PADANG, KalibrasiNews.com – Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tidak bisa dilepaskan dari posisi geopolitik Iran yang sangat menentukan arus energi global.
Hal itu disampaikan Pakar Hubungan Internasional sekaligus Sekretaris Program Studi Hubungan Internasional Universitas Andalas, Dr. Sofia Trisni, S.IP., MA (IntRel), dalam wawancara terpisah dengan Humas UNAND, Minggu (1/3/2026).
Menurut Sofi, untuk memahami motif serangan, publik perlu melihat peta strategis dunia terlebih dahulu, bukan hanya dinamika konflik mutakhir.
“Kita harus melihat posisi Iran di Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz. Jalur ini merupakan satu-satunya pintu keluar minyak dari Teluk Persia ke pasar global dan berbatasan langsung dengan Iran,” ujarnya.
Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi selat tersebut. Jika jalur ini terganggu, pasokan energi global dapat terguncang, memicu kenaikan harga minyak dan dampak domino terhadap industri di Eropa maupun negara Barat.
Karena itu, Iran memiliki leverage geopolitik yang sangat besar. “Jika jalur ini ditutup, kapal-kapal tanker tidak bisa lewat dan pasokan energi global akan terhenti. Artinya Iran memiliki posisi strategis yang sangat menentukan,” kata Sofi.
Ia menilai serangan tersebut tidak dapat dikategorikan secara sederhana sebagai pre-emptive strike ataupun sekadar eskalasi spontan. Dalam perspektif realisme hubungan internasional, peristiwa masa lalu membentuk perilaku negara saat ini.
Sofia mengingatkan bahwa sebelum Revolusi Iran 1979, Teheran adalah sekutu Barat. Setelah revolusi, Iran berubah menjadi negara yang menolak dominasi Barat, memicu rangkaian embargo ekonomi, pembekuan aset, pembatasan investasi, hingga sanksi teknologi selama puluhan tahun.
“Sejarah hubungan Iran dengan Barat penuh ketegangan. Ketika negara dengan sumber daya besar dan posisi strategis memilih tidak berpihak kepada Barat, itu menimbulkan kecemasan,” ujarnya.
Kecemasan tersebut semakin meningkat karena program nuklir Iran. Dalam logika kepentingan nasional, negara-negara industri sangat bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Kemungkinan Iran memiliki kemampuan nuklir dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan tersebut.
Karena itu, Sofi melihat serangan ini sebagai campuran antara faktor historis dan situasional. “Ada unsur perkembangan nuklir hari ini, tetapi juga ada bayang-bayang sejarah panjang konflik Iran dan Barat,” katanya.
Target: Mengurangi Ketakutan Strategis Barat
Untuk memahami sasaran operasi militer tersebut, Sofia menggunakan konsep security dilemma, yaitu kondisi ketika langkah suatu negara untuk meningkatkan keamanan justru membuat negara lain merasa terancam.
Menurutnya, program nuklir Iran menciptakan ketidakpastian besar di kalangan negara Barat. Mereka tidak yakin apakah teknologi tersebut murni untuk energi dan kesehatan atau memiliki tujuan militer.
“Ketika negara yang dianggap tidak bersahabat mengembangkan senjata strategis, tingkat kecurigaan meningkat drastis,” ujarnya.
Ia menilai target utama serangan adalah menghentikan atau setidaknya memperlambat program tersebut. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan adanya agenda politik jangka panjang.
“Negara besar cenderung menginginkan pemimpin di negara strategis yang mudah diajak bekerja sama. Jika pemimpinnya dianggap sulit diatur, maka muncul dorongan untuk perubahan kepemimpinan,” kata Sofi.
Bukan Sekadar Rivalitas Barat vs Non-Barat
Sofia tidak sepakat jika konflik ini dilihat sebagai pertarungan ideologis antara blok Barat dan non-Barat. Ia lebih menekankan faktor geopolitik dan geoekonomi.
“Ini tentang posisi geografis yang menentukan ekonomi dan politik global, bukan sekadar perbedaan ideologi,” ujarnya.
Timur Tengah menjadi pusat kepentingan banyak negara karena cadangan energinya. Siapa pun yang mengendalikan stabilitas kawasan ini akan memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia.
Dampak terhadap Abraham Accords
Normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab melalui Abraham Accords diperkirakan tetap bertahan, tetapi tidak tanpa gangguan.
Menurut Sofi, konflik berskala besar hampir selalu memaksa negara untuk memprioritaskan keamanan dibanding kerja sama diplomatik jangka panjang.
“Kesepakatan yang sudah ada kemungkinan tidak dibatalkan, tetapi akan mengalami perlambatan. Fokus negara-negara saat ini adalah meredakan konflik,” katanya.
Selain itu, posisi Iran pasca konflik juga akan memicu penyesuaian diplomatik baru di kawasan.
Risiko Perubahan Permanen Keamanan Kawasan
Sofi menilai dunia saat ini berada pada fase eskalasi konflik, tahap yang biasanya ditandai oleh ketakutan dan ketidakpastian tinggi.
Dalam kondisi tersebut, negara-negara di sekitar Iran kemungkinan akan meningkatkan kemampuan militer mereka sebagai bentuk perlindungan diri. Langkah ini berpotensi memicu perlombaan senjata regional.
“Ketika satu negara meningkatkan kekuatan militer, negara lain merasa perlu melakukan hal yang sama. Ini menciptakan arm race dan akhirnya mengubah keseimbangan kekuatan,” ujarnya.
Konsekuensinya, struktur keamanan Timur Tengah dapat berubah menuju sistem balance of power baru, di mana negara-negara kecil berusaha menyeimbangkan kekuatan negara besar agar tidak mudah didominasi.
Skenario Terburuk dan Upaya Mediasi
Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya regional tetapi global, terutama terhadap ekonomi. Sofi memperkirakan negara-negara besar, termasuk Eropa, Tiongkok, dan Rusia, tidak akan tinggal diam karena kepentingan energi dan perdagangan mereka terancam.
Sejarah konflik internasional menunjukkan bahwa ketika kerugian ekonomi global membesar, tekanan untuk gencatan senjata biasanya meningkat.
“Saya yakin akan ada banyak pihak yang mencoba menjadi mediator. Konflik berkepanjangan tidak menguntungkan siapa pun,” katanya.
Ancaman Perang Dunia Dinilai Kecil
Meskipun situasi tegang, Sofia menilai kemungkinan konflik berkembang menjadi perang dunia masih rendah. Kepentingan nasional negara-negara besar justru mendorong mereka mencari solusi damai.
Timur Tengah bukan hanya arena bagi Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga wilayah dengan kepentingan vital bagi banyak negara lain. Gangguan produksi minyak atau jalur distribusi energi akan merugikan hampir seluruh ekonomi dunia.
“Kerugian globalnya terlalu besar jika perang meluas. Karena itu, negara-negara besar cenderung mendorong penyelesaian diplomatik,” ujarnya.
Serangan 28 Februari 2026 waktu setempat, dalam pandangan Sofia Trisni, lebih tepat dilihat sebagai benturan kepentingan strategis yang berakar pada sejarah panjang, ketakutan keamanan, dan perebutan kendali atas sumber daya vital dunia.
Apakah konflik ini akan mereda atau justru membuka babak konfrontasi baru?!
Namun, hal itu sangat bergantung pada kemampuan para aktor global untuk menahan diri dan menegosiasikan ulang keseimbangan kekuatan di kawasan paling sensitif di planet ini.
(/rel)



