan tradisi Minangkabau yang sarat makna, yakni Makan Bagadang.
Hamparan daun pisang dibentangkan memanjang, lalu di atasnya disajikan menu khas Itiak Lado Mudo yang menggugah selera.
Para alumni duduk menikmati hidangan bersama tanpa sekat, tidak ada meja mewah, tidak ada kursi eksklusif, semua duduk sejajar dalam satu hamparan kebersamaan.
Tradisi Makan Bagadang bukan sekadar makan bersama, tapi dalam budaya Minangkabau, tradisi ini melambangkan persamaan, persaudaraan, gotong royong, dan rasa syukur.
Apa yang ditampilkan Angkatan 1992 berhasil membangkitkan rasa bangga seluruh peserta Reuni Akbar sekaligus memperkenalkan kembali nilai-nilai adat kepada generasi muda.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para pendidik, panitia juga menyerahkan cenderamata kepada para guru veteran yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik ribuan anak bangsa.
Tepuk tangan panjang mengiringi prosesi tersebut dan banyak alumni menitikkan air mata ketika kembali berjabat tangan dengan para guru yang dahulu membimbing dengan penuh kesabaran.
Di balik kesuksesan acara ini, ada satu kelompok yang layak mendapatkan apresiasi, yaitu Panitia Reuni Akbar Lintas Angkatan.
Bekerja tanpa pamrih menyatukan komunikasi lintas angkatan, menyusun acara, mengatur logistik, hingga memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar bukanlah pekerjaan yang ringan.
Berkat dedikasi, kekompakan, dan semangat pengabdian mereka, Reuni Akbar ini berhasil menoreh sejarah.
Reuni Akbar ini menjadi bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, melainkan tempat lahirnya persaudaraan yang tetap hidup hingga puluhan tahun kemudian.
Harapan besar pun mengemukan agar Reuni Akbar tidak berhenti sebagai acara seremonial semata.
Alumni berharap kegiatan ini menjadi awal lahirnya program-program nyata di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, beasiswa, kepedulian terhadap guru, hingga pembangunan sekolah yang akan terus dirasakan manfaatnya oleh generasi berikutnya.
Karena sesungguhnya, nilai sebuah reuni bukan diukur dari kemeriahan panggung atau banyaknya peserta yang hadir, melainkan dari seberapa kuat tali silaturahmi yang berhasil dirajut kembali.
Reuni Akbar ini membuktikan bahwa waktu mampu mengubah usia, wajah, dan profesi seseorang.
Namun waktu tidak akan pernah mampu menghapus kenangan indah yang pernah tumbuh di bangku sekolah.
Selama rasa memiliki terhadap almamater tetap hidup, maka persaudaraan terus menyala, menjadi warisan tak ternilai bagi keluarga besar SMPN 8 (Lamo) atau SMPN 7 (Kini) Bukittinggi.
*) Alumni 1993
(/KalibrasiNews.com)



