JAKARTA, Kalibrasinews.com – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan bahwa realisasi yang masuk ke Indonesia pada Triwulan I 2026 diproyeksikan mencapai Rp 497 triliun atau naik 6,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut merupakan capaian positif di tengah dinamika global.
“Kita masih menunggu sampai tanggal 15 (untuk perhitungan pasti realisasi investasi). Tapi dengan perkembangan ini, Insyaallah target yang dicanangkan oleh pemerintah pada 3 bulan pertama ini, bisa kami capai yaitu sebesar Rp 497 triliun. Berarti tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Siaran pers (press release) yang diterima redaksi kemarin menyebutkan realisasi investasi sebesar Rp 497 triliun pada Kuartal I 2026 itu menciptakan sekitar 627 ribu lapangan kerja baru.
Sebagai pembanding, realisasi investasi pada Kuartal I 2025 sebesar Rp 465 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 594 ribu.
“Penyerapan terhadap kerja diperkirakan mencapai 627 ribu orang atau naik sekitar 5,5 persen (secara tahunan),” ujar Rosan.
Rosan menambahkan, program hilirisasi yang digenjot pemerintah menjadi salah satu penyumbang utama tingginya realisasi investasi.
Selain itu, peningkatan realisasi investasi pada awal tahun ini juga mencerminkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang.
Konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas kebijakan serta mendorong reformasi struktural dinilai menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan global.
Tidak hanya itu, berbagai insentif yang diberikan kepada investor, termasuk kemudahan perizinan dan dukungan terhadap pengembangan kawasan industri, turut memperkuat daya tarik investasi di berbagai sektor strategis.
“Program prioritas yang meliputi berbagai kebijakan, terutama memang kalau kita lihat hilirisasi, masih menjadi salah satu kontributor yang besar. Kurang lebih 30 persen dari seluruh investasi yang ada dan yang masuk ke Indonesia,” ia menerangkan.
Investasi ke bidang industri logam dasar pada Januari-Maret 2026 mencapai Rp 67 triliun, terbesar di antara bidang lainnya.
Diikuti oleh transportasi, gudang, dan logistik sebesar Rp 54 triliun. Kemudian pertambangan Rp 51 triliun, jasa lainnya (pusat data dan lain-lain) Rp 43 triliun, perumahan dan kawasan Rp 36 triliun.
Kota Jakarta menjadi tujuan investasi terbesar dengan realisasi mencapai Rp 74 triliun, kemudian Jawa Barat Rp 72 triliun, Jawa Timur Rp 38 triliun, Sulawesi Tengah Rp 34 triliun, Banten Rp 33 triliun.
Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara-negara terbesar untuk penanaman modal asing di Indonesia di Januari-Maret 2026.
Di sisi lain, masuknya investasi dari berbagai negara tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan utama penanaman modal di kawasan Asia Tenggara.
Diversifikasi sumber investasi menjadi hal penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Dengan komposisi investor yang beragam, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas jaringan perdagangan internasional.
“Negara-negaranya (penanaman modal asing) masih didominasi seperti Singapura, kemudian China, kemudian Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan yang lain-lainnya,” ungkap Rosan.
Indonesia di Pusaran Konflik Geopolitik
Rosan menyampaikan bahwa sejumlah investor kini mulai melirik Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik seiring meningkatnya eskalasi geopolitik global.
Menurutnya, para investor menilai Indonesia memiliki daya tarik utama berupa stabilitas politik dan keamanan.
“Mereka melihat Indonesia menjadi lebih menarik lagi karena salah satu kekuatan kita, kita selalu bisa menjaga kedamaian dan stabilitas. Jadi stabilitas, baik itu stabilitas secara politik maupun keamanan, dan juga iklim investasi yang terjaga dengan baik,” ujar Rosan.
Rosan juga menyinggung bahwa meningkatnya minat investor asing ke Indonesia tidak terlepas dari upaya diplomasi ekonomi yang dijalankan Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam sejumlah kunjungan kenegaraan, seperti ke Korea Selatan dan Jepang baru-baru ini, Rosan menyebut Prabowo selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan pelaku bisnis setempat.
Dalam forum tersebut, Prabowo disebutnya selalu terbuka terhadap berbagai pertanyaan dan menjelaskan secara transparan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
“Ini sangat membantu memberikan keyakinan kepada investor bahwa Bapak Presiden itu sangat memahami, sangat juga menguasai keadaan geopolitik dan juga perekonomian di Indonesia, serta langkah-langkah apa yang kita sudah ambil,” tutupnya.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus menjaga momentum positif ini dengan memastikan realisasi ini berjalan merata di seluruh wilayah, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa.
Pemerataan investasi dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.
(/rel)



