Opini: Benarkah Ekonomi Indonesia Masih Baik-Baik Saja?

Oleh Fadhil Aptana Sadjiana *)

PADANG, Kalibrasinews.com – Indonesia kembali menghadapi satu pertanyaan yang selalu muncul setiap kali gejolak ekonomi datang yaitu “Apakah ekonomi kita benar-benar kuat, atau hanya terlihat kuat selama badai belum terlalu besar?”.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, level yang bukan hanya mengundang kekhawatiran pasar, tetapi juga kecemasan publik.

Pada awal Juni 2026, kurs JISDOR Bank Indonesia bahkan tercatat melemah ke sekitar Rp18.039 per dolar AS, memperlihatkan tekanan yang belum benar-benar mereda.

Bagi sebagian orang, angka kurs mungkin tampak seperti sekadar statistik ekonomi di layar televisi atau berita keuangan.

Namun sesungguhnya, pelemahan rupiah adalah persoalan yang efek dominonya dapat menjalar ke hampir seluruh lapisan ekonomi nasional.

Dari harga kebutuhan pokok, biaya produksi industri, hingga keputusan investor di pasar saham, semuanya ikut terguncang.

Masalahnya, pelemahan rupiah kali ini tidak berdiri sendiri.

Ada kombinasi faktor global dan domestik yang sedang menekan ekonomi Indonesia secara bersamaan.

Dari sisi global, penguatan dolar AS masih berlangsung akibat tingginya ekspektasi pasar bahwa suku bunga Amerika Serikat tetap tinggi lebih lama.

Ketika dolar menguat, negara berkembang seperti Indonesia biasanya menjadi pihak yang paling rentan karena investor asing cenderung menarik dananya menuju aset yang dianggap lebih aman (safe haven).

Namun akan terlalu mudah jika semua kesalahan dilempar pada faktor eksternal.

Faktanya, rupiah pada Mei 2026 bahkan disebut menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di antara negara berkembang, melemah hampir 2,9% secara bulanan.

Artinya, ada faktor domestik yang ikut memperparah tekanan tersebut.

Tingginya kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan asing, hingga kebutuhan musiman seperti pembayaran haji dan impor menjadi penyebab tambahan yang membuat permintaan dolar meningkat tajam.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap pasar saham?

Jawabannya terlihat jelas di layar Bursa Efek Indonesia.

IHSG mengalami koreksi tajam, bahkan sempat jatuh lebih dari 4% dalam satu hari perdagangan dan turun ke bawah level psikologis 6.000.

Investor asing mulai berhati-hati, bahkan cenderung melepas aset berisiko ketika melihat rupiah semakin rapuh.

Ini adalah hubungan klasik dalam ekonomi pasar, ketika mata uang melemah terlalu cepat, pasar saham biasanya ikut terkena tekanan.

Mengapa demikian?

Karena pelemahan rupiah meningkatkan risiko bagi investor asing.

Bayangkan seorang investor luar negeri memperoleh keuntungan saham 10% di Indonesia, tetapi pada saat yang sama rupiah melemah 12%.

Dalam hitungan dolar, keuntungan tersebut praktis berubah menjadi kerugian.

Akibatnya, investor memilih menarik dana mereka, yang kemudian menciptakan tekanan jual besar-besaran di pasar saham.

Yang lebih mengkhawatirkan, pelemahan rupiah juga berpotensi menekan sektor riil ekonomi.

Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor, terutama bahan baku industri, energi, dan komponen manufaktur.

Ketika dolar mahal, biaya produksi otomatis meningkat.

Perusahaan akan menghadapi dua pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menanggung margin keuntungan yang menyusut.

Jika harga barang naik, masyarakat yang akhirnya menanggung beban melalui inflasi.

Daya beli masyarakat dapat menurun, konsumsi rumah tangga melemah, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi ikut melambat.

Padahal selama ini, konsumsi domestik adalah salah satu “mesin utama” pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas rupiah agar tidak semakin melemah.

Salah satu caranya adalah menaikkan suku bunga acuan atau mempertahankannya tetap tinggi untuk menarik dana asing masuk ke Indonesia.

Bahkan BI telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25% sebagai bagian dari strategi stabilisasi rupiah.

Namun di sisi lain, suku bunga tinggi juga memiliki konsekuensi.

Kredit menjadi lebih mahal, dunia usaha cenderung menahan ekspansi, dan masyarakat lebih berhati-hati dalam konsumsi.

Artinya, kebijakan menjaga kurs bisa saja memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Inilah mengapa pelemahan rupiah tidak boleh dipandang hanya sebagai isu pasar uang.

Ia adalah cerminan kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Ketika investor melihat kepastian kebijakan fiskal dan moneter kuat, mereka akan tetap bertahan.

Sebaliknya, ketidakpastian politik, arah kebijakan yang berubah-ubah, atau sentimen negatif akan mempercepat arus keluar modal.

Meski demikian, terlalu pesimistis juga bukan jawaban.

Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi cadangan devisa yang relatif memadai, sistem perbankan yang masih kuat, serta fundamental konsumsi domestik yang cukup besar.

Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas.

Bahkan BI memproyeksikan tekanan rupiah berpotensi mereda pada semester kedua 2026 jika kondisi global membaik.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah rupiah akan kembali menguat?, melainkan “Seberapa siap Indonesia menghadapi dunia yang semakin tidak pasti?”.

Karena pada akhirnya, nilai tukar bukan sekadar angka di papan elektronik.

Ia adalah termometer kepercayaan terhadap ekonomi bangsa.

Dan ketika rupiah mulai demam, seluruh tubuh ekonomi nasional ikut merasakan panasnya.

Pada akhirnya, ukuran kesehatan ekonomi sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kuat atau lemahnya nilai tukar, melainkan oleh kemampuan menghadapi tekanan dan bangkit dari setiap tantangan.

Indonesia memiliki potensi besar, sumber daya melimpah, serta pasar domestik yang kuat.

Tantangan ke depan adalah memastikan seluruh potensi tersebut dikelola secara efektif sehingga setiap gejolak ekonomi tidak berubah menjadi krisis yang berkepanjangan, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional.

*) Mahasiswa Magister Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini