BANDUNG, Kalibrasinews.com – Transmigrasi masa depan tidak lagi bisa dibaca dengan kacamata lama: sekadar memindahkan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dalam siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesian (Bakom RI) & Kementerian Transmigrasi yang diterima redaksi, Selasa (23/6/2026) menyebutkan Menteri Transmigrasi RI, M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa Abad ke-21 harus menjadi era transmigrasi pengetahuan, teknologi, dan talenta.
“Jika abad ke-20 adalah era transmigrasi penduduk, maka abad ke-21 harus menjadi era transmigrasi pengetahuan, teknologi, dan talenta,” ujar Menteri Iftitah dalam pidatonya pada pertemuan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH) di Kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Kampus-kampus terbaik melahirkan ribuan sarjana, magister, doktor, dan profesor setiap tahun.
Namun tantangan terbesar bangsa bukan hanya mencetak talenta, melainkan memastikan talenta terbaik bersedia hadir dan bekerja untuk Indonesia.
Menurutnya, pembangunan Indonesia pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, pemerataan keahlian dan pengetahuan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mempercepat pembangunan daerah.
Banyak wilayah memiliki potensi besar yang belum berkembang secara optimal karena keterbatasan akses terhadap tenaga ahli dan inovasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui pendekatan pembangunan yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia menggunakan kepintarannya untuk Indonesia. Kita tidak sedang mencari talenta terbaik untuk dirinya sendiri. Kita sedang mencari talenta terbaik yang bersedia mengabdi untuk bangsanya,” tegasnya.
Iftitah menjelaskan, transmigrasi dan perguruan tinggi sesungguhnya memiliki misi yang sama sebagai instrumen peradaban.
Kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi dan kawasan pengembangan baru dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan daerah.
Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penghasil riset dan inovasi yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
Melalui sinergi tersebut, berbagai hasil penelitian dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan demikian, manfaat ilmu pengetahuan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
Kampus membangun pusat keunggulan ilmu pengetahuan, sementara transmigrasi membangun pusat pertumbuhan baru.
“Jika kampus menciptakan pengetahuan, maka kawasan transmigrasi menyediakan ruang tempat pengetahuan itu diuji, diterapkan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Konsep pembangunan seperti ini dinilai mampu mempercepat pemerataan kemajuan antardaerah.
Kehadiran akademisi, peneliti, dan tenaga profesional di berbagai wilayah dapat membantu meningkatkan kapasitas masyarakat setempat.
Selain itu, berbagai inovasi yang sebelumnya hanya berkembang di lingkungan kampus berpeluang diterapkan secara langsung untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga.
Langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional yang semakin kompleks.
Dalam forum tersebut, Iftitah juga menyampaikan apresiasi kepada PTNBH yang telah menjadi mitra Kementerian Transmigrasi dalam Program Transmigrasi Patriot.
Pada 2025, tujuh PTNBH telah terlibat, yakni UI, IPB, ITB, Unpad, Undip, UGM, dan ITS.
Tahun ini, kolaborasi diperluas dengan bergabungnya Unair, UB, dan Unhas.
Ia berharap, ke depan seluruh PTNBH dapat terlibat dalam gerakan besar membangun Indonesia melalui distribusi pengetahuan, teknologi, dan talenta ke seluruh Nusantara.
“Kami ingin menghadirkan ilmu pengetahuan. Kami ingin mendekatkan kampus dengan masyarakat. Kami ingin menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium hidup pembangunan Indonesia,” katanya.
Iftitah menambahkan, kawasan transmigrasi harus menjadi tempat teori bertemu praktik, riset bertemu kebutuhan nyata, dan inovasi bertemu masyarakat.
Dengan begitu, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di kampus, tetapi melahirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat.
“Perguruan tinggi yang hebat bukan hanya yang dikenal dunia. Perguruan tinggi yang hebat adalah yang paling dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” pungkasnya.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia membutuhkan strategi pembangunan yang mampu memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki bangsa.
Salah satu langkah penting adalah memastikan bahwa pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia berkualitas dapat menjangkau seluruh daerah.
Dengan cara itu, kesenjangan pembangunan dapat ditekan sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Upaya tersebut juga menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.
(/rel/Kalibrasinews.com)



