Nenek 70 Tahun Ini Berharap Sekolah Rakyat Jadi Solusi Cucunya Keluar dari Kemiskinan

SRAGEN, Kalibrasinews.com – Dalam usianya ke-70 tahun serta di tengah kondisi ekonomi yang penuh keterbatasan, nenek Samini berharap cucunya yang kini bersekolah di Sekolah Rakyat dapat tumbuh menjadi anak yang pintar dan sukses.

Siaran pers (press release) Bakom RI menyebutkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen tidak hanya memberi Hendi Saputro, cucu nenek Samini, harapan untuk meraih cita-citanya.

Tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi kakek dan neneknya untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarga mereka.

“Saya senang cucu saya sekolah di Sekolah Rakyat. Supaya anaknya pintar, supaya sukses, supaya tidak seperti nenek, kakeknya dan ayahnya. Supaya kehidupannya ke depan menjadi baik,” harap nenek Samini, dikutip pada Selasa (21/4/2026).

Hendi, yang saat ini duduk di bangku kelas 7 SMP, memang menempuh jalan hidup yang terjal.

Kisah yang dialami Hendi mencerminkan realitas yang masih dihadapi sebagian keluarga prasejahtera di berbagai daerah, di mana akses pendidikan sering kali terhambat oleh kondisi ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, pilihan untuk melanjutkan sekolah di sekolah rakyat ini bukan hanya soal keinginan, tetapi juga kemampuan bertahan di tengah keterbatasan.

Karena itu, kehadiran program pendidikan gratis dengan dukungan fasilitas yang memadai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak-anak dari keluarga rentan.

Setelah ditinggal ibunya yang wafat karena COVID-19, ayah Hendi terserang stroke yang membuatnya tidak lagi bisa bekerja mencari nafkah bagi keluarga.

Di tengah kondisi tersebut, Samini dan Patmo Suwito (76), nenek dan kakek Hendi, menjadi sosok yang menggantikan peran orang tua sekaligus tulang punggung keluarga.

Di usia senja, ketika seharusnya menikmati masa tua, keduanya justru masih berjuang mencari sisa-sisa karet untuk dijual ke pabrik seharga Rp5.000 per kilogram.

Dalam sehari, Samini dan Patmo hanya mampu mengumpulkan sekitar 10 kilogram, dengan pendapatan kurang lebih Rp50.000 per hari.

Dari penghasilan itu lah, Samini harus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, membiayai ayah Hendi yang sakit stroke, hingga memberi uang jajan untuk Hendi dan adiknya.

Di tengah situasi ekonomi yang berat itu, Hendi pun sempat putus sekolah karena keterbatasan biaya, bahkan bekerja di bengkel untuk membantu kebutuhan keluarga.

Pengalaman sempat putus sekolah dan harus bekerja di usia muda menjadi gambaran tekanan yang dihadapi anak-anak dalam kondisi serupa.

Selain berdampak pada pendidikan, situasi ini juga berpotensi memengaruhi perkembangan mental dan kepercayaan diri anak.

Oleh karena itu, kembalinya Hendi ke bangku sekolah tidak hanya menjadi langkah melanjutkan pendidikan, tetapi juga bagian dari proses pemulihan harapan dan masa depan yang sempat terhenti.

Kini, setelah bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen, pendidikan dan kehidupan Hendi di asrama lebih terjamin.

Program Sekolah Rakyat dinilai tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga memberikan pendekatan menyeluruh terhadap kebutuhan siswa.

Fasilitas asrama, makanan bergizi, serta perlengkapan belajar yang disediakan secara gratis membantu menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi proses pembelajaran.

Dengan dukungan tersebut, siswa dapat lebih fokus mengembangkan potensi diri tanpa terbebani persoalan ekonomi keluarga.

Ia mendapatkan seragam lengkap secara gratis, fasilitas belajar, serta makan bergizi tiga kali sehari.

“Cucu saya diberi (fasilitas) komplit, saya tidak mengeluarkan sepeser pun,” kata nenek Samini.

Tak hanya Hendi yang menerima manfaat, kakek dan neneknya juga memperoleh dukungan berupa dua ekor kambing dari pemerintah, sebagai upaya membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Bantuan yang diberikan kepada keluarga, seperti dukungan ekonomi melalui pemberian ternak, menunjukkan bahwa program ini juga menyasar aspek kesejahteraan keluarga secara lebih luas.

Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi rumah tangga.

Dengan adanya intervensi yang menyentuh kedua aspek tersebut, peluang untuk memutus rantai kemiskinan dinilai menjadi lebih terbuka.

“Saya bersyukur sekali, cucu saya ditolong pemerintah. Bapak Presiden Prabowo, saya senang sekali, Pak. Semoga cucu saya jadi orang sukses kedepannya, Pak,” imbuh Samini.

Kementerian Sosial, selaku pihak yang diberikan mandat oleh Presiden Prabowo untuk menjalankan program ini, terus berkomitmen agar Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar bagi siswa dari keluarga prasejahtera, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun mimpi, harapan, dan masa depan yang lebih baik.

Kisah nenek Samini dan cucunya menjadi gambaran nyata bagaimana akses pendidikan yang didukung oleh kebijakan yang tepat dapat membuka peluang perubahan bagi keluarga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan.

Harapan sederhana agar cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik mencerminkan tujuan besar dari program ini, yakni menghadirkan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih layak.

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini