Ulat Grayak Jagung bisa “Kebal” Racun, Pakar Hama Asal UNAND Ungkap Solusinya di Forum Internasional Bali

PADANG, KalibrasiNews.com – Pernah dengar ulat yang makin susah dibasmi meski sudah disemprot insektisida berkali-kali? Fenomena itulah yang dibahas Prof. Novri Nelly, Guru Besar sekaligus pakar hama dari Universitas Andalas (UNAND), di hadapan ilmuwan dari berbagai negara dalam sebuah forum ilmiah internasional bergengsi di Bali.

Prof. Novri Nelly, dosen di Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian UNAND, tampil sebagai salah satu presenter dalam The 7th International Conference on Environmental Engineering (ICOEE) 2026.

Konferensi ini digelar di Bintang Bali Resort, Kuta, Bali, pada 30-31 Juli 2026, dan diselenggarakan oleh Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama Universitas Udayana dan Universitas Mahasaraswati Denpasar.

Peserta sebanyak 423 orang berasal dari 19 negara.

Forum ilmiah tersebut menjadi wadah bagi para akademisi, peneliti, serta praktisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan mengenai tantangan lingkungan global sekaligus memperkenalkan berbagai hasil riset terbaru yang berorientasi pada solusi berkelanjutan.

Beragam isu strategis dibahas, mulai dari perubahan iklim, pengelolaan limbah, ketahanan pangan, konservasi sumber daya alam, hingga inovasi teknologi ramah lingkungan.

Kehadiran Prof. Novri Nelly dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa hasil penelitian yang dikembangkan di UNAND memiliki relevansi terhadap persoalan global dan mampu memberikan kontribusi ilmiah dalam upaya mencari solusi atas berbagai tantangan di sektor pertanian.

Partisipasi ini juga membuka peluang kolaborasi riset lintas negara yang dapat memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas penelitian Indonesia di tingkat internasional.

Hama Makin “Kebal”, Petani Makin Repot

(Foto: Istimewa)
Prof. Novri Nelly memaparkan hasil kajiannya berjudul “Managing Fall Armyworm Resistance as a Strategy to Reduce Environmental Pollution and Enhance Sustainable Maize Production“.

Di hadapan forum internasional itu, Prof. Novri Nelly memaparkan hasil kajiannya berjudul “Managing Fall Armyworm Resistance as a Strategy to Reduce Environmental Pollution and Enhance Sustainable Maize Production“, sebuah riset yang mengupas persoalan hama ulat grayak jagung atau Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda), momok yang selama ini bikin pusing petani jagung, termasuk di Indonesia.

Sebenarnya hama ini baru ditemukan di Indonesia pada tahun 2019, dan menyerang tanaman jagung.

Masalahnya, kata Prof. Novri Nelly, karena serangan si ulat begitu ganas, banyak petani terpaksa menyemprot insektisida berulang kali.

Sayangnya, cara ini justru berbalik jadi bumerang dan semakin sering disemprot, si hama justru semakin kebal, sehingga racun yang dulunya ampuh, lama-lama tidak akan mempan lagi.

“Ujung-ujungnya petani menyemprot lebih sering lagi. Ini bukan cuma bikin biaya produksi membengkak, tapi residu pestisida yang mencemari tanah dan air juga makin banyak, sementara musuh alami hama di sawah dan ladang ikut berkurang,” jelasnya.

Bukan Cuma Soal Petani, Tapi Juga soal Lingkungan dan Masa Depan Pangan

Menurut Prof. Novri Nelly, persoalan ini bukan sekadar urusan teknis di ladang.

Ia menegaskan, resistensi insektisida yang dibiarkan tanpa strategi pengendalian yang lebih bijak bisa mengancam keberlanjutan produksi jagung nasional, sekaligus merusak kualitas lingkungan dalam jangka panjang.

“Kita perlu strategi pengendalian hama yang lebih tepat sasaran dan terukur, supaya produksi jagung tetap jalan tanpa harus mengorbankan lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, isu ini juga berkaitan langsung dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan dunia atau Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, air bersih, hingga penanganan perubahan iklim.

Diperlukan penerapan pengelolaan hama terpadu yang mengombinasikan berbagai metode, seperti pemanfaatan musuh alami, pemantauan populasi hama secara berkala, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan, serta aplikasi pestisida secara bijaksana berdasarkan ambang kendali.

Strategi tersebut dinilai mampu menekan risiko munculnya resistensi insektisida sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian sehingga produktivitas jagung tetap terjaga tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.

Harumkan Nama Sumbar di Kancah Dunia

Keikutsertaan Prof. Novri Nelly di ICOEE ke-7 2026 ini sekaligus jadi bukti bahwa periset asal Sumatera Barat mampu bersaing dan berkontribusi di forum sains internasional.

Kegiatan ini terselenggara atas dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang dikelola melalui Program EQUITY dengan Nomor Kontrak 4304/B3/DT.03.08/2025.

Melalui kolaborasi dengan para peneliti dari berbagai negara, hasil penelitian mengenai pengendalian ulat grayak jagung diharapkan terus berkembang sehingga mampu memberikan manfaat bagi petani, mendukung peningkatan produksi pangan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

(emil/kalibrasinews.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini