JAKARTA, Kalibrasibews.com — Pemerintah terus mempercepat pemulihan sawah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Ribuan hektare lahan sawah yang sebelumnya rusak akibat banjir dan bencana alam kini mulai kembali ditanami oleh petani.
Khusus di Provinsi Sumatera Barat, progres rehabilitasi lahan pertanian bahkan telah mencapai 98 persen.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana, terutama bagi warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Dikutip dari rilis Badan Koordinasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Juru Bicara Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Amran, mengatakan rehabilitasi sawah menjadi salah satu prioritas utama pemerintah karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Amran menyebut pemerintah terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah agar proses rehabilitasi sawah berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan para petani dapat segera kembali berproduksi serta mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat kerusakan lahan pertanian pascabencana.
“Pemulihan sawah terdampak terus didorong untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan dan transfer ke daerah di tiga provinsi terdampak,” ujar Amran di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Amran, percepatan rehabilitasi sawah tidak hanya bertujuan mengembalikan fungsi lahan agar kembali produktif, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana, khususnya keluarga petani yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian.
Selain fokus pada pemulihan lahan sawah, pemerintah juga mulai melakukan pendataan terhadap kebutuhan petani terdampak di masing-masing daerah.
Pendataan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan sehingga proses pemulihan pertanian dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian hingga 7 Mei 2026, total target pemulihan sawah terdampak di tiga provinsi mencapai 42.702 hektare dengan dukungan anggaran sebesar Rp337,97 miliar.
Dari total tersebut, seluas 16.670 hektare lahan telah memasuki tahap konstruksi pemulihan.
Proses rehabilitasi yang dilakukan mencakup normalisasi saluran irigasi, perataan kembali lahan sawah yang rusak, hingga pembersihan material lumpur akibat banjir.
Pemerintah juga menargetkan percepatan pengerjaan di sejumlah daerah prioritas agar musim tanam berikutnya dapat berjalan tanpa hambatan berarti bagi para petani setempat.
Sementara itu, 4.098 hektare sawah telah selesai direhabilitasi, 2.212 hektare kembali diolah oleh petani, dan 2.110 hektare sudah mulai ditanami kembali.
Pemerintah memastikan proses rehabilitasi lahan pertanian dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan wilayah yang menjadi sentra produksi pangan masyarakat.
Selain memperbaiki infrastruktur irigasi dan lahan yang rusak akibat bencana, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih serta alat pertanian untuk mempercepat aktivitas tanam petani agar produksi pangan daerah dapat kembali stabil dalam waktu dekat.
Perkembangan paling signifikan terlihat di Provinsi Sumatera Barat. Dari target pemulihan seluas 3.902 hektare, sebanyak 3.809 hektare atau sekitar 98 persen telah memasuki tahap konstruksi.
Sebanyak 2.583 hektare di antaranya telah selesai direhabilitasi dan lebih dari 2.100 hektare sawah kembali ditanami oleh petani.
Di Sumatera Utara, rehabilitasi sawah seluas 5.201 hektare juga telah memasuki tahap konstruksi pemulihan.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pendampingan kepada petani agar proses tanam dapat kembali berjalan optimal menjelang musim panen berikutnya.
Pengamat pertanian menilai percepatan rehabilitasi sawah pascabencana menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Dengan semakin banyak lahan yang kembali produktif dan ditanami, pemerintah optimistis sektor pertanian di Aceh, Sumut, dan Sumbar dapat pulih secara bertahap serta kembali menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan.
Sementara itu, Aceh menjadi wilayah dengan lahan sawah terdampak terbesar dibanding dua provinsi lainnya, yakni mencapai 31.464 hektare.
Proses pemulihan di sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya terus dipercepat melalui pengerjaan saluran irigasi, pembentukan kembali petak sawah, hingga pengolahan lahan.
Pemerintah berharap seluruh proses rehabilitasi terdampak bencana di wilayah Sumatera dapat selesai sesuai target sehingga aktivitas pertanian masyarakat kembali normal dalam waktu dekat.
Pemulihan sektor pertanian tersebut dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat kebangkitan ekonomi warga sekaligus menjaga stabilitas pangan di daerah terdampak bencana.
(/rel)



