Warga Protes Kabut Asap Beracun, Penanganan Karhutla Indonesia Jadi Sorotan Dunia

PADANG, KalibrasiNews.com – Aksi demonstrasi menentang kabut asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan internasional.

Polisi dilaporkan menembakkan meriam air atau water cannon ke arah demonstran di Kalimantan yang memprotes dampak karhutla terparah dalam lebih dari satu dekade.

Gelombang protes juga berlangsung di sejumlah wilayah lain, seiring meningkatnya keresahan masyarakat terhadap dampak kebakaran dan penanganannya.

Media internasional Al Jazeera menyoroti aksi tersebut melalui unggahan di platform X.

Demonstrasi terjadi di tengah krisis karhutla yang memicu kabut asap pekat dan mengganggu kehidupan warga.

Situasi ini turut menambah tekanan terhadap pemerintah agar penanganan kebakaran dilakukan secara lebih efektif.

Karhutla yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatra, telah menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat.

Asap dari kebakaran menyebar ke kawasan permukiman dan memperburuk kualitas udara.

Dampaknya juga dirasakan hingga negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

Laporan Al Jazeera pada 19 Oktober 2026 menyebutkan bahwa karhutla dan kabut asap beracun di Kalimantan Tengah terus memburuk.

Kondisi tersebut memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai upaya penanganan krisis belum cukup untuk mengatasi persoalan secara menyeluruh.

Demonstrasi kemudian menjadi salah satu cara masyarakat menyampaikan keresahan terhadap dampak kebakaran yang berkepanjangan.

Warga tidak hanya menghadapi gangguan aktivitas sehari-hari, tetapi juga kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga dan kondisi lingkungan tempat tinggal mereka.

Protes Meluas, Dampak Kabut Asap Jadi Sorotan

(Foto: Doc.X @AJEnglish)
Polisi dilaporkan menembakkan meriam air atau water cannon ke arah demonstran di Kalimantan yang memprotes dampak kebakaran hutan terparah dalam lebih dari satu dekade.

Aksi penolakan terhadap penanganan kebakaran tidak hanya berlangsung di Kalimantan.

Laporan Channel NewsAsia yang mengutip AFP menyebutkan demonstrasi juga digelar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar pada 20 Oktober 2026.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa dan kelompok masyarakat menyuarakan sejumlah persoalan, mulai dari kebakaran hutan, kabut asap, hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Meluasnya demonstrasi menunjukkan bahwa dampak krisis lingkungan telah menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah.

Beberapa persoalan yang menjadi sorotan dalam gelombang protes tersebut meliputi:

  • Kabut asap beracun: asap kebakaran mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak kesehatan.
  • Penanganan kebakaran: masyarakat menuntut upaya pemadaman yang lebih efektif agar kebakaran tidak terus meluas.
  • Dampak terhadap kehidupan sehari-hari: gangguan kualitas udara turut memengaruhi kegiatan masyarakat dan penghasilan sebagian warga.
  • Tanggung jawab atas kebakaran: demonstran menyoroti perlunya penanganan terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.
Baca Juga  Karhutla Mengintai, BMKG Perkuat Pantauan Titik Panas

Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, warga juga menyampaikan keluhan mengenai dampak kabut asap terhadap kehidupan mereka.

Dalam laporan AFP yang diterbitkan Channel NewsAsia, seorang pedagang minuman bernama Melsi mengungkapkan bahwa kondisi kabut asap membuat penjualan menurun, sementara harga kebutuhan terus meningkat.

Keluhan tersebut menggambarkan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada kerusakan hutan.

Ketika kualitas udara memburuk dan aktivitas masyarakat terganggu, kelompok yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan sehari-hari juga dapat mengalami tekanan ekonomi.

Sementara itu, laporan yang sama menyebutkan seorang warga bernama Sifra mengaku suami dan kedua anaknya mengalami batuk selama sekitar satu bulan akibat kondisi kabut asap.

Kesaksian warga tersebut memperlihatkan kekhawatiran mengenai paparan asap yang berlangsung dalam waktu lama.

Besarnya dampak karhutla juga terlihat dari skala upaya pemadaman.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, menyatakan lebih dari 60.000 personel pemadam, termasuk relawan, dikerahkan untuk menangani karhutla di berbagai wilayah.

Sebanyak 49 pesawat juga disiapkan untuk operasi pengeboman air dan modifikasi cuaca, meskipun sebagian penerbangan sempat terkendala kabut asap.

Data pemantau kebakaran Nusantara Atlas yang dikutip AFP mencatat kebakaran di Indonesia telah melahap lebih dari 1,9 juta hektare lahan dalam sembilan bulan pertama 2026.

Situasi tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan upaya berkelanjutan, mulai dari pemadaman hingga pencegahan kebakaran baru.

Di tengah meluasnya protes, tuntutan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan dan lingkungan turut menjadi perhatian.

Krisis kabut asap kini bukan sekadar persoalan kebakaran musiman, melainkan juga menyangkut keselamatan warga, keberlanjutan lingkungan, dan kepercayaan masyarakat terhadap penanganan pemerintah.

Demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah memperlihatkan besarnya desakan agar persoalan tersebut segera ditangani secara serius.(net)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini