Langkah Inspiratif Tiara Chairunnisa Satukan Lingkar Puan Jadi Forum Diskusi Perempuan Unand

Oleh Sitti Ba’itsati Dzakiyah *)

PADANG, Kalibrasinews.com – Di tengah dinamika kampus yang kian kompetitif, suara perempuan kerap hadir sebagai gema yang tak selalu mendapat ruang Lingkar Puan.

Berangkat dari kegelisahan itulah, Tiara Chairunnisa, yang akrab disapa Ara mengambil langkah strategis melalui perannya sebagai Menteri Kementerian Pergerakan Perempuan BEM KM Universitas Andalas tahun 2026

Langkah yang diambil Ara melalui Lingkar Puan tidak hanya berangkat dari idealisme semata, tetapi juga dari pengamatan nyata terhadap dinamika yang terjadi di lingkungan kampus.

Ia melihat bahwa perempuan sering kali memiliki potensi besar, namun tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup untuk mengekspresikannya.

Kondisi ini kemudian mendorongnya untuk menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan melalui Lingkar Puan agar setiap perempuan dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai lini kehidupan kampus.

Mahasiswi Fakultas Farmasi angkatan 2023 yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman ini bukan wajah baru dalam ruang advokasi kampus.

Pada 2025, Ara dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Aspirasional Kementerian Kebijakan Kampus BEM KM Universitas Andalas Lingkar Puan.

Berdasarkan pengalaman tersebut, dari sanalah Ara semakin peka terhadap kelompok-kelompok yang suaranya kerap terpinggirkan dalam Lingkar Puan.

Kepekaan tersebut juga diperkuat oleh interaksi langsung dengan berbagai mahasiswa yang menyampaikan keresahan mereka secara informal.

Dari percakapan sederhana hingga diskusi kecil, Ara menangkap adanya kebutuhan mendesak akan ruang yang benar-benar aman dan suportif.

Hal ini semakin memperjelas bahwa peran organisasi mahasiswa tidak hanya sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial di tingkat kampus.

“Di beberapa tempat dan kondisi, perempuan belum dilihat keberadaannya, baik dari pendapatnya dan posisinya,” ujar Ara belum lama ini di Padang.

Pernyataan itu bukan sekadar refleksi, melainkan menjadi pijakan geraknya. Di tahun kepemimpinannya sebagai menteri, Ara berupaya menjadikan BEM KM Universitas Andalas, khususnya melalui Kementerian Pergerakan Perempuan, sebagai wadah yang benar-benar menampung aspirasi perempuan Indonesia, terutama mahasiswi Universitas Andalas.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui program kerja baru bertajudul Lingkar Puan. Program ini merupakan ruang diskusi yang dirancang sebagai tempat relasi, komunikasi, serta pertukaran ide antarsesama perempuan.

Lingkar Puan diharapkan tidak hanya menjadi forum formal, tetapi juga ruang aman yang memberi keberanian bagi perempuan untuk menyampaikan gagasan, keresahan, dan pandangannya tanpa rasa takut.

Dalam implementasinya, Lingkar Puan dirancang tidak hanya menghadirkan diskusi satu arah, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dari seluruh peserta.

Setiap individu diberikan kesempatan yang sama untuk berbicara, berbagi pengalaman, hingga menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.

Dengan pendekatan ini, forum tersebut diharapkan mampu membangun rasa percaya diri sekaligus memperkuat solidaritas antarperempuan di lingkungan kampus.

Ara menilai, minimnya wadah aspirasi khusus perempuan di lingkungan kampus menjadi tantangan yang perlu segera dijawab. Melalui Lingkar Puan, ia ingin memastikan bahwa suara-suara yang selama ini tertekan dan luput dari perhatian dapat disalurkan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Selain itu, program ini juga dirancang untuk memiliki dampak jangka panjang melalui dokumentasi dan tindak lanjut dari setiap diskusi yang dilakukan.

Hasil-hasil pembahasan tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi diupayakan menjadi rekomendasi konkret yang dapat disampaikan kepada pihak kampus maupun pemangku kebijakan terkait.

Dengan demikian, Lingkar Puan tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam perubahan kebijakan.

Lebih dari sekadar program kerja, Lingkar Puan diproyeksikan sebagai simbol konsolidasi gerakan perempuan di lingkungan mahasiswa. Sebuah ruang yang tidak hanya membicarakan persoalan, tetapi juga merumuskan solusi dan membangun solidaritas.

Keberadaan Lingkar Puan juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai organisasi internal maupun eksternal kampus yang memiliki visi serupa.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan gerakan sekaligus memperkaya perspektif dalam setiap diskusi yang dilakukan.

Dengan melibatkan lebih banyak pihak, gerakan ini berpotensi menjadi lebih kuat dan mampu menjangkau isu-isu yang lebih luas terkait perempuan.

Menutup pernyataannya, Ara menyampaikan pesan yang sarat makna kepada perempuan Indonesia. “Kita sebagai sesama perempuan jangan merasa sendiri, silakan sampaikan.

Gender bukan menjadi batasan bagi perempuan untuk mengeksplor banyak hal, dan tetaplah sesuai dengan fitrah kita sebagai perempuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, Allah SWT,” tutur Ara.

Di tengah upaya memperkuat partisipasi dan kesetaraan di ruang publik kampus, langkah Ara melalui Lingkar Puan menjadi penanda bahwa perubahan seringkali dimulai dari keberanian untuk mendengar, dan memberi ruang bagi suara yang selama ini terabaikan.

Upaya yang dilakukan Ara melalui Lingkar Puan menjadi gambaran bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, melainkan dari keberanian untuk memulai sesuatu yang sederhana namun berdampak.

Dengan konsistensi dan dukungan dari berbagai pihak, inisiatif ini berpotensi menjadi fondasi kuat bagi terciptanya lingkungan kampus yang lebih setara, inklusif, dan memberikan ruang yang adil bagi setiap individu tanpa terkecuali.

*) Mahasiswi Ilmu Sejarah FIB Unand

1 KOMENTAR

  1. Apresiasi besar untuk penulis yang telah menulis artikel ini secara rapi, terstruktur, baik dari segi bahasa maupun penulisan, informatif, mudah dipahami dan memberikan kajian yang penting mengenai peran dan suara perempuan yang masih dianggap kecil ataupun diabaikan. 👏👏

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini