Opini: Paus Sastra Indonesia dan Warisan Besar H.B. Jassin

Oleh Angelina Julianda *)

PADANG, Kalibrasinews.com — Perkembangan sastra Indonesia modern tidak hanya ditentukan oleh para pengarang yang menerbitkan karya-karya populer, tetapi juga oleh tokoh yang memiliki peranan penting dalam melakukan kritik, dokumentasi dan menjaga keberlangsungan kehidupan sastra.

Salah satu tokoh yang memiliki peran sentral tersebut adalah Hans Bague Jassin atau lebih dikenal dengan H.B. Jassin.

Namanya begitu dalam dunia kesusastraan Indonesia sehingga ia memperoleh julukan “Paus Sastra Indonesia“.

Julukan ini bukan hanya sebatas penghormatan, akan tetapi dedikasi yang telah diberikan oleh H.B. Jassin dalam membangun tradisi kritik sastra, mendokumentasikan karya-karya sastra beserta data para pengarang, serta membimbing lahirnya generasi sastrawan Indonesia lewat peran nya sebagai seorang dosen luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang mengajarkan tentang sastra modern untuk pertama kalinya.

Untuk memahami peranan H.B. Jassin, perlu melihat terlebih dahulu kondisi perkembangan sastra Indonesia pada masanya.

Sastra Indonesia modern pertama kali berkembang pada awal abad ke-20 melalui penerbitan karya sastra yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Pada dekade 1930-an, perkembangan sastra semakin pesat dengan lahirnya kelompok Pujangga Baru yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah.

Kelompok ini membawa semangat pembaruan dalam sastra Indonesia modern.

Pujangga Baru lahir sebagai respon dari Balai Pustaka yang karya sastra dianggap terlalu terikat pada aturan sensor pemerintah karena Balai Pustaka merupakan lembaga bentukan pemerintahan Hindia Belanda untuk menyeleksi tulisan-tulisan yang akan diterbitkan.

Tulisan yang dianggap menjelekkan atau mengkritik pemerintahan Hindia Belanda tidak akan diterbitkan sehingga harus berdasarkan ketentuan aturan dari pemerintah Hindia Belanda.

Setelah pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan muncullah Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin dan Idrus.

Angkatan ini mengusung konsep Humanisme Universal yaitu perpaduan antara Nasionalisme, kebebasan individu, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di tengah perkembangan tersebut, dunia sastra Indonesia tidak hanya membutuhkan pengarang yang menghasilkan karya tetapi juga membutuhkan seseorang yang mampu menjelaskan, menilai dan merekam perjalanan sastra secara sistematis.

Pada titik inilah H.B. Jassin hadir dan memainkan peran yang sangat penting.

Berbeda dengan kebanyakan pengarang Jassin mengabdikan dirinya sebagai kritikus sastra, editor, dokumentator dan penelaah sastra.

Pilihan ini menjadikan Jassin sebagai figur yang unik sekaligus sangat berpengaruh dalam perkembangan sastra Indonesia modern.

Hans Bague Jassin lahir di Gorontalo pada 31 Juli 1917.

Minatnya terhadap sastra tumbuh sejak usia muda kegemaran ayahnya membaca dan mengoleksi berbagai bacaan dalam perpustakaan pribadinya mempunyai pengaruh besar kepada Jassin.

Ia mulai membaca koleksi ayahnya secara diam-diam karena dilarang membaca bacaan dewasa dan kegemaran membaca terus berlanjut dan inilah yang kemudian menjadi pemicu H.B. Jassin untuk menjadi kritikus sastra dan dokumentator sastra Indonesia.

Pada akhir dekade 1930 an tulisannya mulai muncul di berbagai media.

Namun berbeda dengan banyak penulis lain yang bercita-cita menjadi penyair atau novelis, Jassin lebih tertarik memahami bagaimana sebuah karya sastra lahir, berkembang dan memberikan pengaruh kepada masyarakat.

Jassin memang sempat menulis puisi dan cerpen tetapi kemudian memusatkan perhatiannya kepada kritik dan penelaah sastra.

Perjalanan intelektual H.B. Jassin mengalami perkembangan penting ketika ia bergabung dengan lingkungan majalah Poedjangga Baru pada tahun 1940 atas ajakan Sutan Takdir Alisjahbana.

Melalui majalah tersebut ia mulai berkenalan dengan para sastrawan Indonesia.

Pengalaman ini semakin memperkuat ketertarikannya terhadap dunia kritik sastra.

Sejak saat itu Jassin mulai aktif menulis esai, ulasan dan kritik sastra yang membahas berbagai karya dan perkembangan sastra Indonesia.

Dalam bidang kritik sastra, H.B. Jassin dapat dikatakan sebagai pelopor kritik sastra modern Indonesia.

Pada masa ketika kritik sastra masih belum berkembang secara sistematis, ia berusaha memperkenalkan metode pembacaan karya sastra yang lebih objektif dan mendalam.

Melalui kritik-kritiknya, Jassin tidak hanya menilai kualitas sebuah karya, tetapi juga membantu pembaca memahami makna, latar belakang, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kritik sastra yang ditulisnya turut memperkaya wawasan masyarakat terhadap perkembangan sastra Indonesia.

Dedikasi Jassin terhadap sastra melalui banyaknya karya yang dihasilkannya.

Beberapa karya penting yang ditulisnya antara lain:

  • Angkatan ’45 (1951)
  • Tifa Penyair dan Daerahnya (1952)
  • Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei yang terbit dalam beberapa jilid sejak tahun 1954
  • Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45 (1956)
  • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dalam Polemik (1963)
  • Gema Tanah Air, Pujangga Baru, dan Angkatan ’66.

Karya-karya tersebut bukan hanya menjadi sumber informasi mengenai perkembangan sastra Indonesia, tetapi juga menjadi rujukan utama bagi mahasiswa, peneliti, dan pecinta sastra hingga saat ini.

Selain sebagai kritikus, jasa terbesar H.B. Jassin terletak pada upayanya mendokumentasikan perkembangan sastra Indonesia.

Selama puluhan tahun, ia mengumpulkan berbagai karya sastra, manuskrip, surat pribadi para pengarang, foto, kliping surat kabar, serta berbagai arsip yang berkaitan dengan kehidupan sastra Indonesia.

Ketekunan ini melahirkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang didirikan pada tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dokumentasi tersebut menjadi salah satu pusat arsip sastra terlengkap di Indonesia dan hingga kini masih dimanfaatkan oleh para peneliti dari dalam maupun luar negeri.

Melalui dokumentasi tersebut, jejak perkembangan sastra Indonesia dapat dipelajari secara lebih lengkap dan sistematis.

Peranan H.B. Jassin juga terlihat dari keterlibatannya dalam berbagai media sastra yang berpengaruh.

Ia pernah menjadi redaktur atau anggota redaksi Poedjangga Baroe, Pandji Poestaka, Pantja Raja, Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, dan Horison.

Melalui media-media tersebut, Jassin memberikan ruang kepada para penulis muda untuk mempublikasikan karya-karya mereka.

Banyak sastrawan Indonesia yang memperoleh kesempatan pertama untuk dikenal publik melalui majalah-majalah yang dikelola atau dipengaruhi oleh Jassin.

Dengan demikian, ia tidak hanya berfungsi sebagai pengamat sastra, tetapi juga sebagai pembina dan penggerak kehidupan sastra Indonesia.

Di lingkungan akademik, H.B. Jassin juga memiliki kontribusi yang besar.

Sejak tahun 1953, ia mengajar sastra Indonesia modern di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kehadirannya membantu membentuk generasi awal sarjana sastra Indonesia yang kemudian berkembang menjadi peneliti dan kritikus sastra.

Melalui aktivitas akademiknya, Jassin turut meletakkan dasar bagi berkembangnya studi sastra Indonesia di perguruan tinggi.

Besarnya pengaruh H.B. Jassin terlihat dari pandangan para sastrawan terhadap dirinya.

Penyair Gayus Siagian memberikan julukan “Paus Sastra Indonesia” karena pada masanya ulasan dan penilaian Jassin dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap reputasi seorang pengarang.

Banyak penulis merasa bangga apabila karya mereka mendapat perhatian dari Jassin.

Sementara itu, sarjana sastra Belanda, A. Teeuw, menyebut Jassin sebagai “Custodian of Modern Indonesian Literature” atau penjaga sastra Indonesia modern.

Sebutan tersebut menunjukkan pengakuan internasional terhadap dedikasi Jassin dalam merawat dan mendokumentasikan kehidupan sastra Indonesia.

Penyair Sapardi Djoko Damono juga memberikan penghargaan tinggi kepada Jassin karena ketelitiannya dalam menyimpan berbagai dokumen sastra.

Menurut Sapardi, Jassin tidak hanya menyimpan karya sastra, tetapi juga berbagai surat, catatan, dan dokumen kecil yang sering kali dianggap tidak penting oleh orang lain.

Padahal, dokumen-dokumen tersebut sangat berharga bagi penelitian sejarah sastra.

Maman S. Mahayana bahkan menilai bahwa selama beberapa dekade H.B. Jassin merupakan figur sentral yang menjadi rujukan utama dalam kritik sastra Indonesia.

Meski demikian, perjalanan H.B. Jassin tidak selalu berjalan mulus.

Ia pernah terlibat dalam berbagai polemik sastra dan kebudayaan, termasuk perdebatan mengenai Manifes Kebudayaan pada tahun 1960-an.

Ia juga pernah menghadapi proses hukum akibat menerbitkan cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin yang dianggap menyinggung agama.

Namun, berbagai kontroversi tersebut tidak mengurangi dedikasinya terhadap dunia sastra.

Justru melalui berbagai peristiwa itu, Jassin menunjukkan komitmennya terhadap kebebasan berekspresi dan perkembangan sastra Indonesia.

Ketika H.B. Jassin meninggal dunia pada 11 Maret 2000, Indonesia kehilangan salah satu tokoh sastra terpenting dalam sejarahnya.

Namun, warisan yang ditinggalkannya tetap hidup hingga sekarang.

Karya-karyanya masih menjadi rujukan utama dalam kajian sastra Indonesia, sementara dokumentasi yang dibangunnya terus dimanfaatkan oleh para peneliti dan pecinta sastra.

Peranan H.B. Jassin membuktikan bahwa perkembangan sastra tidak hanya bergantung pada para pengarang yang menciptakan karya, tetapi juga pada mereka yang dengan tekun menjaga, mendokumentasikan, dan mengembangkan kehidupan sastra itu sendiri.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika H.B. Jassin dikenang sebagai salah satu tokoh yang paling berjasa dalam perkembangan sastra Indonesia modern dan sebagai penjaga warisan sastra bangsa bagi generasi masa depan.

*) Mahasiswi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini