Kisah Menginspirasi Pekerja Bertahan Menabung Emas di Tengah Tekanan Ekonomi

Oleh Busron Habib *)

BUKITTINGGI, Kalibrasinews.com – Menatap kemajuan zaman yang ditandai kecanggihan teknologi kiranya menyisakan segudang permasalahan bagi banyak pekerja. Satu yang mendapatkan imbas atas pesatnya kemajuan tersebut yakni sektor perekonomian yang juga dirasakan oleh pekerja.

Pada kesempatan ini, melalui berbagi tentang keseharian seorang warga bernama Saputra sebagai seorang pekerja, lalu membeberkan pengalaman kehidupannya. Saputra mengaku bahwa dirinya sebagai pekerja harus pintar serta juga pandai dalam mengelola keuangan untuk keluarganya.

Sejauh ini, penghasilan yang didapat dari bekerja sebagai pekerja biasanya terpakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal yang paling dasar, bahwa pengeluaran keuangan yang digunakan untuk makan dan membantu kebutuhan adiknya sebagai tanggungan seorang pekerja. Apabila dihitung secara keseluruhan maka pengeluaran Saputra bisa mencapai satu setengah juta rupiah perbulan.

Atas perkiraan kebutuhan ebulan yang fix itu, sebagai pekerja bisa habisnya sejuta untuk makan dan kebutuhan bulanan adik. Namun, nilainya belum termasuk belanja harian, kalau dihitung kasar bisa mencapai satu setengah juta,” ujar Saputra sebagai pekerja.

Utamanya, kondisi ekonomi masyarakat yang masih stagnan turut berdampak pada pekerja, jika melihat data data yang telah ada. Belakangan kurs dolar Amerika Serikat (US Dolar) terhadap mata uang rupiah (Indonesia) cukup kuat dan menjadi tantangan bagi pekerja, bahkan nilai rupiah mulai menyentuh sekitar Rp 17.000 lebih dibandingkan atas 1 Dolar AS.

Ia bertahan hidup sebagai pekerja dengan penghasilan yang terbatas di tengah naiknya harga kebutuhan pokok bulanan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Bagi sebagian pekerja, merasakan upah minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah agaknya sulit untuk didapatkan.

Sedangkan, standar yang diberikan pemerintah terkadang hanya tegas di dalam kertas, realitanya masih banyak pekerja yang merasakan nominal upah yang lebih rendah dari yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Lebih lanjut, hal ini tergambarkan oleh Saputra seorang pekerja di Perusahaan swasta yang telah bergelut selama kurang lebih tiga tahun, berumur 22 tahun dan tinggal Bersama keluarga.

Dalam keseharian Saputra menjalani kehidupannya, Saputra harus pintar-pintar dalam mengelola keuangan yang telah ia dapat dari bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar, ia mengakui bahwa pengeluaran tetapnya perbulan.

Di lain permasalahan, kondisi harga kebutuhan pokok yang semakin menaik menjadi permasalahan lain, Saputra mengakui bahwa kebutuhan dapur sehari-hari semakin mahal. Bahkan beliau juga sempat bercerita bahwa ibunya kerap kali mengeluhkan kebutuhan pokok.

Demikian pula untuk kebutuhan sekunder, Saputra memilih untuk menyesuaikan dengan kondisi keuangan yang nyata adanya. Karenanya, ia menyadari bahwa setiap orang memiliki target dalam dunia kerja dan kehidupan keseharian. yang tinggi.

Dalam hal tanggungan keuangan, Saputra mengakui ia tidak memiliki cicilan perbulan karena ia menghindari sistem kredit. Saputra menyadari keterbatasan dari upah yang telah didapat dan menghindari sistem kredit barang.

Upah Minimum

Tentang upah minimum, lantas Saputra secara tegas menyatakan bahwa penghasilannya relatif masih kurang. Lagi pula, dalam situasi kenaikan banyak harga barang kebutuhan pokok hingga mewah lainnya. Menurutnya bahwa upah minimum hanya bisa memenuhi kebutuhan paling mendasar secara pribadi. Sedangkan bagi, yang memiliki tanggungan istri maupun anak, maka upah tersebut jadi terasa relatif kurang.

“Jujur nggak cukup, kalau buat kebutuhan pribadi mungkin bisa, tapi saya masih tinggal bersama keluarga otomatis memiliki tanggungan lain, maka akan terasa sangat kurang, disitu beratnya” ujar Saputra. Ia juga menambahkan bahwa kondisi yang demikian terasa semakin sehingga perlu adanya dukungan finansial tambahan.

Terkait besaran gaji ideal, Saputra memiliki pandangan bahwa agak sulit untuk bisa menentukan nominal secara pasti. Pasalnya, setiap orang memiliki kebutuhan dan tanggungan yang berbeda. Ia berpendapat bahwa upah minimum saat ini hendaknya patut untuk dinaikkan secara signifkan guna sesuai dan realistis terhadap kebutuhan hidup.

Atas keterbatasan tersebut, Saputra mengaku masih berusaha menyisihkan sebagian penghasilan lewat menabung. Biasanya, ia menyisihkan dari gaji sebesar rata-rata Rp 400 ribu perbulan. Adapun alokasi sebagian gaji berupa tabungan emas. Alasannya, harga dari logam mulia ini cenderung naik setiap saat.

Sekilas kisah kehidupan dari Saputra memberikan gambaran atas segala yang terbatas sekaligus dengan upaya mengatasinya. Akhirnya, sepenggal kisah dari Saputra ini mewakili sebagian besar masyarakat yang memiliki situasi yang hampir sama. Pesannya, keputusan kecil dalam mengelola keuangan bakal menjadi sangat berarti.

*) Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini