Darurat Karhutla: Habitat Rusak Parah, Ratusan Satwa Liar Terdampak

PADANG, Kalibrasinews.com — Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa sejumlah wilayah Indonesia kini tidak hanya mengancam keselamatan pemukiman warga serta kualitas udara, tetapi juga mengancam kelangsungan ekosistem keanekaragaman hayati.

Penanganan bencana alam yang meluas ini terbukti membutuhkan perhatian multidimensional dan terpadu agar dampak kerusakan ekologisnya tidak semakin membahayakan masa depan lingkungan.

Keselamatan makhluk hidup yang menghuni kawasan hutan terdampak kini menjadi salah satu prioritas utama yang dipantau secara ketat oleh seluruh otoritas terkait di lapangan.

Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi disebutkan bahwa pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat telah menyelamatkan 232 satwa liar yang terdampak karhutla hingga 8 Oktober 2026.

Jumlah satwa yang berhasil dievakuasi tersebut mencatatkan peningkatan signifikan dibanding data laporan sebelumnya yang mencatat sebanyak 202 ekor per 29 September 2026 lalu.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan RI, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa penanganan karhutla nasional tidak boleh mengabaikan keberadaan keberlanjutan flora dan fauna endemik Indonesia yang rentan punah.

“Kami dari Kementerian Kehutanan tidak hanya fokus melindungi masyarakat, tetapi kami juga fokus untuk menyelamatkan satwa liar yang terdampak dari kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” ujar Ristianto dalam konferensi pers pada Rabu (14/10/2026).

Langkah evakuasi darurat ini mencakup berbagai jenis spesies langka yang habitat aslinya rusak parah akibat paparan asap pekat serta kobaran api yang membakar vegetasi.

Rincian data penyelamatan fauna tersebut melibatkan koordinasi lintas wilayah rawan bencana:

  • Spesies Primata: Sebanyak 76 ekor bekantan berhasil diselamatkan (73 ekor di antaranya ditemukan di Kalimantan Selatan), serta 71 ekor orang utan (terdiri atas 46 ekor di Kalimantan Barat dan 25 ekor di Kalimantan Tengah).

  • Satwa Dilindungi: Sebanyak 24 ekor trenggiling berhasil dievakuasi (12 ekor di Kalimantan Barat, 9 ekor di Kalimantan Tengah, dan 3 ekor di Sumatera Selatan).

  • Spesies Lainnya: Terdata 15 ekor monyet ekor panjang, 9 ekor kukang, serta 37 ekor satwa dari berbagai jenis spesies seperti lutung, kucing kuwuk, hingga ular.

Penanganan Khusus Tanjung Puting dan Panduan Penting Bagi Warga

Perhatian ekstra saat ini dipusatkan secara intensif pada kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, yang merupakan salah satu sanctuary atau tempat perlindungan utama bagi habitat asli orang utan.

Baca Juga  Profesor Unpad : Stop Saling Salahkan, Fokus Kolaborasi Pulihkan Bencana Sumatera

Untuk menanggulangi ancaman kebakaran yang meluas ke dalam kawasan konservasi, Kementerian Kehutanan mengerahkan ratusan personel gabungan.

Pasukan ini terdiri dari Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Karimunjawa, Gunung Halimun Salak, serta dukungan TNI Kodam XXII/Tambun Bungai, Polres Kotawaringin Barat, BPBD, hingga mitra terkait.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, dalam waktu sesingkat-singkatnya, Kementerian Kehutanan beserta para pihak segera ingin menuntaskan kejadian karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya di Taman Nasional Tanjung Puting,” pungkas Ristianto.

Selain pengerahan tim ahli di lapangan, masyarakat luas juga memegang peranan sangat krusial dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati saat terjadi bencana karhutla.

Ketika satwa liar terdesak keluar dari habitat aslinya akibat kebakaran hutan, potensi interaksi dan konflik antara manusia dan satwa liar dapat meningkat secara tajam.

Berikut adalah panduan keselamatan dan langkah aksi cepat yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan:

  • Jangan Melakukan Penanganan Mandiri: Satwa liar yang sedang berada dalam kondisi stres, panik, atau terluka sangat berbahaya. Memegang atau mencoba menangkap satwa tanpa keahlian khusus dapat memicu serangan mendadak serta mencederai satwa tersebut.

  • Sediakan Jalur Penyelamatan: Hindari tindakan memojokkan, melukai, atau mengisolasi satwa secara kasar jika mereka terbukti terdesak masuk ke dalam area perkebunan warga maupun pemukiman masyarakat.

  • Hubungi Pusat Layanan Darurat 24 Jam: Masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak bencana diimbau untuk segera menghubungi kontak call center resmi Balai KSDA Kalimantan Barat (0811 577 6767), Balai KSDA Kalimantan Tengah (0811 5218 500), atau Balai KSDA Kalimantan Timur (0821 1333 8181).

Komitmen berkesinambungan antara pihak pemerintah dan keterlibatan aktif dari warga menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak kerusakan ekologis akibat karhutla.

Melalui adanya penanganan terpadu serta kesadaran kepedulian bersama, kelangsungan hidup satwa liar dan keutuhan ekosistem hutan Indonesia dapat tetap terjaga dari ancaman bahaya kepunahan.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini