SERANG, KalibrasiNews.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) resmi membuka rangkaian Seminar Anugerah Jurnalistik Adinegoro dan Workshop Fotografi Jurnalistik di Ruang Multimedia Gedung Rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang. Kegiatan ini menjadi bagian awal peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai ruang penguatan kapasitas dan refleksi profesi jurnalistik.
Melalui seminar dan workshop, PWI mendorong terciptanya dialog kritis antara praktisi pers, akademisi, dan mahasiswa mengenai tantangan jurnalisme kontemporer, mulai dari tekanan kecepatan informasi, etika pemberitaan, hingga transformasi teknologi digital yang mengubah pola produksi dan konsumsi berita.
Acara ini dihadiri oleh:
- Akhmad Munir (Ketua Umum PWI Pusat)
- Zaenal Mutaqin (Staf Ahli Gubernur Banten Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum)
- Prof. Dr. Ir. H. Fatah Sulaiman (Rektor Untirta)
- Leo Agustino (Dekan Fisip Untirta)
Dan juga para dosen, wartawan, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten.
Kehadiran lintas unsur tersebut mencerminkan semangat kolaboratif yang menjadi ruh utama peringatan HPN 2026. Interaksi antara wartawan senior, pejabat publik, dan civitas akademika diharapkan mampu memperkaya perspektif serta memperkuat jejaring profesional, khususnya bagi mahasiswa yang tengah mempersiapkan diri memasuki dunia jurnalistik dan komunikasi publik.
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menegaskan, seminar Adinegoro dan workshop fotografi jurnalistik berperan penting dalam menjaga nilai-nilai jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, pers Indonesia memiliki sejarah perjuangan dan keberpihakan pada kepentingan bangsa.
Dalam konteks perubahan lanskap media, Akhmad Munir sebagai Ketum PWI juga menyoroti pentingnya menjaga independensi pers di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan.
Ia menilai, kredibilitas wartawan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi oleh ketepatan, kedalaman, serta keberanian memegang prinsip etik, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu sensitif yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Seminar Adinegoro bukan sekadar mengenang tokoh pers nasional, tetapi juga merawat nilai dan sejarah perjuangan pers.
Tantangan jurnalisme kian kompleks, sehingga generasi muda perlu dibekali pemahaman, integritas, dan keterampilan agar pers tetap relevan dan bermartabat,” ujarnya.
Ia menambahkan, workshop fotografi jurnalistik diharapkan mengasah kepekaan visual dan kemampuan praktis peserta dalam menyampaikan pesan jurnalistik yang kuat dan bertanggung jawab.
Workshop fotografi jurnalistik sendiri dirancang dengan pendekatan praktis dan kontekstual, mencakup pemahaman etika visual, teknik pengambilan gambar, hingga narasi foto yang mampu memperkuat pesan berita.
Melalui sesi ini, peserta diajak memahami bahwa foto jurnalistik bukan sekadar pelengkap teks, melainkan medium penting dalam membangun kepercayaan publik dan merekam realitas sosial secara akurat.
Rektor Untirta Prof. Fatah Sulaiman mengapresiasi kepercayaan PWI yang memilih Untirta sebagai lokasi rangkaian HPN 2026. Ia menilai kolaborasi dunia akademik dan pers strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pihak Untirta memandang kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperluas peran perguruan tinggi dalam mendukung ekosistem pers yang sehat.
Kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan etika profesional, sehingga lulusan yang dihasilkan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan kehidupan demokrasi.
“Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Untirta mendukung pers yang profesional, beretika, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan,” katanya.
Ia menekankan nilai keteladanan Adinegoro harus menjadi kompas moral bagi insan pers dan generasi muda.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Banten Zaenal Mutaqin menyampaikan dukungan Pemprov Banten terhadap penyelenggaraan HPN 2026. Ia menilai pers merupakan pilar demokrasi dan mitra kritis pemerintah.
Pemerintah daerah berharap sinergi dengan insan pers dapat terus terjalin secara konstruktif, khususnya dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.
Pers yang kuat dan bertanggung jawab dinilai berperan penting dalam menjaga transparansi, mendorong partisipasi publik, serta memperkuat kepercayaan antara pemerintah dan warga.
“Nilai Adinegoro mengajarkan keberanian, kecerdasan, dan nasionalisme. Pers diharapkan menyampaikan realitas secara jujur dan bertanggung jawab sebagai umpan balik konstruktif bagi kebijakan publik,” ujarnya.
Selain seminar dan workshop, rangkaian HPN 2026 diharapkan menghadirkan berbagai agenda lanjutan yang melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
PWI menargetkan kegiatan ini mampu meninggalkan dampak jangka panjang, terutama dalam membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya jurnalisme berkualitas sebagai fondasi kehidupan demokratis di era digital.
Seminar dan workshop ini menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bagi insan pers, akademisi, dan mahasiswa untuk memperkuat peran jurnalisme di era digital.
(/rel)



