PADANG, KalibrasiNews.com — Tim Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) Universitas Andalas (Unand) melanjutkan pengkajian potensi dan persoalan pembangunan di Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui transek dan Focus Group Discussion (FGD) II pada 28 Agustus 2026 itu menjadi tahap lanjutan untuk memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan temuan awal masyarakat dan tim pengabdi.
Dalam rilis yang diterima redaksi pada Senin (19/10/2026), disebutkan bahwa kegiatan tersebut berfokus pada verifikasi potensi dan permasalahan yang sebelumnya dihimpun dalam FGD I.
Tim menelusuri kondisi nagari serta membahas temuan yang berkaitan dengan sejumlah sektor, sehingga data yang dikumpulkan tidak hanya bersumber dari diskusi, tetapi juga dilengkapi pengamatan langsung.
Hasil transek memperlihatkan bahwa pertanian masih menjadi salah satu sektor penting bagi masyarakat Nagari Koto Tuo.
Namun, kegiatan ini juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, mulai dari persoalan irigasi, pengetahuan budidaya, pemupukan, hingga kebiasaan menerapkan praktik pertanian secara turun-temurun.
Berbagai kendala tersebut menjadi bahan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan peluang perbaikan dalam pengembangan sektor pertanian setempat.
Temuan itu menunjukkan pentingnya pengumpulan informasi yang lebih terstruktur sebelum program pembangunan atau pendampingan dirancang.
Data yang jelas dapat membantu pemerintah nagari dan masyarakat memahami persoalan yang perlu diprioritaskan, sekaligus melihat potensi yang dapat dikembangkan.
Dengan demikian, perencanaan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi bertumpu pada kondisi yang telah dikaji dan diverifikasi.
Basis Data Digital untuk Pemetaan Potensi Nagari
Selain memeriksa kondisi sektor pertanian, kegiatan PKM-DB Unand turut menyoroti kebutuhan akan data nagari yang terintegrasi.
Informasi mengenai pertanian, peternakan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kelembagaan, serta potensi lainnya saat ini masih tersebar pada berbagai kelompok dan belum terkumpul dalam satu basis data yang dapat dimanfaatkan bersama.
Ketersebaran informasi tersebut dapat menyulitkan proses pencarian data ketika pemerintah nagari perlu menyusun rencana, menentukan prioritas, atau memperbarui informasi mengenai potensi wilayah.
Karena itu, pengembangan basis data potensi Nagari Koto Tuo secara digital dipandang sebagai salah satu kebutuhan penting untuk mendukung pengelolaan informasi yang lebih tertata.
Data yang dikumpulkan dan diverifikasi melalui rangkaian FGD, observasi, dan transek akan menjadi bahan awal pembangunan sistem informasi nagari berbasis web pada tahap berikutnya.
Sistem tersebut direncanakan untuk membantu menghimpun informasi dalam satu wadah, sehingga data terkait potensi dan kebutuhan nagari lebih mudah diakses serta diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.
Secara garis besar, informasi yang dihimpun dalam proses ini mencakup:
- Pertanian dan peternakan, untuk memetakan kegiatan utama masyarakat serta tantangan dan peluang pengembangannya.
- UMKM dan potensi ekonomi, untuk mengenali aktivitas usaha dan sumber daya lokal yang dapat dikembangkan.
- Kelembagaan nagari, untuk mencatat unsur organisasi dan kelompok yang berperan dalam kegiatan masyarakat.
- Potensi wilayah lainnya, termasuk pariwisata dan informasi yang diperlukan dalam penyusunan rencana pengembangan nagari.
Tim menerapkan pendekatan living laboratory, yakni menjadikan proses pengkajian dan pengembangan sebagai ruang belajar bersama antara tim pengabdi dan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, digitalisasi tidak berhenti pada pembuatan situs atau sistem, melainkan juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan kelembagaan nagari dalam menyediakan, memperbarui, serta memanfaatkan data bagi perencanaan pembangunan.
Hasil transek dan FGD II selanjutnya akan menjadi landasan pelaksanaan FGD III, finalisasi data potensi, serta penyusunan rencana strategis pengembangan Nagari Koto Tuo.
Rencana tersebut diarahkan untuk menghubungkan potensi pertanian, peternakan, pariwisata, dan UMKM dengan penguatan sistem informasi nagari agar pengembangan wilayah dapat dilakukan secara lebih terarah.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim pengabdi juga memfasilitasi kerja sama antara Nagari Koto Tuo dan Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang.
Pengalaman dalam pemanfaatan situs nagari untuk pelayanan masyarakat menjadi salah satu motivasi bagi pemerintah Nagari Koto Tuo dalam menyiapkan digitalisasi serupa.
Kerja sama ini diharapkan membuka ruang berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi dalam pelayanan dan pengelolaan informasi nagari.
Melalui tahapan tersebut, program pengabdian Unand diharapkan dapat membantu Nagari Koto Tuo membangun basis data yang lebih teratur sekaligus memperkuat kapasitas lokal dalam mengelola informasi.
Data yang terverifikasi dan dapat diperbarui akan menjadi modal penting untuk menyusun program sesuai kebutuhan masyarakat, memetakan potensi daerah, serta menjaga agar perencanaan pembangunan memiliki dasar yang lebih jelas.(rel)



