Penuh Makna! Imlek Festival 2577 dan Ramadan Hadirkan Energi Persatuan Indonesia

JAKARTA, KalibrasiNews.com – Kemeriahan perayaan Imlek Festival 2577 yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, mencapai puncaknya pada malam ini, Sabtu (28/2/2026) kemarin.

Siaran pers (press release) Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, menyebutkan yang diterima Redaksi dan acara kali ini dihadiri ribuan warga, Minggu (1/3/2026).

Event Imlek Festival tersebut menjadi panggung akulturasi budaya yang luar biasa, memadukan tradisi Tionghoa dengan kekayaan budaya Nusantara dalam bingkai keberagaman yang harmonis.

Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya secara daring menyampaikan, Imlek Festival 2577 tahun ini yang bersamaan dengan Ramadan bukan hanya perayaan tradisi, tetapi juga momentum untuk memperkuat persaudaraan dan persatuan.

“Perayaan Imlek tahun ini memiliki makna yang sangat dalam. Imlek Festival 2577 hadir berdampingan dengan bulan suci Ramadan. Ini adalah wajah asli Indonesia. Berbeda tapi rukun, beragam, satu tujuan. Indonesia adalah bangsa besar yang tidak takut pada perbedaan. Bangsa besar justru merawat perbedaan sebagai kekuatan,” ujar Prabowo.

Senada dengan Presiden, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Ketua Umum Panitia Imlek Nasional 2577, Irene Umar menyampaikan bahwa Imlek Festival 2577 ini merupakan wujud nyata inklusivitas bangsa Indonesia.

“Inilah Indonesia. Kita ingin menunjukkan lewat Harmoni Imlek Festival 2577, bahwa Indonesia the most inclusive country in the world. Karena kita Indonesia Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi tetap satu,” kata Irene.

Pada acara yang sama, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar juga menambahkan bahwa Imlek Festival 2577 telah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa. Festival ini menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, lintas agama, dan lintas generasi.

“Melalui festival Imlek Festival, diharapkan dapat mempererat persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman, melestarikan nilai-nilai budaya luhur sebagai bagian dari identitas bangsa, menumbuhkan semangat toleransi, saling menghargai, dan gotong royong, serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami dan mencintai budaya Nusantara,” ucapnya.

Adapun sepanjang acara, pengunjung disuguhi parade pertunjukan yang memukau. Tidak hanya atraksi Barongsai dan Liong yang lincah, panggung utama juga bergetar oleh penampilan berbagai tarian tradisional Indonesia, menjadi simbol bahwa Imlek di Indonesia telah melebur menjadi identitas nasional yang inklusif.

Interaksi antarbudaya terlihat jelas saat penari dari berbagai latar belakang etnis tampil bergantian di acara puncak festival bertajuk ‘Harmoni Imlek Nusantara’, menciptakan suasana toleransi yang kental, terlebih perayaan Imlek tahun ini beriringan dengan suasana bulan suci Ramadan.

Suasana keberagaman begitu terasa saat prosesi pelepasan lotus oleh Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka, didampingi Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, serta perwakilan pemuka agama dari enam agama yang ada di Indonesia.

Secara bergantian, mereka melepaskan kelopak lotus bercahaya ke area kolam, yang melambangkan doa dan harapan baik bagi bangsa.

Tak lama berselang, langit Jakarta dihiasi Drone Light Show. Ratusan drone membentuk berbagai formasi yang sarat akan makna yang baik bagi masa depan Indonesia, mulai dari formasi lampion, berbagai ornamen Imlek seperti Kuda Api, hingga berbagai simbol persatuan Indonesia.

Imlek Festival 2577 merupakan inisiatif budaya yang bertujuan merayakan keberagaman Indonesia.

Melalui akulturasi budaya, festival ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan adalah kekayaan bangsa.

(Foto: Bakom RI)
Menteri Agama, Nasaruddin Umar

Sejarah Kerukunan Umat Beragama

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tingkat kerukunan antarumat beragama di Indonesia saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam sambutannya pada acara puncak Imlek Festival 2577 yang bertajuk Harmoni Imlek Nusantara di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

“Tahun 2025 tercatat dalam indeks bahwa tingkat kerukunan (umat beragama) Indonesia sepanjang sejarah bangsa mencapai puncaknya,” katanya.

Menurutnya, capaian tersebut terasa semakin bermakna karena perayaan Imlek tahun ini berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan.

“Lentera-lentera merah Imlek yang bercahaya, parade budaya, pasar UKM, serta berbagai pertunjukan akulturasi yang kita saksikan hari ini menjadi simbol indah bagaimana dua tradisi besar ini, Imlek dan Ramadan, dapat saling melengkapi dalam semangat kebersamaan. Di Indonesia yang kita cintai ini, Imlek telah menjadi bagian daripada kekayaan budaya dan bangsa,” ucap Nasaruddin.

Ia pun menekankan bahwa keberagaman bukan lah faktor pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan bangsa.

Festival yang diselenggarakan oleh pemerintah ini merupakan sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam merawat harmoni sosial dan memperkuat persaudaraan antarwarga.

Lebih lanjut, Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan perayaan Imlek sebagai momentum refleksi nilai-nilai kebajikan, rasa syukur, serta harapan akan masa depan yang lebih adil dan setara.

“Semoga menjadi momentum untuk semakin memperarat persatuan dan keadilan sosial, sehingga tidak ada lagi kemiskinan dan ketimpangan yang memisahkan kita, serta saling berbagi rezeki,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Nasaruddin mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2577 kepada masyarakat Tionghoa di seluruh Indonesia.

“Semoga cahaya lentera Imlek terus menyala sebagai simbol harapan, keberuntungan, dan kebahagiaan sekaligus menyatu dengan cahaya iman di bulan Ramadan,” tutupnya.

(/rel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini