Madrid, KalibrasiNews.com – Real Madrid tengah berada dalam pusaran sorotan tajam. Bukan hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga isu internal ruang ganti yang mencuat jelang pemecatan Xabi Alonso sebagai pelatih kepala.
Kabar yang beredar menyebutkan adanya ketegangan antara pemain dan pelatih, situasi yang kemudian memicu perbandingan dengan era keemasan Zinedine Zidane.
Meski belum ada pernyataan resmi klub yang menegaskan adanya pembangkangan pemain, sejumlah laporan media Eropa menyoroti retaknya komunikasi antara Alonso dan beberapa pemain inti. Isu tersebut semakin menguat seiring hasil buruk yang dialami Los Blancos dalam beberapa kompetisi.

Xabi Alonso saat sedang Konferensi Pers jelang pertandingan.
Xabi Alonso dan Ruang Ganti yang Tidak Solid
Xabi Alonso datang ke Santiago Bernabéu dengan reputasi taktik modern dan pendekatan disiplin tinggi. Namun dalam praktiknya, gaya tersebut disebut tidak sepenuhnya selaras dengan karakter skuad bertabur bintang.
Beberapa pemain bahkan sempat membantah isu konflik secara terbuka, menandakan bahwa situasi ruang ganti tidak sepenuhnya hitam-putih. Kendati demikian, keputusan klub untuk berpisah dengan Alonso menegaskan bahwa proyek kepelatihannya dinilai gagal menciptakan stabilitas, baik secara teknis maupun psikologis.

Zidane saat diangkat oleh para pemain Real Madrid setelah mereka berhasil memenangkan Liga Champions 2018.
Kontras Tajam dengan Era Zidane
Situasi ini mengingatkan publik pada era Zinedine Zidane, sosok pelatih yang justru dikenal memiliki otoritas alami di ruang ganti Real Madrid. Di bawah Zidane, Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai Liga Champions tiga musim beruntun (2016, 2017, 2018) — sebuah pencapaian yang belum terulang hingga kini.
Menariknya, skuad Madrid kala itu juga dipenuhi pemain berstatus bintang dunia seperti Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, Luka Modric, dan Karim Benzema. Namun alih-alih konflik, Zidane justru dipuji karena mampu menjaga rasa hormat pemain, mengelola ego, serta menciptakan kebersamaan di ruang ganti.
Zidane kerap disebut sebagai man-manager ulung, pelatih yang lebih mengedepankan pendekatan personal ketimbang konfrontasi, sesuatu yang kini dirindukan oleh sebagian pendukung Madrid.

Foto selebrasi para pemain Real Madrid dan seluruh staf kepelatihan saat mereka berhasil memenangkan Liga Champions 2018.
Pelajaran dari Masa Lalu
Perbandingan antara era Alonso dan Zidane menunjukkan satu benang merah di Real Madrid, taktik saja tidak cukup. Mengelola pemain bertabur bintang membutuhkan kharisma, komunikasi, dan rasa saling menghormati.
Kini, Real Madrid kembali dihadapkan pada pertanyaan besar : “apakah krisis saat ini murni soal performa, atau justru kegagalan menjaga keharmonisan internal?” Jawabannya kemungkinan akan menentukan arah klub ke depan, terutama dalam memilih sosok pelatih berikutnya.(/net)



