Oleh: Dr. Hidayat, S.T., M.T., IPM *)
PADANG, KalibrasiNews.com – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.
Kehadiran teknologi seperti ChatGPT memberikan kemudahan bagi mahasiswa dan pelajar dalam mencari informasi, memahami materi perkuliahan, menyusun tulisan, menganalisis data, hingga menyelesaikan berbagai persoalan akademik.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat risiko yang perlu mendapat perhatian serius dari pendidik, orang tua, dan pengelola institusi pendidikan.
Penulis mencermati bahwa persoalan utama penggunaan AI dalam pendidikan bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya.
AI dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan berpikir apabila digunakan secara berlebihan dan tanpa kendali.
Ancaman terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu bahaya penggunaan AI yang tidak tepat adalah menurunnya kebiasaan berpikir kritis dan mandiri.
Ketika menghadapi tugas, mahasiswa dapat langsung meminta AI memberikan jawaban lengkap tanpa berusaha memahami persoalan, mencari referensi, atau membangun argumentasi sendiri.
Kebiasaan tersebut berpotensi membuat mahasiswa lebih berorientasi pada hasil daripada proses pembelajaran.
Mereka mungkin mampu menghasilkan makalah yang terlihat ilmiah, tetapi belum tentu memahami substansi yang ditulis.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat perkembangan kemampuan analisis, kreativitas, dan pemecahan masalah yang justru menjadi tujuan utama pendidikan tinggi.
Pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar, melainkan membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, menilai berbagai alternatif, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Ketergantungan dan Kemerosotan Integritas Akademik
Bahaya berikutnya adalah munculnya ketergantungan terhadap AI.
Mahasiswa yang terbiasa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi dapat mengalami kesulitan ketika harus menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Hal ini menjadi persoalan serius, terutama dalam pendidikan teknik, kedokteran, hukum, dan bidang lain yang menuntut kompetensi nyata serta pertanggungjawaban profesional.
Selain itu, penggunaan AI tanpa memperhatikan etika akademik dapat mendorong praktik ketidakjujuran.
Menyerahkan hasil yang sepenuhnya dibuat oleh AI sebagai karya sendiri, tanpa memahami isinya atau mengikuti ketentuan yang berlaku, dapat merusak nilai kejujuran dan tanggung jawab ilmiah.
Perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas.
Kecerdasan tanpa kejujuran bukanlah fondasi yang kuat untuk membangun profesionalisme.
Risiko Informasi Salah dan Kualitas Penelitian
AI bukan sumber kebenaran yang selalu dapat dipercaya. Teknologi ini dapat menghasilkan informasi yang keliru, penjelasan yang tidak lengkap, bahkan referensi ilmiah yang tidak benar.
Apabila mahasiswa menerima jawaban AI tanpa melakukan verifikasi, kesalahan tersebut dapat masuk ke dalam tugas, skripsi, tesis, maupun publikasi ilmiah.
Dalam kegiatan penelitian, mahasiswa tetap harus membaca sumber asli, memeriksa validitas data, memahami metode penelitian, dan memastikan bahwa kesimpulan sesuai dengan bukti yang tersedia.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab peneliti dalam menjaga kualitas dan keabsahan hasil penelitian.
Penggunaan AI juga menimbulkan persoalan privasi. Data pribadi, informasi responden, dokumen rahasia, dan data penelitian yang belum dipublikasikan tidak boleh dimasukkan ke layanan AI secara sembarangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan mahasiswa saat menggunakan AI dalam kegiatan akademik meliputi:
- Memeriksa kebenaran informasi: memastikan jawaban AI sesuai dengan sumber yang dapat dipercaya.
- Membaca referensi asli: tidak hanya mengandalkan ringkasan atau kutipan yang dihasilkan AI.
- Menjaga integritas akademik: tidak mengakui hasil kerja AI sepenuhnya sebagai karya pribadi tanpa mengikuti aturan yang berlaku.
- Melindungi data dan privasi: menghindari memasukkan informasi pribadi, dokumen rahasia, atau data penelitian sensitif ke layanan AI sembarangan.
Peran Dosen dan Perguruan Tinggi
Menghadapi perkembangan ini, melarang penggunaan AI secara menyeluruh bukanlah satu-satunya solusi.
Perguruan tinggi perlu membangun kebijakan yang jelas, proporsional, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Dosen perlu mengubah pendekatan pembelajaran dan penilaian.
Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan makalah atau laporan tertulis, tetapi perlu dilengkapi dengan presentasi, diskusi, ujian lisan, demonstrasi, dan praktik.
Mahasiswa harus mampu menjelaskan apa yang dikerjakan, bagaimana prosesnya, serta alasan ilmiah di balik kesimpulan yang dihasilkan.
Sebagai contoh, mahasiswa teknik yang menggunakan AI untuk membuat program pengendali atau melakukan simulasi harus tetap mampu menjelaskan prinsip kerja sistem, menguji hasilnya, dan mengidentifikasi kesalahan.
Dengan demikian, AI digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti kompetensi.
Perguruan tinggi juga perlu mengajarkan literasi AI, termasuk kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami keterbatasan teknologi, menjaga privasi, dan mengungkapkan penggunaan AI secara transparan sesuai aturan akademik.
AI Harus Memperkuat, Bukan Menggantikan Manusia
Pada akhirnya, AI merupakan kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari.
Mahasiswa perlu menguasainya agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.
Namun, penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, keterampilan praktis, dan integritas.
Menurut penulis, ukuran keberhasilan penggunaan AI dalam pendidikan bukanlah seberapa cepat mahasiswa menyelesaikan tugas, melainkan seberapa jauh teknologi tersebut meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.
Jangan sampai AI membuat mahasiswa terlihat pintar, tetapi tidak mampu berpikir dan bekerja secara mandiri.
Teknologi seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih proses yang diperlukan untuk membangun kemampuan tersebut.
Oleh karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar mengajarkan mahasiswa menggunakan AI, melainkan memastikan mereka tetap menjadi manusia pembelajar yang kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab.
Sebab, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh kecanggihan AI semata, tetapi oleh kemampuan manusia dalam menggunakannya secara bijaksana.
*) Dosen Prodi S2 Rekayasa Energi Terbarukan Universitas Bung Hatta dan Wakil Rektor 3 Periode 2020-2024



