PADANG, Kalibrasinews.com – Getaran gempa yang dikabarkan berkekuatan magnitudo 5,7 terasa di wilayah Kota Padang hingga kawasan pesisir Sumatera Barat (Sumbar) pada Sabtu (4/4/2026) sekira pukul 18.20 WIB hingga beberapa saat itu membuat warga kaget. Warga yang merasakan adanya getaran lantas berhamburan keluar rumah mereka
Peristiwa Gempa yang terjadi secara tiba-tiba tersebut memang menjadi pengingat bahwa wilayah Sumatera Barat termasuk daerah rawan aktivitas seismik.
Kondisi geografis yang berada di zona pertemuan lempeng membuat getaran seperti ini kerap terjadi, meski dengan skala yang bervariasi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko saat bencana terjadi.
Sebelumnya, warga di sejumlah kawasan ibu kota Provinsi Sumbar itu dikejutkan oleh gempa bumi, yang terjadi pada Sabtu sore. .
Kepanikan warga saat merasakan getaran merupakan reaksi spontan yang umum terjadi, terutama ketika guncangan terasa cukup kuat dalam waktu singkat.
Banyak warga memilih keluar rumah untuk menghindari risiko tertimpa bangunan atau benda yang berpotensi jatuh selama getaran berlangsung.
Berdasarkan data sementara dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada Sabtu pukul 18.21 WIB. Titiknya berada di 51 kilometer/KM tenggara Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumbar.
Lokasi pusat gempa yang berada di wilayah Kepulauan Mentawai memang dikenal sebagai salah satu titik aktivitas tektonik aktif di Indonesia. Kawasan ini kerap menjadi sumber gempa karena posisinya yang berada di jalur subduksi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Masih dikutip dari laman resmi BMKG, menyebutkan gempa tercatat memiliki kedalaman 11 kilometer/KM, yang tergolong sebagai gempa dangkal. Kondisi ini menyebabkan getaran lebih terasa di permukaan, khususnya di wilayah pesisir Sumatera Barat.
Gempa dengan kedalaman dangkal seperti ini umumnya lebih terasa di permukaan meskipun magnitudonya tidak terlalu besar. Hal ini yang menyebabkan warga di wilayah pesisir hingga perkotaan dapat merasakan getaran secara jelas, bahkan dalam durasi yang relatif singkat.
Sejumlah warga di kawasan pemukiman Lubuk Buaya yang merasakan getaran gempa masing-masing keluar rumah. Dari pantauan Kalibrasinews.com yang mengonfirmasi kepada warga bahwa mereka merasakan guncangan karakter berayun.
Selain di kawasan Lubuk Buaya, laporan serupa juga datang dari beberapa titik lain di Kota Padang yang merasakan getaran dengan intensitas berbeda. Sebagian warga menyebut guncangan terasa seperti ayunan ringan, sementara lainnya merasakan getaran yang cukup membuat panik.
Faktanya, sejumlah warga sempat keluar rumah guna menyelamatkan diri serta ingin mengetahui seberapa besar kekuatan gempa. Seiring, adanya tanda tanya potensi gempa berisiko tsunami atau malahan relatif aman.
Situasi saat itu sempat membuat aktivitas masyarakat terhenti sejenak. Beberapa warga terlihat berkumpul di luar rumah sambil memantau kondisi sekitar, termasuk memastikan anggota keluarga dalam keadaan aman setelah getaran berhenti.
“Betul terasa sekali getarannya dan bisa dilihat kabel listrik di tiang tampak seperti berayun,” ujar Mawi seorang warga setempat.
Fenomena benda-benda yang tampak berayun seperti kabel listrik menjadi indikator nyata bahwa getaran cukup terasa di permukaan.
Hal ini juga menjadi salah satu tanda yang sering digunakan masyarakat untuk memastikan apakah getaran yang dirasakan benar berasal dari aktivitas gempa.
Sampai saat ini, belum ada keterangan resmi lanjutan dari BMKG terkait penyebab gempa maupun potensi dampak lanjutan yang mungkin terjadi. Sementara itu, juga belum diperoleh informasi tentang kerusakan atau jumlah korban.
Namun begitu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Sejurus itu pula, warga hendaknya tetap tenang serta tak mudah untuk terpancing atas isu bakalan terjadi kondisi buruk.
Di tengah situasi seperti ini, penting bagi masyarakat untuk tetap mengandalkan informasi resmi dari instansi terkait agar tidak terjadi kepanikan yang berlebihan.
Edukasi mengenai langkah evakuasi mandiri juga dinilai perlu terus disosialisasikan, mengingat potensi bencana alam di wilayah ini tidak bisa diprediksi secara pasti.
Kepada warga masyarakat hendaknya selalu mengulang cek kebenaran (ricek) apabila ada informasi yang tidak diketahui sumbernya serta belumlah terverifikasi aktualitasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada dan siap menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.
(Emil/Kalibrasinews.com)



