Mengharukan! Isi Surat Siswi Alor NTT untuk Prabowo: Rintihan Kami Didengar, Sekolah Kami Diperbaiki

ALOR, KalibrasiNews.com — Surat seorang siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan fasilitas pendidikan yang aman dan nyaman di daerah.

Begitu tersentuh program Revitalisasi Sekolah, rasa syukur mengalir deras dari guratan pena yang menyentuh hati. Surat yang ditulis Ferona Keren Balol itu terasa sederhana namun tulus. Justru karena kesederhanaan penuturannya, surat tersebut begitu menyentuh.

Surat itu tidak hanya menjadi ungkapan pribadi seorang pelajar di pelosok timur Indonesia, tetapi juga cerminan suara banyak anak bangsa yang selama ini belajar dalam keterbatasan.

Di berbagai wilayah terpencil, kondisi sekolah yang jauh dari standar kelayakan masih menjadi tantangan nyata.

Apa yang ditulis Ferona seakan mewakili kegelisahan ribuan siswa lain yang berharap ruang kelas mereka tak lagi bocor saat hujan turun, tak lagi panas menyengat saat kemarau tiba, dan tak lagi mengkhawatirkan keselamatan ketika angin kencang berembus.

Kesederhanaan kalimatnya justru memperlihatkan betapa tulus dan murninya harapan seorang anak terhadap masa depan pendidikannya.

(Foto: Bakom RI)
Foto isi suratnya dari seorang siswi SMA Negeri 3 Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Di dalam suratnya, Ferona hanya ingin berterima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto karena tempatnya menimba ilmu menjadi salah satu dari sekian banyak sekolah di Kabupaten Alor yang mendapatkan dana program Revitalisasi Sekolah. “Ada rasa bangga dan juga terharu dalam lubuk hati yang paling dalam. Karena kurang lebih 9 tahun perjalanan, sekolahku masih menyeka keringat dan air mata,” demikian salah satu paragraf dari isi surat yang ditulis Ferona.

Ferona mengisahkan, jangankan gedung yang layak, sekolah yang didirikan pada 2016 ini juga seperti terasing. Selain sulit dijangkau, mereka pun harus belajar di balik tembok yang rapuh, yang selalu diliputi kecemasan ruang kelas akan roboh.

Belum lagi dengan terik matahari di Alor yang terkenal menyengat. Dinding tripleks sekolah rasanya tak mampu menahan kobaran sinar dari matahari yang begitu panas.

Kondisi tersebut tentu tidak mudah dijalani setiap hari. Belajar dalam ruang panas tanpa sirkulasi memadai membuat konsentrasi mudah buyar.

Para guru pun harus berupaya ekstra menjaga semangat siswa agar tetap fokus menerima pelajaran. Dalam situasi seperti itu, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan perjuangan fisik dan mental.

Ketabahan para siswa dan tenaga pendidik di SMAN 3 Kalabahi menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas tidak pernah sepenuhnya memadamkan cita-cita.

Apalagi atapnya yang seng dengan tanpa dilapisi langit-langit membuat hawa hangat matahari menjalar hingga ke dalam ruangan. “Tapi, terima kasih karena rintihan dan keluhan kami akhirnya didengar. Ada harapan baru bagi sekolah kami bisa mendapatkan bantuan dana revitalisasi untuk tempat belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan di kelas baru,” tulis Ferona.

Program Revitalisasi Sekolah yang menyentuh wilayah Alor menjadi titik balik penting bagi sekolah tersebut.

Bantuan yang datang bukan hanya memperbaiki bangunan secara fisik, tetapi juga menghidupkan kembali rasa percaya diri para siswa.

Mereka kini dapat belajar tanpa rasa cemas terhadap kondisi bangunan. Perubahan itu menghadirkan atmosfer baru yang lebih positif, di mana semangat belajar tumbuh seiring dengan lingkungan yang lebih aman dan nyaman.

Kini, ruang kelas di SMAN 3 Kalabahi sudah kokoh. Pintu, dinding, langit-langit, hingga atap tampak kuat. Agaknya hawa matahari pun tak sanggup lagi untuk bisa menerobosnya.

Transformasi fisik sekolah turut membawa dampak psikologis yang besar. Ruang kelas yang kokoh memberi rasa aman, sementara fasilitas yang memadai mendorong interaksi belajar menjadi lebih aktif.

Para siswa kini dapat mengikuti pelajaran dengan lebih fokus, berdiskusi dengan nyaman, serta menatap papan tulis tanpa gangguan silau cahaya atau panas berlebih. Lingkungan belajar yang layak menjadi fondasi penting dalam membangun generasi muda yang percaya diri dan berdaya saing.

Di dalam kelas pun fasilitas belajar lengkap mulai dari kursi, meja, hingga papan tulis yang memadai. “Sehat selalu ya, Bapak. Negeri Ini masih sangat membutuhkan Bapak. Orang baik, berhati mulia. Rindu kami Bapak dapat menginjakkan kaki di sekolah yang sudah Bapak dirikan ini. Peluk hangat dari kami,” kata Ferona menutup suratnya.

Kisah yang dituliskan Ferona bukan sekadar ungkapan terima kasih, melainkan potret harapan dari sudut timur Indonesia yang akhirnya menemukan jawabannya.

Dari ruang kelas berdinding tripleks yang rapuh hingga bangunan kokoh yang berdiri hari ini, perjalanan itu menjadi simbol bahwa perubahan nyata bisa hadir ketika perhatian benar-benar diwujudkan dalam tindakan.

Surat sederhana itu akan selalu menjadi pengingat bahwa pendidikan yang layak bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap anak bangsa di kota besar maupun di pelosok negeri.

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini