Oleh Sabilla Hayatul Dhi’fa *)
PADANG, Kalibrasinews.com – Bertempat di lantai dua Pasar Raya atau disebut dengan Pasar Teater, seorang pria berusia 63 tahun masih setia menjaga berbagai tumpukan buku-buku lama. Namanya Erianas, selama 30 tahun lebih dari berdagang buku di tempat ini yang dinamakan Taman bacaan.
Semula usahanya dimulai dari tahun 1980-an, berawal dari kecintaannya pada buku sejak masa SMP dan SMA. “Bapak dari dulu suka baca buku”, ujarnya. Dari kebiasaan membaca itulah muncul keinginan beliau untuk mendirikan Taman Bacaan, tempat orang-orang bisa membeli sekaligus membaca buku dengan bebas.
Pada Tahun 1980-1990-an, lantai dua Pasar Teater bukanlah tempat yang sepi. Dulunya sejak pukul tujuh pagi, Taman Bacaan telah ramai dikunjungi. Anak-anak sekolah datang sebelum jam pelajaran dimulai. Bahkan terkadang ada yang sengaja membolos untuk membaca buku terutama komik.
Pada masa itu, Pasar Teater tidak lengang seperti sekarang. Banyak pedagang lain yang juga berjualan buku pelajaran, komik, hingga majalah. Kala iti, Pasar Teater terasa hidup. Buku-buku seperti sei Wiro Sableng laris dibaca dan dibeli.
Pada masa itu, komik Cergam juga laku terjual hingga sepuluh jilid dan pembaca akan mencari kelanjutannya sampai habis. Ada masa komik-komik Cergam itu dibeli orang Jakarta lalu divideokan dan sampai difilmkan. “Tahun 1991-1992 Pasar Teater ini masih ramai”, ujarnya.
Sebagian besar konsumen dari daerah pun rutin memesan majalah atau komik setiap bukan. Namun, memasuki tahun 2000-an, keadaan mulai berubah. Kehadiran telepon dan smartphone, perlahan menggeser kebiasaan membaca buku fisik.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah pengunjung, tetapi juga perlahan mengubah pola interaksi masyarakat dengan bacaan.
Jika dahulu orang rela meluangkan waktu berjam-jam untuk membaca buku fisik, kini kebiasaan itu tergantikan oleh akses informasi yang serba cepat melalui perangkat digital. Akibatnya, ruang-ruang baca seperti Taman Bacaan milik Erianas mulai kehilangan peran utamanya sebagai pusat literasi masyarakat.
“Tahun 2000-an udah mulai sepi, dan pengunjung semakin berkurang, satu per satu pedagang buku di Pasar Teater menghentikan usahanya. “Orang sudah sibuk dengan Hp,” ujarnya.
Sementara minat baca anak-anak menurun drastis, yang mana dulu pagi-pagi sudah ramai. Namun, pada masa sekarang ia baru membuka lapak Taman Bacaan pukul sembilan pagi dan menutupnya pukul empat sore. Ada atau tidaknya pembeli, ia tetap membuka dan menutup Taman Bacaan sesuai jadwalnya.
Kendati pembeli atau konsumen tidak lagi seramai dulu, Erianas tetap menjaga Taman Bacaan yang ia rintis dari 30 tahun yang lalu. Baginya, tempat itu tidak hanya sekadar tempat jual beli biasa, tetapi juga bagian dari hidupnya. “Kalau ada orang beli, dijual juga. Kalau ada orang baca, disilahkan”, ujarnya.
Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika membayangkan harus meninggalkan tempat itu. Setelah puluhan tahun, rak-rak buku itu seperti menyimpan kenangan, pertemanan, dan jejak generasi yang pernah tumbuh bersama bacaan-bacaan yang ada.
“Kalau sekarang ditinggalkan lain pula rasanya, ujarnya. Memiliki dua anak perempuan, dan satu anak laki-laki, ia tetap memilih mempertahankan profesinya. Bukan semata soal keuntungan, melainkan soal keyakinan dan kesetiaannya pada buku. Ia tidak lagi berbicara soal untung atau rugi, tetapi baginya bisa membuka Taman Bacaan dan melihat seseorang membaca buku saja sudah cukup, ” paparnya
Di tengah maraknya digitalisasi dan toko buku besar saat ini, Taman Bacaan kecil di lantai dua Pasar Teater menjadi penanda sejarah literasi kota ini. Tempat yang dahulunya merupakan tempat pelarian anak-anak sekolah, ruang diskusi, sekaligus menjadi hiburan yang murah meriah.
Kini, suasana itu telah berubah menjadi sunyi. Namun, selama masih ada satu orang yang datang membaca dan membuka halaman buku, Erianas percaya taman bacaan itu masih memiliki peran penting.
Meski sederhana, keberadaan taman bacaan ini tetap menjadi pengingat bahwa budaya membaca tidak sepenuhnya hilang. Masih ada harapan bahwa generasi mendatang akan kembali menemukan nilai dari lembaran-lembaran buku yang pernah berjaya.
Telihat di antara deretan kios yang berubah fungsi dan mengikuti perkembangan zaman, namun ia jstru tetap memilih bertahan.
*) Mahasiswi Ilmu Sejarah FIB Unand



