Ekosistem Hilirisasi Nikel Kokoh, Indonesia Garap Rantai Pasok Baterai Listrik Dunia

PADANG, Kalibrasinews.com – Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk mengambil peran strategis sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di masa depan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa optimisme besar tersebut didorong oleh realisasi investasi sektor pengolahan nikel yang terus melonjak secara signifikan di berbagai daerah dalam negeri.

Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi disebutkan bahwa lonjakan investasi yang masuk berkat upaya pemerintah membentuk ekosistem industri yang semakin lengkap, mulai dari bahan baku hingga komponen baterai, terutama di dua kawasan industri yakni PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

“Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih USD 11 miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai USD 28 miliar atau 10 persen dari total ekspor Indonesia,” ujar Rosan dalam acara Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

Menurut Rosan, besarnya aktivitas industri di kawasan tersebut juga tercermin dari kapasitas listrik yang telah terpasang dan sedang dibangun.

Di kawasan industri IWIP, kapasitas listrik terpasang telah mencapai lebih dari 7,1 Gigawatt (GW) dan di Morowali sebesar 8,8 GW.

“Jadi ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura yang (sebesar) 13,1 gigawatt. Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya,” jelasnya.

Rosan mengatakan besarnya kapasitas industri dan investasi yang masuk menunjukkan ekosistem industri kendaraan listrik mulai terbentuk secara menyeluruh di Indonesia.

Hal tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

“Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik,” tegasnya.

Ia menambahkan hilirisasi nikel tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi diarahkan untuk mendorong industrialisasi dan membangun ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi.

Baca Juga  Pemulihan dan Normalisasi Cepat Sungai Jadi Prioritas Utama Prabowo

Pengembangan di Morowali, misalnya, disebut akan memperluas ekosistem baterai kendaraan listrik hingga proses daur ulang baterai.

Guna memberikan rincian lengkap mengenai sebaran alokasi serta nilai proyek investasi baru yang masuk ke dalam kawasan industri terpadu tersebut, berikut rekapitulasinya:

  • Total Nilai Investasi Proyek Strategis: Mencapai USD 10,2 miliar atau setara Rp180 triliun dari berbagai mitra perusahaan internasional.

  • Nilai Proyek Komersial dan Ekspor: Senilai USD 3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun mencakup empat proyek baru yang telah rampung.

  • Nilai Proyek Tahap Groundbreaking: Senilai USD 6,8 miliar meliputi enam proyek baru yang resmi memulai peletakan batu pertama.

Penguatan Ekosistem Terintegrasi dan Industrialisasi Nasional

“Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya,” kata Rosan.

Keberadaan kawasan industri yang terintegrasi secara komprehensif ini diyakini bakal memperkokoh struktur manufaktur nasional dalam jangka panjang.

Pengolahan nikel dari hulu ke hilir tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas mentah dalam negeri, melainkan juga menyerap ribuan tenaga kerja lokal serta memicu multiplier effect bagi perekonomian regional di wilayah Indonesia Timur.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawal kemudahan perizinan serta menjaga kepastian hukum bagi para investor global yang menanamkan modalnya di sektor energi hijau.

Langkah konkret ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan hilirisasi nasional mampu mentransformasi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi salah satu pusat manufaktur dan penyedia komponen utama kendaraan listrik terkemuka di tingkat internasional.

“Dari 10 itu Bapak Presiden, 4 proyek baru selesai dan memiliki seremoni komersial dan juga ekspor senilai USD 3,4 miliar yang sudah selesai atau kurang lebih Rp60 triliun, dan 6 proyek lainnya senilai USD 6,8 miliar melaksanakan seremoni peletakan batu pertama,” pungkasnya.(/KalibrasiNews)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini