Padang, KalibrasiNews.com – Upaya pemulihan fasilitas pendidikan pascabencana alam di wilayah Sumatra Barat terus dikebut pemerintah dengan TNI AD. Pada Kamis (29/1), prajurit TNI dari Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol membersihkan dan merevitalisasi sejumlah sekolah dan pesantren yang terdampak bencana.
Kegiatan tersebut meliputi berbagai pekerjaan fisik sebagai bagian dari upaya Pemulihan Pendidikan, mulai dari mengganti dinding yang rusak, mengganti pintu, mengecat bangunan, memperbaiki instalasi listrik, serta mengangkut pasir, tanah, dan batu sisa bencana.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus kegiatan pembersihan kali ini adalah SMP Negeri 1 Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Di sekolah ini, prajurit TNI bersama warga membersihkan sisa material pascabencana sekaligus memperbaiki kerusakan ringan sejumlah fasilitas sekolah dalam rangka pemulihan pendidikan di wilayah terdampak.
Kegiatan serupa juga dilakukan sebagai bagian dari pemulihan pendidikan di beberapa titik lainnya yaitu di SD Negeri 09 Bancah di Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam; dan Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Paninggahan, Kabupaten Solok.
Para relawan lokal dan wali murid turut ambil bagian dalam proses pemulihan pendidikan dengan membantu mengangkat sisa material, merapikan ruang kelas, serta menata kembali perlengkapan belajar yang masih bisa digunakan.
Kehadiran masyarakat sekitar memberi dorongan moral bagi siswa dan tenaga pendidik, sekaligus mempercepat kesiapan sekolah untuk kembali menerima aktivitas belajar.
Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa pemulihan pendidikan pascabencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat.

Anggota TNI fokus pada tahap akhir perbaikan bangunan yang terdampak banjir.
Tahap Akhir Perbaikan
Di Pondok Pesantren MTI Paninggahan, anggota TNI fokus pada tahap akhir perbaikan bangunan yang terdampak banjir. Beberapa bagian pesantren yang rusak kini sudah bisa kembali difungsikan.
Selain perbaikan bangunan utama, perhatian juga diberikan pada kelengkapan sarana pendukung belajar, seperti ruang kelas, tempat ibadah, serta area bermain siswa.
Lingkungan pendidikan yang bersih dan tertata dinilai berpengaruh besar terhadap kenyamanan belajar anak-anak, terutama setelah mereka mengalami masa sulit akibat bencana.
Karena itu, proses pembersihan dilakukan menyeluruh agar sekolah dan pesantren dapat kembali menjadi ruang yang aman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Kami melaksanakan renovasi sekolah MTI Paninggahan yang terdampak bencana banjir yang lalu. Kegiatan kami adalah finishing pengecatan pagar dan tempat WC yang belum dicat. Kita dapat bantuan cat, kita laksanakan pengecatan hari ini sama kemarin,” ujar salah satu personel TNI yang membersihkan Ponpes MTI Paninggahan.
Harapannya, anak-anak bisa kembali ke sekolah seperti sedia kala dan menjalani proses belajar mengajar tanpa rasa khawatir terhadap kondisi bangunan.
Revitalisasi fasilitas pendidikan memang jadi salah satu prioritas utama pemerintah, mengingat sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter serta masa depan generasi muda di daerah terdampak bencana.
Pemerintah daerah bersama pihak sekolah juga mulai melakukan pendataan terhadap kerusakan fasilitas belajar, termasuk inventaris ruang kelas dan perlengkapan pendidikan yang terdampak banjir.
Data tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan lanjutan, baik berupa material bangunan maupun perlengkapan belajar. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar proses rehabilitasi berjalan terarah dan tepat sasaran.
Siswa dan guru yang sekolahnya rusak berat sementara melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBMG) di tenda.
Pembersihan dan perbaikan intensif terus dilakukan di sekolah-sekolah. Bertalian dengan itu, pemerintah menerapkan sejumlah skema untuk siswa dan guru yang bersifat adaptif dan fleksibel.
Di tengah keterbatasan pascabencana, semangat gotong royong antara aparat dan masyarakat menjadi modal utama untuk bangkit bersama.
Orang tua siswa turut membantu membersihkan lingkungan sekolah, sementara para guru tetap berupaya menjaga semangat belajar anak-anak meski harus menggunakan fasilitas sementara.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya soal membangun kembali gedung, tetapi juga menjaga keberlangsungan proses pendidikan.
Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan seluruh fasilitas pendidikan yang terdampak dapat segera pulih dan kembali beroperasi normal.
Pemerintah menargetkan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung stabil seiring rampungnya proses perbaikan.
Langkah berkelanjutan ini diharapkan mampu memastikan generasi muda tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak, sekaligus mempercepat kebangkitan masyarakat Sumatera Barat pascabencana.(/rel)



