PADANG PARIAMAN, KalibrasiNews.com – Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) kembali membuka ruang bagi masyarakat untuk bertemu dan berinteraksi melalui program Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT).
Memasuki edisi ke-11, KRNT menghadirkan pameran, pertunjukan, serta berbagai aktivitas seni yang mempertemukan seniman, masyarakat dan generasi muda.
KRNT #11 berlangsung pada 5–12 September 2026 di Sekretariat KSNT, Korong Kasai, Nagari Kasang, Padang Pariaman.
Tahun ini, kegiatan tersebut mengangkat hubungan manusia, budaya dan alam melalui dua agenda utama, yakni pameran seni rupa kampanye “Harimau Adalah Minang” bertajuk Harimau, Kemudian Kita dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan Angkatan III bertema Ada Banyak Kita Di Sini.
Bagi KSNT, KRNT bukan sekadar agenda pertunjukan atau pameran seni.
Program ini menjadi ruang pertemuan yang memungkinkan masyarakat ikut terlibat dalam proses apresiasi, pembelajaran dan dialog melalui pendekatan seni.
Pameran Harimau, Kemudian Kita digarap bersama Sumatera Wild Adventure dan Kelompok SILOTIGO.
Melalui karya-karya yang ditampilkan, pengunjung KRNT #11 diajak melihat Harimau Sumatera bukan hanya dari sisi jumlah populasi dan ancaman kepunahan, tetapi juga dari hubungan satwa tersebut dengan ingatan, budaya dan kehidupan masyarakat.
Harimau, Budaya dan Persoalan Lingkungan
Kurator pameran sekaligus Ketua KSNT, Mahatma Muhammad, mengatakan gagasan pameran berangkat dari kegelisahan mengenai cara manusia membicarakan harimau.
Selama ini, pembahasan konservasi lebih sering berkutat pada jumlah populasi, habitat, konflik, perburuan dan kerusakan hutan.
“Sudah lumrah, ketika harimau dibicarakan dalam percakapan mengenai konservasi, perhatian segera diarahkan kepada jumlah populasinya, luas habitat yang tersisa, konflik dengan manusia, perburuan, perdagangan satwa, atau kerusakan hutan. Pertanyaan itu penting. Tanpa pengetahuan mengenai kondisi konkret Harimau Sumatera yang hingga hari ini masih berstatus Critically Endangered, pembicaraan tentang pelestarian mudah berubah menjadi romantisme, kerinduan pada satwa yang lebih nyaman dibayangkan daripada dihadapi,” ujarnya.
Menurut Mahatma, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebudayaan memandang keberadaan harimau.
Apakah satwa tersebut hanya ditempatkan sebagai objek konservasi, atau juga memiliki posisi dalam ingatan, cerita, pengetahuan dan cara masyarakat memahami alam.
Gagasan itu kemudian melahirkan judul Harimau, Kemudian Kita.
Kata “kemudian” dipilih untuk menunjukkan adanya jarak antara keberadaan harimau dengan manusia serta berbagai perubahan yang terjadi setelahnya.
“Harimau, kemudian kita. Ada urutan yang dibiarkan. Harimau datang lebih dulu, dengan hutan, tubuh, ketakutan, pengetahuan, konflik, mitos, dan kehilangan yang dibawanya. Kita datang kemudian. Pertanyaannya sederhana: apa yang terjadi setelah itu?” kata Mahatma.
Dalam konteks Minangkabau, istilah Inyiak atau Inyiak Balang memperlihatkan adanya penghormatan sekaligus hubungan kultural dengan harimau.
Namun, Mahatma mengingatkan bahwa pemaknaan tersebut tidak lantas berarti masyarakat masa lalu memiliki sistem konservasi yang sempurna.
“Klaim semacam itu membuat kebudayaan berhenti hidup dan berubah menjadi benda museum. Istilah kearifan lokal terlalu sering dipakai sebagai jalan pintas. Padahal kebudayaan selalu berubah, masyarakat selalu bernegosiasi dengan kebutuhan hidupnya, dan hubungan manusia dengan alam tidak pernah bebas dari kepentingan yang saling berebut,” jelasnya.
Gagasan tersebut diterjemahkan para perupa melalui beragam pendekatan.
Boy Nistil menghadirkan karya Warna yang Berubah dan Alam Budaya dan Habitat. Olimsyaf Putra Asmara menampilkan Inyiak di Jalan Raya, sementara Imam Teguh menghadirkan Harimau di Minang dan Di Bancah.
Karya lainnya datang dari Diah Anggi melalui Silek Harimau, Matasegara lewat fotografi slow shutter, serta Jimmi Kartolo dengan Ego yang Dikuliti.
Rendy NJ menghadirkan Ooiikk! Hihihi, sedangkan anak-anak Kelas Seni Rupa Kelana Akhir Pekan menampilkan Harimau, Hutan dan Kami.
KRNT #11 Jadi Ruang untuk Banyak Ekspresi
Rangkaian KRNT #11 tidak berhenti pada pameran mengenai harimau.
Program ini juga menjadi panggung bagi peserta Kelana Akhir Pekan Angkatan III untuk mempresentasikan hasil belajar selama April–Agustus 2026.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang dan mengikuti kelas Silek, Teater, Musik, Tari, Seni Rupa hingga Menulis Kreatif.
Ada anak-anak, pelajar, mahasiswa, pekerja harian lepas dan ibu rumah tangga yang mengikuti proses belajar seni secara gratis di KSNT.
Melalui Ada Banyak Kita Di Sini, perbedaan latar belakang tersebut justru ditempatkan sebagai bagian dari karya.
Peserta tidak dituntut menghasilkan sesuatu yang seragam, tetapi diberi ruang untuk menunjukkan proses dan pengalaman masing-masing.
Kolektif SILOTIGO juga menghadirkan karya raksasa Harimau, Kemudian Kita, mural sepanjang 24 meter di Pos Pemuda RT 04, serta Lingkaran Roda Gigi Bertabur Merak.
Ketiga karya tersebut memperluas pembahasan mengenai satwa, lingkungan, kehidupan masyarakat dan perkembangan industri.
Rangkaian kegiatan turut diisi Tur dan Bincang Karya serta peluncuran buku Harimau Adalah Minang: Jejak Harimau dalam Tradisi, Kepercayaan, dan Ingatan Orang Minangkabau karya Novi Rovika dan Sefniwati.
Masyarakat Korong Kasai dan Nagari Kasang juga dapat mengikuti berbagai pelatihan kreatif, mulai dari membuat asbak gypsum, melukis di atas limbah pohon, membuat bunga plastik, kolase kain perca hingga kreasi celengan dan kotak pensil dari bahan daur ulang.
Pada sore dan malam hari, KRNT #11 dimeriahkan pertunjukan budaya dari sejumlah kelompok seni.
Pemutaran film karya sineas Sumatera Barat juga menjadi bagian dari rangkaian acara, dengan karya seperti Siampa, Tunduak Padi, Manjapuik Raso, Galatiak dan Barendo.
Melalui KRNT #11, KSNT mempertemukan kerja pelestarian satwa dengan praktik kebudayaan dalam satu ruang.
Kegiatan ini terbuka bagi pelajar, mahasiswa, pelaku seni, komunitas, orang tua peserta serta masyarakat Nagari Kasang, khususnya Korong Kasai.
Bagi KSNT, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ruang seni tetap terbuka bagi berbagai kalangan.
KRNT tidak hanya menawarkan pertunjukan untuk ditonton, tetapi juga pengalaman belajar, berdialog dan menghasilkan karya bersama. (*)



