Indonesia Buktikan Sawit Jadi Tameng Energi dalam Konflik Timur Tengah

JAKARTA, KalibrasiNews.com – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kelapa sawit sebagai ‘tanaman ajaib’ sempat menuai sindiran di media sosial.

Namun di tengah eskalasi perang di Timur Tengah, sawit nampaknya membuka mata banyak pihak tentang banyak manfaatnya.

Siaran pers (press release) Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia atau Bakom RI menyebutkan dari sawit, produksi biodiesel nasional naik dan impor bahan bakar turun.

Sejauh ini didasari atas sawit sebagai ‘tanaman ajaib’ itu kini mulai menemukan maknanya dalam konteks ketahanan energi Indonesia.

Data terbaru menunjukkan produksi biodiesel berbasis sawit mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020, produksi biodiesel Indonesia tercatat sekitar 8,4 juta kiloliter. Angka itu meningkat tajam menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter pada 2026.

Lonjakan produksi ini beriringan dengan turunnya impor solar yang sebelumnya mencapai beberapa juta kiloliter per tahun. Kini, impor tersebut hampir tidak lagi diperlukan.

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai perubahan tersebut menunjukkan peran strategis sawit dalam sistem energi nasional.

“Dalam beberapa tahun terakhir, produksi biodiesel dari sawit meningkat pesat. Dari sekitar 8,4 juta kiloliter pada 2020 menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter pada 2026,” ujar Fahmi, ditulis Sabtu (7/3).

Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi biodiesel membuat kebutuhan solar nasional semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri.

“Artinya, hampir setengah kebutuhan solar Indonesia kini bisa dipenuhi oleh biodiesel dari sawit, sehingga produksi dalam negeri dapat menutup seluruh kebutuhan nasional,” katanya.

Dari ‘Tanaman Ajaib’ menjadi Kebun Energi

Menurut Fahmi, dalam konteks ketahanan energi, sawit kini tidak hanya dilihat sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai sumber energi strategis.

Ia menggambarkan sawit sebagai kebun energi yang mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Peran ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian energi global. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan dinamika keamanan di Timur Tengah, berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia.

Gangguan pada jalur energi global biasanya diikuti lonjakan harga dan krisis pasokan, terutama bagi negara yang bergantung pada impor bahan bakar.

“Ketika jalur energi dunia terganggu, harga bisa melonjak dan negara yang bergantung pada impor akan sangat rentan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan memproduksi energi sendiri menjadi sangat berharga,” jelas Fahmi.

Ia menambahkan, keberadaan biodiesel sawit membuat Indonesia memiliki bantalan energi yang relatif kuat dibanding banyak negara lain.

Selain mengurangi impor bahan bakar, program biodiesel juga menghemat devisa negara sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Lebih jauh, Fahmi menilai posisi ini bahkan dapat memberi keuntungan strategis jika terjadi krisis global berskala besar, termasuk kemungkinan konflik dunia.

Dengan kemampuan memproduksi energi sendiri dari sektor perkebunan, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tetap stabil dibanding negara yang sepenuhnya bergantung pada impor energi.

“Selain menjadi sumber penghidupan jutaan petani, sawit juga menjadi tameng energi bagi Indonesia,” ujarnya.

Bagi Fahmi, di situlah makna sebenarnya dari istilah ‘tanaman ajaib’ yang pernah disampaikan Presiden Prabowo.

Alihkan Sumber Pasokan Minyak

Sebelumnya, dilansir KalibrasiNews.com dikutip dari rilis Bakom RI menyebutkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/3).

Rapat tersebut membahas dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur lalu lintas perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 juta barel minyak bumi dari kawasan Timur Tengah melalui selat ini setiap hari.

Bahlil mengungkapkan, Indonesia mengimpor sekitar 20 sampai 25 persen kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah.

Selain itu, Indonesia juga melakukan impor minyak dari berbagai kawasan lain seperti Afrika dan Amerika Selatan.

Untuk mengantisipasi penutupan Selat Hormuz, Indonesia akan menambah impor dari kawasan lain. Dengan begitu, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri dapat terjaga.

“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude (minyak mentah) yang kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil dari Amerika.

Ini supaya ada kepastian ketersediaan crude kita,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/3).

Ia menambahkan, Indonesia hanya mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah. Sedangkan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), tidak ada impor dari kawasan itu.

Bahkan Indonesia saat ini sudah tidak mengimpor Solar. Sekarang yang masih diimpor adalah bensin RON 90, RON 93, RON 95, dan RON 98. Sebagian besar dipasok dari kawasan Asia Tenggara.

“Alhamdulillah secara kebetulan untuk impor jenis BBM seperti ini tidak kita lakukan dari Timur Tengah, tapi kita lakukan dari negara-negara di luar Timur Tengah termasuk dalamnya adalah Asia Tenggara. Jadi ini relatif tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara untuk impor LPG, Bahlil mengatakan bahwa pasokan akan ditambah dari AS. “LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persennya sekarang kita ambil dari Amerika,” ucapnya.

Pemerintah, Bahlil melanjutkan, juga tengah memperhitungkan dengan cermat dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar layanan pada masyarakat jangan sampai terganggu.

“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita,” ia mengungkapkan.

Khusus untuk persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri, Bahlil menjamin bahwa ketersediaan BBM dan LPG dalam kondisi aman.

“Alhamdulillah saya menyampaikan bahwa untuk stok BBM dan LPG kita semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” tutupnya.

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini