PADANG, Kalibrasinews.com – Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas atau IKA Unand menggelar kegiatan bedah buku pada Selasa (10/3/2026) mulai pukul 13.00 WIB bertempat di Lantai 2 Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center Padang, Provinsi Sumatera Barat.
Adapun bedah buku yang berjudul, Mitigasi Kultural: Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat
Buku yang ditulis oleh Yose Hendra, seorang jurnalis sarjana Ilmu Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB)Unand serta editornya Hendra Makmur juga jurnalis itu diterbitkan oleh Rumahkayu Pustaka dalam bedah buku tersebut mendapat respon partisipan. Mereka yang ikut secara hibrid masing-masing langsung tatap muka (offline).
Di antaranya, pemerhati lingkungan akademisi, jurnalis/wartawan serta Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM atau NGO terkait dan mahasiswa. Mereka diundang daring via zoom meeting khusus oleh pihak panitia penyelenggara.

Melalui bedah buku kali ini turut Wali Kota Padang, Fadly Amran serta sederet akademisi Prof. Lucky Zamzami, M.Sos. Sc. (Ketua Prodi Magister Antropologi UNAND), Dr. Wirda Ningsih (Dosen Antropologi UNP, penulis buku Budaya, Lingkungan dan Mitigasi Bencana) serta Febriyandi, S.Sos. M.A. (Peneliti BRIN) dan Moderator Dr M Hidayat, MA.
Acara yang dibuka oleh Ketua Umum Ikatan Kekerabatan Antropologi Universitas Andalas Yefri Heriani mengulas tentang latar belakang hingga penyelenggaraan kegiatan bedah buku ini.
“Kami sampaikan, atas dukungan dan kerjasamanya hingga terselenggaranya kegiatan bedah buku kali ini sesuai yang direncanakan, ” ujar Yefri.
Menurutnya, belajar dari penanganan bencana yang jamak terjadi di Sumatera Barat, IKA melihat ditemukan banyak tantangan.
Karena, imbuhnya atas event bedah buku ini merupakan wadah bagi alumni Antropologi Univeristas Andalas dalam pengembangan sumber daya dan pengabdian terhadap penanganan isu sosial-budaya yang terjadi di tengah masyarakat.
Termasuk menemukan potensi-potensi lokal untuk menghasilkan terobosan dan transformasi sosial.

Belajar dari Bencana
Bagi Yose Hendra, yang telah menulis buku setema yang sama mengernai kebencanaan tesebut bukan kali ini saja dibincangkan bersama, melalui bedah buku.
Menurutnya, riset hampir sama juga dilakukan bersama tim untuk yang ketiga kalinya hingga saat ini.
Buku ini merupakan hasil dari kerja panjang riset dan pendokumentasian lapangan yang dilaksanakan pengujung Tahun 2024 hingga Tahun 2025, dengan dukungan penuh program Dana Indonesiana – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sejak awal, pihaknya meyakini bahwa pengetahuan lokal bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan pusaka kolektif yang masih relevan dalam menghadapi ancaman bencana hari ini.
Sumatra Barat adalah ruang geografis yang akrab dengan guncangan, banjir bandang, letusan gunung api, dan tsunami.
Namun di balik luka sejarah, selalu ada ikhtiar masyarakat untuk bertahan dan beradaptasi.
Dari situlah lahir berbagai kearifan: pepatah yang mewanti-wanti kesiapsiagaan, ritual adat untuk menjaga harmoni, hingga arsitektur rumah gadang dan uma Mentawai yang adaptif dengan guncangan.
Riset ini kami bersongsong di empat kabupaten, yang mewakili dua poros besar budaya di Sumatra Barat: Minangkabau dan Mentawai.
Di Tanah Datar, mendengar kisah tentang rumah gadang sebagai benteng keluarga sekaligus simbol keseimbangan dengan alam, ritus-ritus yang dilapalkan demi harmonisasi dengan alam.
Sedangkan di Agam, memaknai hidup di kaki gunung, hidup di bawah isyarat nama, menelusuri memori bencana di Maninjau dan Tiku, menemukan bagaimana masyarakat menafsir tanda-tanda alam melalui doa, syair, dan larangan adat.
Limapuluh Kota, kami menyimak dengan seksama muasal nama nagari (toponimi) Maek, Taram, dan Talang Anau, dan sebuah strategi langkah mitigasi yang berpadu dengan tanda alam, dengungan batu purba, doa dan ritual.
Sementara di Kepulauan Mentawai, kami menyaksikan langsung bagaimana Arat Sabulungan, sistem kepercayaan tradisional menyimpan banyak pesan kebencanaan, dari tabu hingga ritual sikerei, serta pengetahuan membaca tanda alam yang diwariskan turun-temurun.
Perjalanan lapangan ini tidak selalu mulus. Dinamika dan tantangan kerap kami hadapi. Medan yang berat di pedalaman, keterbatasan akses transportasi menuju desa-desa di Mentawai, hingga kendala komunikasi antar generasi tentang tradisi yang mulai tergerus modernisasi, menjadi bagian dari pengalaman riset ini.
Namun begitu tantangannya ada satu hal penting: pengetahuan lokal tidak pernah benar-benar hilang.
Ia tersimpan dalam pepatah-petitih dan syair yang masih dilantunkan tetua, dalam doa yang masih dibisikkan di ladang, dalam tabu yang masih ditaati di hutan larangan, dan dalam toponimi yang merekam jejak bencana.
Apa yang kami temukan adalah mosaik yang berharga: ingatan yang berserak namun tetap hidup, meski kerap terabaikan oleh pendekatan modern.
Pengetahuan lokal itu bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi juga “pagar diri” bagi masyarakat menghadapi masa depan.
Di saat sains modern merancang sistem peringatan dini, masyarakat adat sudah lama punya alarm tradisional: mendengar gemuruh di hulu sungai, mengamati arah angin, membaca pola awan atau memaknai tanda di laut.
Buku ini tidak akan sampai pada bentuknya yang utuh tanpa kerja sunyi dan ketekunan para periset yang dengan sabar mengayak informasi dari berbagai lapisan pengetahuan, baik yang terdokumentasi maupun yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Sejauh ini Tim periset menganalisis, kepekaan metodologis, serta kesungguhan dalam menjaga integritas pengetahuan lokal agar tetap berpijak pada konteks sosial dan kulturalnya.
(emil/Kalibrasinews.com)



