BRIN Uji Teknologi Tepung hingga Modifikasi Cuaca untuk Karhutla

JAKARTA, Kalibrasinews.com – Presiden RI Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan sejumlah pilihan teknologi untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi tantangan di Indonesia.

Arahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi penanganan bencana.

Presiden Prabowo juga menginginkan BRIN memperluas kerja sama dengan para peraih Nobel dan ilmuwan dunia agar dapat berkolaborasi bersama periset serta akademisi Indonesia.

Melalui press release Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) yang dikutip redaksi pada Senin (31/8/2026), Kepala BRIN Arif Satria mengatakan arahan Presiden menjadi landasan bagi lembaganya untuk mencari solusi berbasis teknologi dalam menghadapi karhutla.

“BRIN diminta untuk mencari opsi-opsi teknologi yang bisa mengatasi bencana karhutla ini,” ujar Arif di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026) lalu.

BRIN Uji Teknologi untuk Pemadaman Karhutla

Salah satu teknologi yang telah dimiliki BRIN adalah modifikasi cuaca.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu menciptakan hujan buatan di wilayah tertentu, termasuk kawasan yang membutuhkan tambahan curah hujan saat terjadi karhutla.

“Memang kami juga sudah punya teknologi untuk modifikasi cuaca,” katanya.

Arif menjelaskan, pelaksanaan modifikasi cuaca dapat menggunakan material natrium klorida (NaCl) dengan ukuran sekitar 25 mikron.

Material tersebut digunakan dalam proses untuk membantu pembentukan hujan buatan.

“Di mana itu teknologi yang sangat-sangat efisien untuk membuat hujan buatan,” jelasnya.

BRIN juga tidak berhenti pada teknologi yang sudah tersedia.

Berbagai teknologi terbaru akan terus dikaji untuk melihat peluang penggunaannya dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

“Teknologi modifikasi cuaca dengan berbagai teknologi terkini itu saya kira bisa kita lakukan,” kata Arif.

Selain modifikasi cuaca, BRIN sedang meneliti metode pemadaman api menggunakan tepung yang sebelumnya telah dipraktikkan oleh masyarakat.

Menurut Arif, berbagai metode yang berkembang di masyarakat perlu diuji secara ilmiah untuk mengetahui efektivitas dan peluang penerapannya dalam skala lebih luas.

“Tugas BRIN itu memang segala praktik yang ada di masyarakat, yang sudah dipraktikkan, kita kaji secara saintifik, benar apa tidak,” ujarnya.

Ia menegaskan, inovasi dari masyarakat tidak langsung dianggap tidak layak.

Sebaliknya, BRIN akan melakukan validasi melalui penelitian untuk memastikan apakah metode tersebut mempunyai dasar ilmiah.

Baca Juga  Menhan RI Ingatkan Fokus Yonif Teritorial Pembangunan & Nilai Dasar Prajurit

“Jadi, teknologi-teknologi yang muncul dari masyarakat coba kita validasi. Nah, ternyata memang secara teori, hipotesis, yes, betul,” ungkapnya.

Meski demikian, penerapan metode tersebut dalam kondisi karhutla berskala besar masih menjadi tantangan.

Luas wilayah kebakaran membuat teknologi yang efektif pada area terbatas belum tentu dapat digunakan dengan cara yang sama pada cakupan lebih luas.

“Tapi yang sekarang harus kita pikirkan adalah untuk skala berapa? Ya kan skala kebakaran hutan kan luas sekali,” tutur Arif.

BRIN bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kemudian menyiapkan kajian dan uji coba untuk mengukur efektivitas metode tersebut.

Penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan teknologi ketika digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala besar.

“Mohon doanya, mudah-mudahan ini bisa cepat berhasil,” pungkasnya.

Gandeng Peraih Nobel dan Ilmuwan Dunia

Di sisi lain, BRIN juga mendapat arahan untuk memperkuat hubungan dengan ilmuwan terkemuka dunia.

Kepala BRIN Arif Satria mendampingi Presiden Prabowo saat bertemu sejumlah peraih Nobel dan ilmuwan dunia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026) lalu.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi pintu bagi penguatan ekosistem riset Indonesia.

Kehadiran ilmuwan internasional dinilai dapat memberikan inspirasi sekaligus membuka peluang kerja sama bagi talenta riset nasional.

“Karena penting sekali para peraih Nobel memberikan inspirasi dan kemudian bisa menjadi bagian dari ekosistem penguatan talenta riset di Indonesia,” ujar Arif.

Presiden Prabowo berharap kolaborasi antara ilmuwan dunia dengan peneliti Indonesia dapat segera diwujudkan.

Kerja sama tersebut diharapkan menghasilkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata di dalam negeri.

Salah satu kerja sama yang telah berjalan adalah kolaborasi BRIN dengan peraih Nobel Kimia asal Jepang, Susumu Kitagawa, dalam pengembangan Metal Organic Framework (MOF).

Teknologi tersebut tengah dikaji untuk mendukung pemanfaatan gas alam di Indonesia.

“Peraih Nobel Jepang ini kemudian membangun sister lab di Indonesia. Sister lab di Indonesia ini sekarang sedang mempersiapkan bagaimana menghasilkan gas alam tekanan yang lebih rendah dengan menggunakan temuan hasil peraih Nobel tersebut,” jelas Arif.

(/Kalibrasinews.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini