Oleh Dr. Sosmiarti, S.E., M.Si. & Fadhil Aptana Sadjiana, S.E. *)
PADANG, KalibrasiNews.com – Bencana mungkin terjadi puluhan atau bahkan ratusan kilometer dari rumah kita namun dampaknya bisa tiba-tiba terasa di meja makan.
Ketika banjir merendam sawah, longsor memutus jalan, atau kekeringan menyebabkan gagal panen, pasokan pangan dapat berkurang dan distribusi menjadi terganggu.
Tidak lama kemudian, harga beras, cabai, sayuran, dan berbagai kebutuhan sehari-hari bisa ikut naik.
Di situlah bencana tidak lagi hanya menjadi persoalan daerah yang terdampak, namun juga masuk ke dapur, memengaruhi dompet, dan mengurangi daya beli masyarakat.
Indonesia memang tidak asing dengan yang namanya bencana.
Posisi geografis dan kondisi alam membuat berbagai daerah menghadapi risiko gempa bumi, banjir, longsor, letusan gunung api, kekeringan, hingga cuaca ekstrem.
Perubahan iklim juga membuat ancaman terhadap sektor pangan yang semakin perlu diperhatikan.
Persoalannya, ketika bencana terjadi, dampak ekonominya sering kali jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat semata.
Rumah dan jalan yang rusak mungkin dapat dibangun kembali.
Namun, bagaimana dengan petani yang kehilangan penghasilan dan produksinya selama satu musim panen?
Pedagang kecil yang kehilangan tempat berjualan?
Nelayan yang tidak dapat melaut? Atau pekerja harian yang kehilangan penghasilan selama berminggu-minggu?
Bagi keluarga dengan tabungan dan sumber pendapatan yang cukup, kondisi tersebut mungkin masih bisa dilewati.
Tetapi bagi masyarakat berpendapatan rendah, kehilangan penghasilan beberapa hari saja dapat menjadi persoalan serius.
Situasinya menjadi semakin berat ketika kehilangan pendapatan terjadi bersamaan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Dari Bencana Menjadi Inflasi
Hubungan antara bencana dan kenaikan harga sebenarnya cukup sederhana.
Ketika suatu daerah yang memproduksi pangan terdampak, maka jumlah barang yang dihasilkan dapat menurun.
Jika jalan dan jembatan rusak, maka distribusi dari produsen menuju pasar juga menjadi lebih sulit.
Hal tersebut menyebabkan barang menjadi lebih sedikit dan lebih mahal untuk dikirim, sementara masyarakat tetap membutuhkan makanan setiap hari.
Dalam ekonomi, kenaikan harga secara umum dan terus-menerus dikenal sebagai inflasi.
Namun bagi masyarakat, persoalannya jauh lebih sederhana: uang yang sama tidak lagi mampu membeli barang sebanyak sebelumnya.
Inilah mengapa inflasi bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi.
Ketika harga pangan meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah, keluarga harus membuat pilihan.
Pengeluaran untuk makanan mungkin tetap dipertahankan, tetapi kebutuhan lain mulai dikurangi.
Seperti, belanja pendidikan ditunda, pemeriksaan kesehatan diabaikan, tabungan digunakan, bahkan sebagian keluarga terpaksa berutang.
Pada titik inilah persoalan bencana dapat berubah menjadi persoalan kemiskinan.
Yang Paling Rentan Merasakan Dampaknya
Bencana memang tidak memilih siapa yang akan terdampak.
Namun kemampuan setiap orang untuk bangkit tidaklah sama.
Masyarakat miskin dan kelompok rentan biasanya memiliki tabungan yang lebih sedikit, perlindungan keuangan terbatas, serta sangat bergantung pada pendapatan harian.
Ketika sumber penghasilan mereka hilang, kemampuan untuk bertahan menjadi jauh lebih kecil.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali jalan, jembatan, dan rumah, tetapi, yang juga harus dibangun kembali adalah kehidupan ekonomi masyarakat.
Petani harus dapat kembali berproduksi, UMKM perlu kembali menjalankan usaha, pasar harus terus berfungsi, lapangan pekerjaan harus tersedia, dan akses terhadap modal dan layanan keuangan juga harus dipulihkan.
Di sinilah pembangunan berbasis Sustainable Livelihood menjadi penting.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan/skill, aset, jaringan sosial, akses pembiayaan, dan sumber penghasilan yang lebih beragam agar tidak kehilangan seluruh penopang kehidupan ketika satu bencana datang.
Pemerintah Harus Hadir Sebelum Harga Melonjak
Penanganan bencana juga perlu terhubung dengan kebijakan ekonomi.
Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan jalur distribusi pangan dapat segera dipulihkan, cadangan pangan tersedia, dan pasokan kebutuhan pokok dapat dialihkan dari daerah lain ketika suatu wilayah mengalami gangguan produksi.
Koordinasi dengan Bank Indonesia juga penting dalam menjaga stabilitas harga, terutama kenaikan harga pangan akibat bencana.
Pengendalian inflasi tidak dapat hanya dilakukan setelah harga terlanjur melonjak, tetapi jauh sebelum harga mengalami peningkatan juga mesti diperhatikan.
Tidak hanya itu, informasi mengenai cuaca, produksi pangan, kondisi distribusi, dan potensi bencana harus menjadi bagian penting dari sistem peringatan ekonomi.
Artinya, kita tidak hanya sekadar membutuhkan peringatan dini saja, tetapi juga perlu membangun kesiapsiagaan terhadap dampak ekonominya, yang bahkan dapat meluas.
Perlindungan sosial pun harus semakin adaptif ketika bencana menyebabkan masyarakat kehilangan pendapatan, bantuan harus dapat menjangkau mereka dengan cepat dan tepat.
Bukan hanya bantuan untuk bertahan hidup beberapa hari, tetapi juga dukungan agar masyarakat dapat kembali bekerja dan memperoleh penghasilan.
Ketahanan Dimulai dari Rumah Tangga
Masyarakat juga memiliki peran yang penting dan keluarga perlu mulai membangun dana darurat, menghindari utang konsumtif yang berlebihan, memiliki perlindungan terhadap aset, dan tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan.
Oleh karena itu literasi keuangan juga merupakan bagian dari mitigasi bencana.
Kita mungkin tidak dapat menghentikan gempa bumi, hujan ekstrem, atau kekeringan.
Tetapi kita dapat memperkecil kemungkinan sebuah keluarga kehilangan seluruh kemampuan ekonominya ketika terjadi.
Pada akhirnya, ketahanan ekonomi bukan hanya tentang seberapa cepat ekonomi Indonesia tumbuh, tetapi juga seberapa kuat masyarakatnya ketika menghadapi guncangan.
Jangan sampai bencana yang terjadi hanya beberapa hari meninggalkan kemiskinan selama bertahun-tahun.
Arti pembangunan yang sesungguhnya bukan sekadar membuat masyarakat mampu hidup lebih baik ketika keadaan sedang baik, tetapi esensi dari pembangunan juga harus membuat mereka tetap mampu bertahan ketika keadaan memburuk, bangkit ketika pascabencana, dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih sejahtera.
Sebab ketika bencana masuk ke dapur masyarakat, yang harus kita pulihkan bukan hanya harga dan ekonomi, tetapi juga harapan untuk kembali hidup lebih baik. (*)
*) Dosen Ekonomi Universitas Andalas dan pakar Ekonomi Kebencanaan serta Kemiskinan Berbasis Sustainable Livelihood.
*) Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Andalas dengan konsentrasi Makroekonomi dan Ekonomi Moneter.



