JAKARTA, KalibrasiNews.com — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atau Kemenkes RI memastikan semua rumah sakit terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah beroperasi.
Saat bencana melanda akhir November 2025, sebanyak 130 rumah sakit sempat terkendala dan 87 unit di antaranya tidak bisa beroperasi.
Kemenkes mencatat sebagian besar kerusakan fasilitas kesehatan disebabkan banjir dan longsor yang merusak infrastruktur bangunan rumah sakit serta peralatan medis, sehingga membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi lintas kementerian.
Pemerintah sempat mempercepat perbaikan dan hingga 1 Desember 2025 tersisa 9 rumah sakit yang tengah ditangani. “Dan sampai saat ini, semuanya sudah bisa beroperasi,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (11/2).
Cepatnya pemulihan rumah sakit tak lepas dari penanganan taktis dari anggota TNI dan Polri. Budi juga berterima kasih kepada pemerintah daerah, relawan, beserta masyarakat yang membantu.
Selain perbaikan fisik bangunan, Kementerian Kesehatan juga memastikan layanan medis dasar tetap berjalan selama masa transisi melalui fasilitas kesehatan sementara dan sistem rujukan terintegrasi.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat terdampak bencana tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan tanpa hambatan, terutama untuk layanan gawat darurat, ibu dan anak, serta penyakit kronis.
Budi juga menginformasikan bahwa perbaikan puskesmas pun hampir rampung. Bencana sempat membuat 867 unit dari total 1.265 puskesmas terdampak. Namun, per 10 Februari ni, tinggal dua puskesmas yang belum pulih.
Keduanya adalah Puskesmas Lokop di Kabupaten Aceh Timur dan Puskesmas di Jambur Lak Lak, Kabupaten Aceh Tenggara. Puskesmas Lokop sempat hancur akibat bencana, sedangkan Puskesmas Jambur Lak Lak mengalami kerusakan parah.
Budi mengatakan, untuk Puskesmas Lokop dilakukan relokasi ke Desa Jering, Kecamatan Serba Jadi, Aceh Timur. Puskesmas modular ini ditargetkan bisa beroperasi pada 13 Februari 2026.
Dan Puskesmas Jambur Lak Lak direlokasi ke Jalan Blangkejeren-Kutacane, Darul Makmur, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara.
Puskesmas modular ini juga tak lama lagi rampung, yakni pada 15 Februari 2026. “Terima kasih kepada Menteri PU (Pekerjaan Umum) karena dalam waktu kurang dari satu bulan ini sudah selesai dibangun,” kata Budi.
Menurut Budi, pembangunan puskesmas modular menjadi solusi percepatan pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Model ini dinilai lebih efisien dan adaptif terhadap kondisi geografis serta risiko bencana, sehingga ke depan dapat menjadi pola penanganan darurat kesehatan di daerah rawan bencana.
Pengadaan Alat Puskesmas
Pemulihan sarana kesehatan tidak hanya difokuskan pada bangunan dan alat, tetapi juga pada kesiapan tenaga kesehatan yang kembali bertugas di wilayah terdampak.
Kemenkes memastikan distribusi tenaga medis tetap terjaga agar pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung optimal seiring dengan selesainya rehabilitasi fasilitas.
Sejauh ini Kementerian Kesehatan berterima kasih terhadap masyarakat dan relawan yang bergotong-royong membangun kembali puskesmas yang terdampak bencana di Sumatra.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin salut terhadap besarnya modal sosial masyarakat Indonesia saat terjadi bencana, terutama dalam membantu melengkapi ketiadaan alat rumah sakit. “Masyarakat tuh banyak sekali yang mau bantu. Rakyat Indonesia luar biasa,” kata Budi dalam konferensi pers Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (11/2).
Budi mengatakan Kementerian Kesehatan amat terbantu dengan bantuan dari masyarakat ini. Pasalnya, saat ini anggaran dalam proses pencairan.
Aliran bantuan saat ini tengah mengalir ke dua puskesmas yang dikebut penyelesaiannya, yakni di Puskesmas Lokop di Kabupaten Aceh Timur dan Puskesmas di Jambur Lak Lak, Kabupaten Aceh Tenggara.
Di Puskesmas Lokop, sebanyak 41 item pendukung alat kesehatan merupakan bantuan atau donasi dari masyarakat, Di antaranya stetoskop, timbangan badan, kursi roda, alat periksa gula, hingga laptop.
Di Puskesmas Jambur Lak Lak pun sejumlah item alat kesehatan merupakan bantuan dari warga. Seperti tensimeter, stetoskop, seperangkat alat bedah minor, hingga kursi roda. “Jadi, tanpa menunggu pencairan anggaran, (puskesmas) sudah bisa beroperasi,” kata Budi.
Dengan pulihnya seluruh rumah sakit dan hampir seluruh puskesmas, pemerintah optimistis sistem layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana Sumatra kembali berjalan normal.
Percepatan rehabilitasi ini diharapkan tidak hanya memulihkan fasilitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor kesehatan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
(/rel)



