Oleh: Siska Efendi *)
NAGARI TUNGKAR, KalibrasiNews.com – Kelompok pembudidaya ikan lele di Nagari Tungkar dan Nagari Barulak, Sumatera Barat, mendapat pendampingan melalui penerapan teknologi terpadu yang menggabungkan budidaya ikan, produksi pakan mandiri, serta pemanfaatan limbah untuk tanaman cabai.
Program tersebut dijalankan tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Andalas yang diketuai Siska Efendi.
Kegiatan ini menggandeng pemerintah daerah setempat dan diarahkan untuk membantu kelompok pembudidaya menghadapi sejumlah kendala operasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan.
Salah satu kelompok yang menjadi sasaran adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Batang Anau di Nagari Tungkar dan Pokdakan Impian Bersama di Nagari Barulak.
Program pemberdayaan tersebut hadir setelah para pembudidaya menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pasokan air hingga tingginya biaya produksi.
Sumur Bor hingga Pakan Mandiri

Air dari tandon kemudian dialirkan ke 15 kolam pembesaran yang menggunakan lapisan terpal kedap air.
Di Nagari Tungkar, salah satu persoalan utama yang dihadapi pembudidaya adalah terhentinya pasokan air akibat disfungsi bendungan.
Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya harga pakan pabrikan yang dapat menyerap hingga 80 persen biaya produksi.
Kelompok juga menghadapi masa tunggu panen lele yang mencapai sekitar tiga bulan. Dalam periode tersebut, belum tersedia sumber pendapatan tambahan bagi kelompok.
Infrastruktur kolam yang mengalami kerusakan dan rentan bocor turut menambah beban pembudidaya dalam menjalankan usaha sehari-hari.
Untuk menjawab persoalan air dan kolam, tim pengabdi bersama masyarakat membangun sumur bor artesis sedalam 28 meter yang terhubung dengan tandon berkapasitas 1.000 liter.
Air dari tandon kemudian dialirkan ke 15 kolam pembesaran yang menggunakan lapisan terpal kedap air.
Sistem tersebut membuat pasokan air menjadi lebih stabil sekaligus mengurangi risiko kebocoran kolam.
Dengan fasilitas yang telah diperbaiki, sebanyak 11.500 benih ikan lele dapat ditebar dan dipelihara dalam kondisi budidaya yang lebih mendukung.
Persoalan pakan juga mendapat perhatian. Tim memperkenalkan mekanisasi produksi pakan mandiri menggunakan mesin penepung, pencetak pelet, dan motor penggerak.
Para anggota kelompok dilatih untuk mengolah bahan baku lokal menjadi pelet ikan dengan kandungan protein 30 persen.
Produksi pakan secara mandiri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha budidaya lele.
Limbah Lele Dimanfaatkan untuk Cabai

Pada demplot hortikultura berukuran 44 x 15 meter, ditanam sebanyak 1.600 batang cabai.
Pendampingan tidak berhenti pada budidaya ikan.
Tim juga memperkenalkan sistem integrasi LECA atau Lele-Cabai untuk memanfaatkan limbah air kolam sekaligus menciptakan sumber kegiatan produktif selama menunggu masa panen lele.
Pada demplot hortikultura berukuran 44 x 15 meter, ditanam sebanyak 1.600 batang cabai.
Melalui sistem fertigasi otomatis, air limbah dari kolam lele yang mengandung amonia dialirkan untuk membantu memenuhi kebutuhan tanaman.
Konsep tersebut membuat limbah budidaya ikan tidak langsung terbuang ke lingkungan.
Air kolam dimanfaatkan dalam sistem pertanian sehingga terbentuk pola usaha yang saling terhubung antara sektor perikanan dan hortikultura.
Untuk mengendalikan hama, terutama kutu daun, sistem tersebut juga memanfaatkan senyawa atraktan dan tanaman refugia.
Pendekatan ini ditujukan untuk menarik predator alami sehingga pengendalian hama tidak sepenuhnya bergantung pada pestisida kimia.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah air kolam sebagai bagian dari sistem budidaya turut mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik.
Tanaman cabai diharapkan dapat tumbuh dengan dukungan sumber nutrisi yang berasal dari sistem budidaya lele.
Program ini didukung pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia bersama LPPM Universitas Andalas.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis yang dihadapi pembudidaya, tetapi juga membuka peluang menuju kemandirian ekonomi kelompok secara lebih berkelanjutan.
Integrasi produksi ikan, pakan mandiri, dan tanaman cabai menjadi bagian dari upaya membangun model pertanian terpadu di Nagari Tungkar.
Jika dapat berjalan secara berkelanjutan, pola tersebut berpeluang menjadi contoh bagi kelompok pembudidaya lain di Sumatera Barat.
Dengan pendekatan teknologi tepat guna dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat, program ini diharapkan mampu menekan biaya produksi, mengoptimalkan pemanfaatan limbah, serta membuka sumber pendapatan tambahan bagi pembudidaya.
*) Dosen Fakultas Pertanian UNAND Kampus Dharmasraya



