JAKARTA, KalibrasiNews.com – Pemerintah memastikan proses pemulihan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 telah menunjukkan kemajuan signifikan, dengan sebagian besar wilayah terdampak kini kembali beraktivitas secara normal.
Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) yang diterima redaksi, disebutkan bahwa upaya pemerintah kini difokuskan untuk mempercepat pemulihan di 11 kabupaten/kota yang masih memerlukan penanganan khusus.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan sebagian besar aktivitas ekonomi, infrastruktur, dan pelayanan publik di wilayah terdampak telah berjalan normal kembali.
Meski demikian, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus kepada sejumlah daerah yang pemulihannya belum sepenuhnya selesai.
“Yang sudah mendekati normal, itu artinya masih ada sedikit masalah,” ujar Tito dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
“Dan kemudian yang membutuhkan atensi khusus artinya masih harus terus kita kejar,” tambahnya.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri per 4 Agustus 2026, di Sumatera Barat sebanyak 13 dari 16 kabupaten/kota terdampak telah dinyatakan normal, satu daerah mendekati normal, dan dua lainnya masih memerlukan penanganan khusus.
Di Sumatera Utara, 16 dari 19 kabupaten/kota terdampak telah kembali normal, satu daerah berstatus mendekati normal, sementara dua daerah lainnya masih membutuhkan percepatan pemulihan.
Sementara di Aceh, dari total 18 kabupaten/kota terdampak, sebanyak 10 daerah telah dinyatakan normal, satu daerah mendekati normal, dan tujuh daerah masih memerlukan perhatian khusus.
Adapun 11 kabupaten/kota di tiga provinsi yang hingga kini masih menjadi prioritas pemulihan meliputi Kabupaten Agam dan Padang Pariaman di Sumatera Barat; Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara di Sumatera Utara; serta Kabupaten Aceh Tamiang, Bireuen, Gayo Lues, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Timur di Aceh.
Untuk mempercepat pemulihan di daerah-daerah tersebut, pemerintah terus melakukan berbagai langkah akselerasi, termasuk mengerahkan ribuan praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membantu membersihkan wilayah serta menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di daerah terdampak.
Pemerintah menilai keberhasilan proses pemulihan tidak hanya diukur dari perbaikan infrastruktur yang rusak, tetapi juga dari pulihnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
Karena itu, koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga relawan terus diperkuat agar seluruh program rehabilitasi berjalan tepat sasaran.
Berbagai kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari akses pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga distribusi logistik, menjadi perhatian utama selama masa pemulihan berlangsung.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat kembalinya aktivitas masyarakat secara menyeluruh tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan mitigasi bencana.
Pemerintah juga terus melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan di setiap daerah agar kendala yang muncul dapat segera ditangani.
Dengan langkah tersebut, proses pemulihan di daerah prioritas diharapkan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga seluruh wilayah terdampak benar-benar kembali pulih.
Tito juga melaporkan bahwa pemulihan fasilitas publik telah menunjukkan perkembangan signifikan.
Seluruh kantor pemerintahan tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali beroperasi normal.
Namun, memang masih terdapat sejumlah kantor desa dan kelurahan yang belum sepenuhnya pulih.
Di sektor kesehatan, hampir seluruh layanan telah kembali beroperasi.
Sebanyak 867 puskesmas dan 87 rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak telah berfungsi normal.
Saat ini hanya tinggal enam puskesmas pembantu dari total 2.552 unit terdampak yang masih menggunakan bangunan sementara.
Selain itu, pemerintah juga terus mempercepat pemulihan sektor pendidikan.
Dari 4.922 sekolah yang terdampak, sebanyak 3.134 sekolah telah direvitalisasi.
Sebanyak 1.639 sekolah akan menerima bantuan sarana pendukung pembelajaran, sementara 797 sekolah lainnya telah memperoleh bantuan pemerintah pada 2026.
“Kalau kita lihat dari awal, Bapak Presiden langsung mengambil alih. Menugaskan seluruh kementerian dan lembaga untuk mengeroyok (membantu pemulihan bencana) rame-rame. Pengerahan pasukan luar biasa,” ujar Tito.
Selain mengoordinasikan percepatan pemulihan lintas kementerian dan lembaga, Tito mengungkapkan Presiden RI Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan pemberian tambahan anggaran keuangan daerah untuk Pemerintah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Rinciannya, Rp1,4 triliun untuk Aceh, Rp2,6 triliun untuk Sumatera Barat, dan Rp6,3 triliun untuk Sumatera Utara.
“Semua diberikan, Rp10,6 triliun itu pembagiannya,” ucapnya.
Tito menyebut ini merupakan strategi pemerintah untuk memperkuat kapasitas fiskal pemerintah daerah agar mampu mempercepat pemulihan pascabencana, dengan tetap didampingi kementerian dan lembaga terkait.
(/kalibrasinews.com)



